Archives

All posts for the month December, 2012

INDEKS PERBANDINGAN SEKUENSIAL KEANEKARAGAMAN BENTOS DI EKOSISTEM PERAIRAN

Published December 7, 2012 by mineminecute

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Ekosistem perairan pesisir di Indonesia merupakan kawasan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian cukup besar dalam berbagai kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan di Indonesia.  Wilayah ini kaya dan memiliki beragam sumber daya alam yang telah dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan utama, khususnya protein hewani.  Dahuri (2002), meyatakan bahwa secara empiris wilayah pesisir merupakan tempat aktivitas ekonomi yang mencakup perikanan laut dan pesisir, transportasi dan pelabuhan, pertambangan, kawasan industri, agribisnis dan agroindustri, rekreasi dan pariwisata serta kawasan pemukiman dan tempat pembuangan limbah (Resosoedarmo, 1993).

Penggunaan bentos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi.  Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar.  Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak tercemar.  Kemudian oleh para ahli biologi perairan, pengetahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan (Resosoedarmo, 1993).

Percobaan ini dilakukan untuk memberikan gambaran tentang pemanfaatan bentos sebagai indikator kualitas perairan, khususnya pada wilayah danau Universitas Hasanuddin.  Adapun hal-hal yang dikemukakan meliputi pengertian bentos, faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan bentos, pemanfaatan bentos sebagai indikator kualitas perairan pesisir, dan spesies indikator.

 

I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah:

  1. Untuk mengetahui indeks keanekaragaman hewan bentos yang ada di danau Universitas Hasanuddin dengan menggunakan indeks perbandingan sekuensial.
  2. Mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan keragaman bentos dalam perairan.

 

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan Indeks Perbandingan Sekuensial Keanekaragaman Bentos di Ekosistem Perairan dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 22 Maret 2011 pukul 14.30 WITA bertempat di Laboratrorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 22 Maret 2011 pukul 11.00 WITA bertempat di sekitar danau Universitas Hasanuddin depan mesjid kampus Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Ekosistem merupakan suatu sistem di alam dimana terdapat hubungan timbal balik antar organisme dengan organisme lainnya, juga dengan linkungannya. Ekosistem sifatnya tidak tergantung ukuran tetapi ditekankan pada kelangkapan komponennya (Umar, 2009).

Berdasarkan atas habitatnya, ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat (terrestrial) dan ekosistem perairan (akuatik). Di dalam suatu ekosistem perairan, kita dapat menganal komponen-komponennya berdasarkan cara hidupnya yaitu, bentos, perifiton, plankton, nekton, dan neuston. Salah satu komponen yang memiliki variasi organisme cukup banyak dalam suatu perairan adalah bentos (Umar, 2009).

Cairns et al pada tahun 1971 mengembangkan suatu metode yang sederhana, tetapi cukup baik untuk mengestimasi keanekaragaman biologis secara relatif, yang disebut” Squential Comparison Index” atau disingkat dengan S.C.I (Persoone & De Pauw, 1978). Indeks keanekaragaman ini dalam bahasa Indonesia disebut Indeks Perbandingan Sekuensial (I.P.S). Menurut ahli tersebut di atas bahwa indeks ini dapat memenuhi keperluan untuk menilai secara cepat akibat adanya pencemaran terhadap ekosistem, misalnya sungai, kolam, danau, dan laut. Cara ini tidak memerlukan keterampilan untuk mengidentifikasi hewan-hewan dalam komunitas, sehingga dapat menghemat waktu dan pekerjaan (Umar, 2009).

Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya.  Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. Karena hewan bentos terus menerus terdesak oleh air yang kualitasnya berubah-ubah. Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro.  Kelompok ini lebih dikenal dengan bentos (Odum, 1993).

Bentos sering dijadikan uji parameter terhadap permasalahan lingkungan seperti pencemaran, sebab jenis biota laut tersebut hidup di dasar laut dan cenderung sangat lambat pergerakannya dibandingkan jenis lainnya seperti ikan. Disamping itu bentos sangat sensitif dan peka terhadap suatu perubahan dalam air (Odum, 1993).

Bentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.  Montagna menyatakan bahwa dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi (Sumarwoto, 1980).

Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.  Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos.  Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar (Sumarwoto, 1980).

Berdasarkan kebiasaan hidup organisme dbedakan sebagai berikut (Sumarwoto, 1980):

  1. Plankton adalah organisme yang biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerakan aliran air.
  2.    Nekton adalah hewan yang aktif berenang dalam air. Misalnya, ikan.
    1. Neuston adalah organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air.
    2. Perifiton adalah tumbuhan atau hewan yang melekat atau bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
    3. Bentos adalah hewan atau tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat melekat atau bergerak bebas, misalnya cacing.

Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu unsur-unsur penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang membentuk suatu rantai makanan di dalam perairan tersebut.   Faktor lainnya yang menentukan keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di dalamnya baik yang bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang ideal pula dan membawa pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam perairan tersebut (Resosoedarmo, 1993).

Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar.  Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif bagi organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut. Bentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan bentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik.  Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan (Setiadi, 1989).

Struktur komunitas bentos dipengaruhi berbagai faktor lingkungan abiotik dan biotik. Secara biologis, diantaranya interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas. Sedangkan secara abiotik, faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan bentos adalah faktor fisika-kimia lingkungan perairan, diantaranya (Setiadi, 1989):

  1. Penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap suhu air.
  2. Substrat dasar, kandungan unsur kimia seperti oksigen terlarut dan kandungan ion hidrogen (pH).
  3. Nutrien.

Cahaya matahari merupakan sumber panas yang utama di perairan, karena cahaya matahari yang diserap oleh badan air akan menghasilkan panas di perairan Di perairan yang dalam, penetrasi cahaya matahari tidak sampai ke dasar, karena itu suhu air di dasar perairan yang dalam lebih rendah dibandingkan dengan suhu air di dasar perairan dangkal.  Suhu air merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas serta memacu atau menghambat perkembangbiakan organisme perairan.  Pada umumnya peningkatan suhu air sampai skala tertentu akan mempercepat perkembangbiakan organisme perairan (Odum, 1993).

Kedalaman air mempengaruhi kelimpahan dan distribusi bentos.  Dasar perairan yang kedalaman airnya berbeda akan dihuni oleh bentos yang berbeda pula, sehingga terjadi stratifikasi komunitas menurut kedalaman.  Pada perairan yang lebih dalam bentos mendapat tekanan fisiologis dan hidrostatis yang lebih besar.  Karena itu bentos yang hidup di perairan yang dalam ini tidak banyak (Setiadi, 1989).

Berbagai jenis bentos ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang berperan sebagai konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat yang lebih tinggi.  Pada umumnya, bentos merupakan makanan alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar (“bottom feeder”) (Setiadi, 1989).

Untuk mendapatkan data kuantitatif maupun kualitatif, mengenai jenis-jenis hewan yang hidup dalam suatu perairan, hewan tersebut dapat ditangkap dengan menggunakan berbagai kombinasi berbagai macam cara. Mulai dari penangkapan dengan tangan, pinset, jala maupun alat-alat lainnya. Dalam praktikum ini akan dilakukan pengamblan cuplikan bentos untuk tujuan studi kuantitatif dengan menggunakann alat pengeruk yang disebut Eickman Crab (Umar, 2009).

Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.  Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos.  Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya (Lakitan, 1987):

  • Suhu
  •  Arus
  • Oksigen terlarut (DO)
  •  Kebutuhan oksigen biologi (BOD)
  •  Kimia (COD)
  •  Kandungan nitrogen (N)
  •  Kedalaman air
  •  Substrat dasar

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan, serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan. Zoobentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik (Odum, 1993).

Zona litoral memperlihatkan keanekaragaman yang besar dalam kondisi dasar air. Secara beragam, wilayah dibagi lagi berdasarkan hubungan air atau zone pertimbuhan. Biasanya daerah pinggiran atau tepi air sampai batas akar tumbuhan dianggap sebagai zone litoral. Daerah yang memanjang dari batas terendah akar tumbuhan sampai batas penyusupan sinar matahari dikenal sebagai zone sublitoral. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang besar mengenai pendapat dalam pengkelasan zone besar. Setiap zone dalam wilayah litoral memerlukan cara penelitian yang khas dengan menggunakan peralatan yang cocok. Berbagai pengambilan sampel telah dirancang atau dibuat tergantung pada sumber (Lakitan, 1987).

 

 

BAB III

METODEPERCOBAAN

 

III.1     Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah eickman crab, ayakan (mess), nampan, gelas plastik, pinset.

 

III.2     Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bentos dan air.

 

 

III.3     Cara Kerja

Cara kerja pada percobaan ini adalah :

v  Pengambilan sampel dengan menggunakan Eickman Crab :

  1. Di buka kedua belahan pengeruk Eickman Crab hingga menganga dan mengaitkan kawat penahannya pada tempat kaitan yang terdapat pada bagian atas alat tersebut.
  2. Dimasukkan pengeruk secara vertikal dan perlahan-lahan kedalam air hingga menyentuh dasar perairan.
  3. Dijatuhkan logam pembeban sepanjang tali pemegangnnya sehingga kedua belahan Eickman Crab akan menutup, dan lumpur serta hewan yang terdapat di dasar perairan akan terhimpun dalam kerukan.
  4. Ditarik secara berlahan-lahan Eickman Crab ke atas dan menumpahkan isinya ke dalam wadah yang tersedia.
  5. Diayak sampel sambil disiram air sehingga lumpur dan sampah-sampah di buang. Memilih bentos yang di jumpai dan memasukkannya ke dalam botol. Memberi label pada masing-masing botol.
  6. Diambil sampel dan dituangkan ke dalam wadah dan mengambil satu persatu secara acak dan meletakkannya pada wadah yang lain sabil diurutkan.
    1. Dibandingkan sampel yang diurutkan mulai pada nomor 1 dengan nomor 2, nomor 2 dengan nomor 3 dan seterusnya, kemudian dilihat apakah sejenis apa tidak.
    2. Dilakukan pengamatan. Jenis yang dianggap sama diberi kode yang sama dan berarti tergolong se ”RUN”. tidak memperdulikan jenis apapun, asal serangkai sampel tadi dianggap sama.
    3. Dilakukan pengamatan sampai semua sampel habis, dicatat data dan dilakukan perhitungan indeks keanekaragaman bentos dengan menggunakan rumus indeks perbandingan sekuensial.

 

v  Pengambilan sampel dengan menggunakan ayakan (Mess) :

  1. Diambil lumpur yang berada pada dasar air dengan menggunakan ayakan.
  2. Diangkat secara perlahan lalu bersihkan dengan menggunakan air (masih tetap menggunakan ayakan).
  3. Dilakukan langkah 1 dan 2 pada lokasi yag berbeda.
  4. Dipindahkan bentos yang telah di ayak pada baki pelastik yang telah disediakan.
  5. Dipilih bentos yang akan di uji, kemudian masukkan kedalam botol sampel.
    1. Diambil sampel dan dituangkan ke dalam wadah dan mengambil satu persatu secara acak dan meletakkannya pada wadah yang lain sabil diurutkan.
    2. Dibandingkan sampel yang diurutkan mulai pada nomor 1 dengan nomor 2, nomor 2 dengan nomor 3 dan seterusnya, kemudian dilihat apakah sejenis apa tidak.
    3. Dilakukan pengamatan. Jenis yang dianggap sama diberi kode yang sama dan berarti tergolong se ”RUN”. tidak memperdulikan jenis apapun, asal serangkai sampel tadi dianggap sama.
    4. Dilakukan pengamatan sampai semua sampel habis, dicatat data dan dilakukan perhitungan indeks keanekaragaman bentos dengan menggunakan rumus indeks perbandingan sekuensial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lakitan, B. 1987.Bentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Pesisir. PT Raja   Grafindo Persada. Jakarta

Odum, Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

 

Setiadi, Agus. 1989. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

 

Umar, M. Ruslan. 2009. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Sumarwono. 1980. Ekologi Perairan. Universitas Padjajaran. Bandung.

Resosoedarmo. 1993. Polusi Domestik dan Kualitas Air. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

 

HUBUNGAN PRODUSEN DAN KONSUMEN DALAM SIKLUS KARBON DI PERAIRAN

Published December 7, 2012 by mineminecute

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Karbon merupakan unsur penyusun semua senyawa organik, dan salah satu zat yang sangat penting atau dipelukan makhluk hidup, selain oksigen, air dan nitrogen. Di alam karbon tersedia dalam bentuk gas dan dapat dimamfaatkan  oleh tumbuhan melaui proses fotosintesis. Bahkan karbon banyak ditemui pada endapan dan di dalam air. Di atmosfer, unsur ini merupakan suatu komponen yang besar (kurang lebih 0,03 %) di banding dengan unsur lain, kecuali nitrogen dan oksigen. Di atmosfer, karbon biasanya bersentawa dengan oksigen. Dan dari atmosfer dan sedimen, karbon masuk ke tubuh organisme secara kimia. Energi yang tersimpan pada tumbuhan terbentuk karena fiksasi karbondioksida pada peristiwa fotosintesis (Prawirohartono, 2001).

Salah satu untuk melihat hubungan produsen dan konsumen dalam pemakaian dan poduksi karbon dalam air dapat dilakukan dengan uji bromtimol biru. Bromtimol biru merupakan suatu larutan indicator yang berwana biru dalam larutan basa dan kuning dalam larutan asam. Gas karbondioksida akan membentuk asam jika dilarutkan dalam air. Perubahan warna pada perlakuan disebabkan oleh perubahan kandungan karbondioksida yang ada dalam air. Kadar karbondioksida akan berkurang apabila terjadi proses fotosintesis oleh tumbuhan. Sebaliknya kadar karbondioksida akan meningkat kalau terjadi proses respirasi. Pentingnya mempelajari siklus karbon khususnya pada ekosistem perairan yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah:

  1. Untuk mempelajari hubungan keterkaitan antara produsen dan konsumen di dalam siklus karbon pada ekosistem perairan.
  2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan peralatan sederhana untuk melihat hubungan antara produsen dan konsumen di ekosistem.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan Hubungan Produsen Dan Konsumen Dalam Siklus Karbon Di Perairan dilakukan pada hari Selasa, tanggal 29 Maret 2011 pukul 13.00 WITA, bertempat di Laboratrorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan dilakukan pengamatan selama 5 hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Karbon di alam umumnya dalam bentuk gas dan batuan karbonat, di samping itu juga dalam bentuk bahan organik, yang dapat dimamfaatkan oleh tumbuhan, melalui proses fotosintesis yang akan diubah menjadi senyawa organik yang dapat dipergunakan oleh organisme lainnya, sebagai pemberi karbon dan karbon akan kembali lagi ke atmosfer atau ai sebagai CO2 melalui suatu proses metabolisme. Unsur kabon mempunyai kemampuan saling mengikat antar sesamanya sehingga merupakan dasar untuk terbentuknya keragaman dan ukuran molekuler dan tanpa ini kehidupan tidap dapat ada. Produsen darat mendapatkan CO2 dari atmosfer, sedangkan produsen dalam air mamamfaatkan CO2 yang terlarut (sebagai bikarbonat dan HCO3). Kelarutan karbondioksida dalam air berbeda dengan oksigen, karena gas ini bereaksi secara kimiawi dalam air. Salah satu contohnya adalah apabila di dalam air laut karbondioksida bereaksi dengan air menghasilkan asam karbonat, yang kemudian terdisiosiasi lagi menjadi ion hidrogen dan karbonat. Konsentrasi CO2 yang tinggi pula akan mempengaruhi tumbuhan dalam mengabsorbsi air dan unsua hara (Umar, 2010).

Sebagai akibat reaksi di atas ialah terjadinya produksi atau absorbsi hidrogen bebas, sehingga jumlah hidrogen dalam suatu larutan merupakan tolak ukur keasaman. Lebih banyak ion H+ berarti lebih asam suatu larutan danlebih sedikit H+ berarti lebih basa, dengan kata lain larutan basa lebih banyak mengandung ion OH. Sebagai akibat reaksi ialah terjadinya produksi atau absorbsi hidrogen bebas, sehingga jumlah hidrogen dalam suatu larutan merupakan tolok ukur keasaman (Prawirohartono, 2001).

Didalam pengetian siklus karbon adalah peredaran unsur karbon itu sendiri di udara maupun di dalam tanah. Siklus karbon ini merupakan suatu siklus sempurna dalam arti kata bahwa karbon itu dikembalikan ke lingkungannya secepat karbon itu meninggalkannya. Peredaran dasarnya adalah dari sumber di udara ke produsen, ke konsumen kemudian dari keduanya ke dekomposer dan selanjutnya kembali kesumbernya lagi. Karbon harus dalam bentuk gas (CO2) untuk dapat dipergunakan oleh tumbuhan. Tidak kurang dari 9×10 kg karbon difiksasi tiap tahun dalam atau melalui proses fotosintesis ini diubah menjadi gula diman unsur C itu terangkai dalam rumus C6H12O6 atau senyawa organik lain. Sebagai sumber bahan makanan di dalam tubuh produsen tiap saat di mamfaatkan kembali pada proses respirasi tumbuh-tumbuhan dan konsumen (herbivora) dan dikeluarkan ke udara. Disamping itu, pengembalian yang cukup berarti diberikan oleh hasil kegiatan dari respirasi organisme pembusuk dan pengurai yang akan menghasilkan CH4 sebagai wujud gas (Tim Dosen Unhas, 2007).

Peningkatan persediaan karbondioksida yang cukup besar meningkatkan fotosintesis. Sebagian karbondioksida yang lepas oleh penggunaan bahan bakar, mungkin menaikkan produktifitas primer seluruh dunia. Tempat penghimpun lain yang mungkin untuk produksi karbondioksida adalah laut. Karbondioksida di udara segera bertukar dengan karbondioksida yang terlarut dalam laut. Daur karbon yang terlarut ini berimbang dengan endapan karbonat di laut. Jika lebih banyak karbondioksida ditambahkan ke dalam air laut, kelebihannya dipresipitasikan sebagai karbonat seperti batu karang dan batu kapur (CaCO3). Jadi endapan laut merupakan reservoir karbon yang sangat besar dan suatu penyangga yang membantu menekan serendah-rendahnya perubahan konsentrasi karbondioksida di air (Prawirohartono, 2001).

Selama transfer energi di dalam konsumsi makanan berupa karbohidrat dan lemak, pergerakan karbon menuju ekosistem bersama dengan aliran energi. Sumber kabon untuk organisme hidup ialah CO2 yang ditemukan baik dalam keadaan bebas di atmosfer maupun terlarut di dalam air dan di lapisan membentuk karbohidrat pada fotosintesis. Demikian juga lemak dan polisakarida dibentuk oleh tumbuh-tumbuhan yang akan digunakan oleh hewan herbivora. Kanivora pemakan herbivora mengubah senyawa karbon menjadi bentuk lain. Karbon dilepaskan ke atmosfer secara langsung berupa CO2 dari respirasi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Bakteri dan jamur memecah senyawa organik kompleks dari sisa tumbuh-tumbuhan dan binatang mati menjadi senyawa sederhana yang akan berfungsi untuk siklus lain. Karbon organik juga terdapat pada kerak bumi berupa batu bara, gas alam, minyak, batu kapur dan karang. Karbon defosit ini akan dibebaskan setelah periode waktu yang lama (Soendjojo, 1990).

Organisme hidup dapat dibagi menjadi dua golongan utama menurut bentuk energi kimia karbon yang diperlukan dari lingkungannya. Organisme autotrof dapat mempergunakan karbondioksida dari atmosfer sebagai satu-satunya sumber karbon untuk membangun semua biomolekul yang mengandung karbon. Contohnya adalah baktei fotosintetik dan sel hijau daun tumbuhan. Organisme heterotrof tidak mempergunakan karbondioksida dari atmosfer dan harus memperoleh karbon dari lingkungan dalam bentuk molekul organik yang relatif kompleks, seperti glukosa. Hewan dan hampir semua mikroorganisme adalah organisme heterotrof. Organisme autotrof bersifat dapat mencukupi diri sendiri, sedangkan organisme heterotrof memerlukan karbon dalam bentuk yang lebih kompleks yang dibentuk dari organisme lain untuk melakukan proses metabolisme (Lehninger, 1991).

Senyawa organik yang paling sederhana, terbentuk dari dua elemen yakni hidrogen dan karbon.Senyawa hidrokarbon ini selain terdapat luas di alam juga dpt dibuat (disinteis) di laboratorium.Secara umum senyawa hidrokarbon ini terbagi atas tiga kelompok utama yaitu; hidrokarbon jenuh (saturated), tak jenuh (unsaturated) dan aromatik. Pembagian ini didasarkan atas pada jenis ikatan antara karbon karbon.Hidrokarbon jenuh hanya mengandung ikatan ikatan tunggal karbon-karbon,hidrokarbon jenuh mengandung karbon-karbon ganda dua atau ganda tiga, sedangkan hidrokarbon aromatik adalah kelompok senyawa siklik tak jenuh namun sifatnya berbeda dengan alkena. Sifat dari senyawa ini umumnya dicirikan oleh benzena (Lehninger, 1991).

Karbon di alam selain dalam bentuk bahan organik, umumnya dalam bentuk gas dan batuan karbonat yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Karbon melalui proses fotosintesis tumbuhan akan diubah menjadi senyawa organik yang dapat dipergunakan oleh organisme lainnya. Tumbuhan sebagai pemakai utama karbon akan memanfaatkannya melalui proses siklus materi karbon dan akan kembali lagi ke atmosfer atau air sebagai karbon dioksida sebagai hasil suatu proses metabolisme (Umar, 2010).

Konsentrasi karbon dioksida yang tinggi akan mempengaruhi tumbuhan dalam mengabsorbsi air dan unsur hara. Unsur karbon mempunyai kemampuan saling mengikat antar sesamanya yang merupakan dasar untuk terbentuknya keragaman dan ukuran molekuler, sehingga tanpa proses ini kehidupan tidak akan ada (Umar, 2010).

Salah satu cara untuk melihat hubungan produsen dan konsumen dalam pemakaian dan produksi karbon dalam air dapat dilakukan dengan Uji Bromtimol Biru. Bromtimol Biru merupakan suatu larutan indikator yang berwarna biru dalam larutan basa dan kuning dalam larutan asam. Gas karbon dioksida akan membentuk asam jika dilarutkan dalam air. Perubahan warna pada perlakuan disebabkan oleh perubahan kandungan karbon dioksida yang ada dalam air. Kadar karbon dioksida akan berkurang apabila terjadi proses fotosintesis oleh tumbuhan. Sebaliknya kadar karbon dioksida akan meningkat kalau terjadi proses respirasi (Umar, 2010).

Karbon dioksida sebagai salah satu gas rumah kaca yang memerangkap panas matahari dalam bentuk radiasi infra merah gelombang panjang yang seharusnya terpantul ke angkasa luar. Karbondioksida menahan panas tersebut di dalam atmosfer bumi sehingga menyebabkan bumi semakin hangat dan berubah menjadi lebih panas. Pemanasan akibat terperangkapnya panas matahari oleh karbondioksida menyebabkan mencairnya es yang seharusnya memantulkan radiasi panas matahari ke luar angkasa (Lehninger, 1991).

Proses di alam sudah tertata rapi. Setiap tahap dari suatu proses seluruhnya berjalan dengan peranan tertentu yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup mahluk di alam. Tetapi manusia sering kali menciptakan suatu proses baru, dengan alasan untuk kesejahteraannya yang malah menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan proses alam, sampai akhirnya menimbulkan bencana. Mari kita simak sebuah contoh, suatu proses yang terjadi di alam, yaitu siklus karbon (Prawirohartono, 2001).

Siklus karbon melibatkan seluruh lingkungan yang ada di alam semesta, meliputi atmosfer, biosfer, hidrosfer dan geosfer. Karena itu, siklus karbon disebut sebagai siklus biogeochemical. Pada setiap lingkungan dan antara lingkungan terjadi pertukaran karbon.Karbon berpindah dari lingkungan atmosfer ke biosfer sebagai gas karbondioksida. Gas karbondioksida digunakan tumbuhan untuk berfotosintesis. Karbon memasuki lingkungan atmosfer dari lingkungan bisofer juga sebagai gas karbondioksida. Gas karbondioksida dilepaskan ke atmosfer dari hasil pernafasan mahluk hidup, hasil pembusukan/fermentasi oleh bakteri/jamur dan hasil pembakaran senyawa-senyawa organik.Selain petukaran karbon dari lingkungan atmosfer ke biosfer atau sebaliknya, karbon dipertukarkan dalam lingkungan bisofer melalui rantai makanan. Pertukaran karbon pun terjadi dari lingkungan biosfer ke geosfer. Cangkang hewan-hewan lunak pada umumnya mengandung karbonat. Karbonat kemudian diubah menjadi batu kapur melalui suatu proses yang disebut sedimentasi. Sedangkan perpindahan karbon dari lingkungan geosfer ke lingkungan atmosfer terjadi melalui hasil reaksi batu kapur dan erupsi gunung merapi (Prawirohartono, 2001).

Perpindahan karbon sebagai gas karbondioksida dari lingkungan atmosfer ke hidrosfer, atau sebaliknya terjadi untuk menyeimbangkan pH air laut, melalui reaksi kesetimbangan:

CO2 + H2O               H2CO3

Sekitar 2 x 1016 karbon sebagai karbonat, batu bara dan minyak, sedangkan 2,5 x 1012 ton karbon sebagai karbondiokasida. Setiap tahunnya kemampuan tumbuhan untuk menyerap gas karbondioksida dari atomosfer hanya 15%. Dilain pihak, gas karbondioksida di atmosfer terus meningkat sejalan dengan perkembangan sarana transportasi dan industri. Perkembangan industri bukannya diiringi dengan penambahan kawasan yang dapat menyerap karbondioksida (misalnya tumbuhan) (Tim Dosen Unhas, 2007).

 

 

BAB III

METODEPERCOBAAN

 

III.1     Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu botol sampel, pipet tetes.

III.2     Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan Methylen Blue, siput Lymnea sp, Hydrilla Hydrilla verticillata, plastik, air, karet gelang.

III.3     Cara Kerja

Cara kerja percobaan ini adalah :

  1. Disiapakan 2 seri percobaan A dan B yang masing-masing terdiri atas 4 botol sampel. Diberikan label pada setiap perlakuan dengan kode A1, A2, A3 dan A4 serta B1, B2, B3 dan B4.
  2. Setiap botol sampel diisi dengan air secukupnya, yang sebelumnya telah diukur PH air yang akan digunakan.
  3.  Ditambahkan setetes Bromtimol Biru kedalam setiap botol sampel kemudian dikocok.
  4.  Siput dimasukkan ke dalam botol perlakuan A1 dan B1, siput dan Hydrilla verticillata dalam botol A2 dan B2, Hydrilla verticillata kedalam botol A3 dan B3 serta A4 dan B4 sebagai kontrol (tanpa perlakuan).
  5. Semua botol sampel ditutup rapat-rapat, jangan sampai bocor.
  6. Kelompok A1-A4 pada ditempatkan di tempat terang dan kelompok B1-B4 di kamar gelap.
  7. Percobaan tersebut diamati dengan interval waktu setiap 24 jam selama 3 hari. Setiap kali mengamati dicatat perubahan warna air dan keadaan organismenya. Kemudian ditukarkan kelompok B1-B4 pada tempat terang dan kelompok A1-A4 pada tempat gelap.
  8. Diamati kembali dengan interval waktu 24 jam, selama 2 hari dan pada hari terakhir. Dicatat perubahan warna yang terjadi.
  9. Data hasil pengamatan dibuat dan disimpulkan data yang diperoleh.
  10.  Kelompok A1-A4 ditempatkan pada tempat terang dan kelompok B1-B4 pada kamar gelap.
  11.  Percobaan tersebut diamati dengan interval waktu setiap 24 jam selam 3 hari. Setiap kali pengamatan dicatat perubahan warna air dan keadaan orgnismenya. Pada hari yang ketiga diukur pH air kembali. Kemudian dilakukan pertukaran kelompok B1-B4 pada tempat terang dan kelompok A1-A4 pada tempat gelap.
  12.  Dengan interval waktu 24 jam diamati kembali, selama 2 hari dan pada hari terakhir. Perubahan warna yang terjadi dicatat, serta ukur pula kembali pH air sampel.
  13.  Data hasil pengamatan dibuat.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lehninger. 1991. Biologi Dasar.  Erlangga.  Jakarta.

Prawirohartono, S. 2001. Siklus Karbon. Bumi Aksara. Jakarta.

Soendjojo, D. 1990. Ekologi Lanjutan. Universitas Terbuka. Jakarta.

Tim Dosen Biologi Dasar. 2007. Biologi Dasar II. Universitas Hasanuddin. Makssar.

Umar, M. Ruslan. 2010. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin. Makassar.           

 

 

 

kelembaban relatif udara

Published December 7, 2012 by mineminecute

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Kelembaban merupakan salah satu faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap aktifitas organisme di alam. Kelembaban merupakan jumlah uap air di udara, sedangkan kelembaban mutlak adalah sejumlah uap air dalam udara yang dinyatakan sebagai berat per satuan udara (misalnya gram per kilogram udara). Jumlah upa air yang terdapat di udara (pada kejenuhan tertentu) dipengaruhi oleh temperature dan tekanan, sehingga kelembaban nisbi adalah persentase uap air sebenarnya ada dibandingkan dengan kejenuhan di bawah temperature dan tekanan tertentu. Kelembaban merupakan salah satu faktor ekologis yang mempengaruhi aktifitas organisme seperti penyebaran, keragaman harian, keragaman vertical dan horizontal. Kelembaban relatif dapat dihitung dengan menggunakan berbagai metode dan instrumen. Ini adalah perhitungan untuk mengetahui berapa gram uap air dapat diadakan pada suhu tertentu. Biasanya udara, hangat, kapasitas yang semakin tinggi untuk menahan uap air. Setiap suhu tertentu memiliki batas memegang air, dan jumlah aktual air diselenggarakan di udara pada saat pengukuran dapat direpresentasikan dalam persentase (Umar, 2010).

Irama harian kelembaban sangat bervariasi, tinggi pada malam hari dan rendah pada siang hari, juga adanya perbedaan horizontal dan vertikal. Kelembaban sejalan dengan temperatur dan sinar matahari mempunyai peranan penting dalam mengatur aktifitas organisme dan dalam membatasi penyebarannya (Umar, 2010).

Untuk mengetahui bagaimana perbedaan kelembaban relative udara pada tempat/lokasi yang berbeda serta untuk melatih para mahasiswa dalam menggunakan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban relatif udara, maka dilakukanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah :

  1. Mengetahui perbedaan kelembaban relatif udara pada tempat / lokasi yang berbeda.
  2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban udara relative.

 

I.3   Waktu dan Tempat Percobaan

 

Percobaan Kelembaban Relatif Udara Pada Tempat Berbeda dilakukan pada hari Selasa, 22 Maret 2011, pada pukul 14.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengambilan data dilakukan di dalam ruangan, di bawah pohon, dan di pelataran MIPA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Jumlah uap air yang ada dalam udara diacu sebagai kelembaban. Bobot sebenarnya uap air yang ada dalam satuan bobot udara dinyatakan sebagai kelembaban mutlak. Karena suhu dan tekanan mempengaruhi kelembaban, maka biasanya diukur sebagai kelembaban relatif. Kelembaban relatif adalah persentase uap air sebenarnya ada dibandingkan dengan kadar kejenuhan dalam suhu dan tekanan yang sedang ada (Michael, 1994).

Kelembaban adalah faktor ekologis yang penting mempengaruhi aktifitas organisme dan membatasi penyebarannya dengan keragaman harian, serta keragaman tegak dan mendatar. Kandungan uap air itu sendiri atau bersama-sama dengan suhu merupakan faktor yang sangat penting yang mempengaruhi ekologi mahluk-mahluk hidup daratan. Untuk mahluk-mahluk hidup darat, kandungan uap air harus dianggap sebagai kelembaban dalam astmosfir, air tanah untuk tanaman dan air minum untuk hewan-hewan. Banyak hewan-hewan darat seperti moluska, amfibia, isopoda, nematoda, sejumlah serangga dan antropoda lainnya di temukan hanya pada habitat-habitat atmosfernya jenuh dengan uap air (Michael, 1994).

Temperatur dan kelembaban umumnya penting dalam lingkungan daratan dan demikian eratnya berhubungan sehingga diakui sebagai bagian yang paling penting dari iklim. Interaksi antara temperature dengan kelembaban, seperti pada kasus interaksi kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor. Sehingga temperatur memberikan efek membatasinya lebih hebat lagi terhadap organisme apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim, yakni apakah keadaan tadi sangat tinggi atau sangat rendah, daripada keadaan itu adalah sedang-sedang saja. Demikian juga, kelembaban memainkan peranan yang lebih gawat dalam keadaan temperature ekstrim. Dengan kata lain, hal ini adalah aspek laindari asas mengenai factor interaksi (Odum, 1994).

Organisme dapat hidup di lingkungan fisik serta dapat mengadakan adaptasi dan mengubah keadaan lingkungan fisik untuk mengurangi efek hambatan terhadap pengaruh temperature, cahaya, air dan sebagainya. Keadaan kompensasi demikian yang terutama efektif untuk tingkat komunitas meskipun juga terjadi pada tingkat spesis (Soegiarto, 1990).

Di alam organisme tidak hanya beradaptasi terhadap lingkungan fisik dalam arti tolenrasi saja, akan tetapi juga memamfaatkan periodesitas alami untuk mengatur kegiatan dan memprogram kehidupannya. Misalnya di daratan iklim sedang, kegiatan organisme disesuaikan dengan panjang hari (Soegiarto, 1990).

Pada ekosistem, faktor-faktor tidak bekerja sendiri-sendiri akan tetapi bekerja bersama-sama. Temperatur dan kelembaban sangat berpengaruh pada lingkungan darat. Efek pembatas dari temperature bertambah hebat apabila kelembaban dalam keadaan ekstrim, yaitu tinggi maupun rendah interaksi antara temperature dan kelembaban seperti interaksi pada faktor lain yaitu tergantung kepada nilai nisbi dan nilai mutlak dari setiap factor (Soegiarto, 1990).

Sebagai pilihan lain atau alternatif yang dapat diguanakan kertas indicator untuk mengukur kelembaban relatif. Indiokator kelembaban dibuat dengan menggunakan kobalt klorida. Kobalt klorida berwarna biru bila kering, dan berubah menjadi merah jambu bila basah. Apabila kobalt klorida berubah menjadi warna merah jambu maka konsentrasinya tinggi dan memberikan kelembaban relatif (Michael, 1994)

Kelembaban merupakan salah satu faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap aktifitas organisme di alam.Kelembaban merupakan jumlah uap air di udara, sedangkan kelembaban mutlak adalah sejumlah uap air dalam udara yang dinyatakan sebagai berat air per satuan udara. Jumlah uap air yang tersimpan di udara dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan, sehingga lelembaban nisbi adalah persentase uap air yang sebenarnya ada dibandingkan dengan kejenuhan dibawah temperatur dan tekanan tertentu. Tinggi rendahnya kelembaban udara di suatu tempat sangat bergantung pada beberapa faktor seperti ketersediaan air di suatu tempat, kuantitas dan kualitas penyinaran, suhu, tekanan udara, pergerakan angin, dan vegetasi. Kelembaban nisbi biasanya diukur dengan menggunakan termometer basah atau kering (Umar, 2010).

Kelembaban udara dalam ruangan tertutup dapat diatur sesuai dengan keingunan. Pengaturan kelembaban udara ini didasarkankan atas prinsip kesetaraan potensi air antara udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruangan tertutup dimasukkan larutan, maka air dalam larutan tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi larutan. Demikian pula halnya jika hidrat Kristal garam-garam tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup, maka air dari hidrat Kristal garam akan menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air (Lakitan, 1994).

Tinggi rendahnya kelembaban udara di suatu tempat sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu (Umar, 2010):

  1. Suhu
  2. Tekanan udara
  3. Pergerakan angin
  4. Kuantitas dan kualitas penyinaran
  5. Vegetasi
  6. Ketersediaan air di suatu tempat (air, tanah, perairan).

Irama harian kelembaban sangat bervariasi, terkadang tinggi pada malam hari dan rendah pada siang hari dan sebaliknya. Irama harian kelembaban ini juga dapat disebabkan karena perbedaan letak tempat baik secara horizontal maupun vertikal. Pengaruh kelembaban udara sejalan dengan temperatur dan intensitas   udara serta sinar matahari yang mempunyai peranan pemting dalam mengatur aktifitas organisme dan dalam membatasi penyebarannya (Umar, 2010).

Kelembaban adalah jumlah uap air yang terkandung dalam udara. Istilah kelembaban biasanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari berupa kelembaban relatif (Buck, 1970). Menurut Lakitan (1994), data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah kelembaban relatif (relative humidity, disingkat RH). Kelembaban relatif adalah perbandingan antara tekanan uap air aktual (yang terukur) dengan tekanan uap air pada kondisi jenuh. Rumus untuk menentukan relative humidity (RH) adalah sbb (Lakitan, 1994):

Dimana:

ρA : Tekanan uap air aktual;

ρa : Tekanan uap air pada kondisi jenuh.

Selain kelembaban relatif, kelembaban juga ada yang disebut kelembaban absolut. Kelembaban absolut dianalogikan jika semua air dalam satu m3 dikondensasikan ke dalam suatu wadah, wadah tersebut dapat menjadi timbangan kelembaban absolut. Kelembaban absolut memiliki nilai yang berkisar dari 0 gram/m3 saat udara kering hingga 30 gram/m3 saat uap air menjadi jenuh pada suhu 30°C. Kelembaban relatif sangat penting dalam memperkirakan cuaca (Lakitan, 1994).

Kelembaban nisbi biasanya diukur dengan menggunakan termometer basah dan kering, baik secara manual maupun dengan alat Sling Psychrometer dan Hygrograf. Apabila pembacaan pada kedua termometer basah dan kering sama, maka kelembaban nisbinya adalah 100%, tetapi apabila pembacaan termometer basah di bawah termometer kering, maka kelembaban nisbinya kurang dari 100%. Nilai sebenarnya dapat dilihat pada tabel, tetapi kalau menggunakan Sling Psychrometer dan hygrometer dapat langsung dibaca pada skala ukurannya (Umar, 2010).

Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentrasi ini dapat diekspresikan dalam kelembaban absolut, kelembaban spesifik atau kelembaban relatif. Alat untuk mengukur kelembaban disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembaban udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah alat pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30o C (86o F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0o C (32o F). Kelembaban absolut mendefenisikan massa uap air pada volume tertentu campuran udara atau gas, dan umumya dilaporka dalam gram per meter kubik. Kelembaban relatif (RH) dan suhu udara merupakan salah satu parameter yang penting dalam pengukuran meteorologi. Pengukuran kelembaban relatif (RH) secara kontinyu dan kemudahan dalam  perawatan diperlukan dalam bidang perikanan dan kelautan, antara lain: perekam data RH lingkungan pantai dan lepas pantai secara in situ, manajemen cold storage untuk hasil perikanan tangkap, pengukuran dalam Hazard Analysis Critical Control Point(HACCP), analisis penyimpanan dalam kontainer, dan dengan kandungan air di dalam udara. Udara dikatakan mempunyai kelembaban yang tinggi apabila uap air yang diakandungnya tinggi, begitu juga sebaliknya. Secara matematis, kelembaban dihubungkan sebagai rasio berat uap air di dalam suatu volume udara dibandingkan dengan berat udara kering (udara tanpa uap air) di dalam volume yang sama (Odum, 1994).

Kelembaban relatif adalah rasio yang digambarkan sebagai persentase antara tekanan uap air aktual e terhadap tekanan uap jenuh es, pada suhu udara T  tertentu (Brock dan Scott, 2001) Sedangkan suhu udara adalah jumlah panas yang terkandung di udara (Lakitan, 1994).

Faktor suhu / temperatur dan kelembaban seperti pada kasus interaksi kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor. Jadi, suhu atau temperatur memberikan efek membatasinya lebih hebat lagi terhadap organisme apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim yakni, apakah keadaan tadi sangat tinggi atau sangat rendah, daripada apabila keadaan demikian itu adalah sedang saja (Odum, 1994).

Kelembaban udara dalam ruangan tertutup dapat diatur sesuai dengan keingunan. Pengaturan kelembaban udara ini didasarkankan atas prinsip kesetaraan potensi air antara udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruangan tertutup dimasukkan larutan, maka air dalam larutan tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi larutan. Demikian pula halnya jika hidrat Kristal garam-garam tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup, maka air dari hidrat Kristal garam akan menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air (Lakitan. 1994).

BAB III

                                               METODE PERCOBAAN

 

III. 1 Alat

Alat yang digunakan adalah  thermometer, sling psychrometer, botol air/ hand sprayer, kipas, dan karet gelang.

III. 1. Bahan

Bahan yang digunakan adalah kapas, dan air.

III. 3 Cara Kerja

Cara kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Memyediakan dua buah thermometer.
  2. Membasahi kapas tersebut secukupnya dengan mencelupkan ke dalam botol air atau dengan menyemprotkan dengan hand sprayer.
  3. Menggantung kedua thermometer tersebut (satu basah dan satu kering pada tempat yang dipilih) sambil mengipas-ngipas selama kurang lebih 5 menit.
  4. Melakukan pengamatan setiap selang waktu 10 menit sebanyak 4 kali pada setiap tempat yang dipilih (dalam ruangan, luar ruangan,tempat terbuka dan di bawah pohon).
  5. Mencatat nilai dari hasil pembacaan pada kedua thermometer (basah dan kerimg).
  6. Menarik keluar thermometer kering dan basah dengan menggunakan Sling Psychometer.
  7. Memperhatikan sumbu yang menghubungkan antara tempat pembahasan dengan ujung thermometer basah. Kalau tidak tersambung, menyambung pada ujung thermometer basah.
  8. Membasahi sumbu tersebut dengan air secukupnya, kemudia mengayunkan alat tersebut dengan cara memutar-mutarnya.
  9.  Melakukan pengamatan setiap 5 menit pada thermometer basah dan kering. Untuk pembacaan kelembaban relatifnya dapat mencocokannya pada skala yang terdapat pada alat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lakitan, B. 1994. Dasar Klimatologi. PT Ragagrafindo Persada. Jakarta.

Michael. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang Dan Laboratorium.

Universitas Indonesia. Jakarta.

 

Odum, Eugene. 1994. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Soegiarto. 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Umar, M. Ruslan. 2006. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin. Makassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

IV.1 Hasil

Tabel hasil pengamatan

Alat Termometer wet and dry sling psychrometer
Tempat wet dry KR Wet Dry KR
Dalam ruangan LBD 27.0 29.0 78.0 28.5 26.0  88.8
26.0 28.0 87.0 26.5 28.5 88.0
26.0 28.0 87.0 26.5 28.5 88.0
rata- rata 26.3 28.3 84.0 27.2 27.7 88.0
Dibawah pohon Canopy 25.5 28.0 84.0 27.0 28.0 94
25.5 27.0 90.0 26.5 28.0 90
25.5 27.0 90.0 25.0 26.5 90
rata- rata 25.5 27.3 88.0 26.2 27.5 91,3
Pelataran MIPA 27.0 28.5 90.0 27.0 29.0 88
25.5 28.0 84.0 27.0 29.0 88
25.5 29.0 84.0 27.0 28.0 91
rata- rata 26.0 28.5 86.0 27.0 28.7 89

 

IV.2 Pembahasan

Pada percobaan kelembaban udara dilakukan pada tiga tempat berbeda yaitu dalam ruangan (Laboratorium Biologi Dasar), di lapangan terbuka (pelataran MIPA), dan di bawah pohon (Canopy). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan termometer dan sling psychrometer. Dan setiap alat dibagi atas yang basah dan kering. Pengukuran menggunakan kedua alat ini untuk membandingkan apakah hasil pengukuran kelembaban relatif udara pada tempat yang berbeda sama atau berbeda. Termometer digunakan dengan cara dikipas-kipas dan sling psychrometer dengan cara diputar-putar.

Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil yang berbeda-beda pada setiap tempat, yaitu sebagai berikut :

  1. Dalam Ruang Laboratorium

Kelembaban relatif udara yang diperoleh pada percobaan di dalam laboratorium sangat tinggi yaitu 84% pada termometer dan 88% pada sling psychrometer. Hal ini dimungkinkan karena dalam ruangan tersebut tertutup sehingga terjadi sedikit penguapan, tidak ada pergerakan angin dan dalam ruangan juga terdapat kipas angin, kondisi dalam ruangan relatif tetap sehingga dalam udara terkandung banyak uap air.

  1. Di Bawah Pohon (Canopy)

Kelembaban relatif udara yang diperoleh pada percobaan di bawah pohon pada pembacaan termometer 88% dan sling psychrometer 82%. Kelembaban pada daerah ini cukup tinggi dikarenakan banyaknya vegetasi pada areal tersebut, kondisi tanah yang becek dan mengandung banyak air, serta penyinaran matahari yang terhalangi oleh pohon.

  1. Di Lapangan Terbuka (pelataran MIPA)

Kelembaban relatif udara yang diperoleh pada percobaan di lapangan terbuka pada termometer 86% dan sling psychrometer 89%. Nilai yang diperoleh pada pembacaan termometer sangat tinggi baik pada thermometer dry and wet maupun pada sling psychrometer. Ini terjadi disebabkan oleh faktor penyinaran matahari dan cuaca saat pengukuran. Saat pengukuran dilakukan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sehingga matahari mulai terbenam dan daerah yang terkena cahaya matahari secara langsung berkurang apalagi pelataran MIPA yaitu titik percobaan terhalangi oleh bayangan Laboratorium Fisika. Cuaca pada saat itu cukup mendung terbukti dengan banyaknya awan yang terkumpul di langit.

Berdasarkan analisis data, terlihat bahwa kondisi udara pada beberapa titik saat itu lembab atau cukup lembab. Ini terbukti dengan nilai kelembaban udara pada saat itu yang cukup tinggi sekitar 80 % keatas. Ini terjadi dapat disebabkan oleh kondisi cuaca yang cukup mendung dan keadaan sekitar yang masih basah karena hujan pada malam hari sebelum percobaan. Sebagai tambahan, tingginya persentasi kelembaban relatif mungkin juga disebabkan oleh kualitas penyinaran matahari pada pukul 17.00 WITA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diraik kesimpulan sebai berikut:

  1. Terdapat perbedaan kelembaban relatif pada tiga tempat pengukuran kelembaban begitupun dengan perbedaan nilai yang  dengan menggunakan termometer dry and wet dan sling psychrometer. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kelembaban relatif pada lokasi berbeda ialah kualitas penyinaran matahari, vegetasi, pergerakan angin, suhu, dan ketersediaan air.
    1. Alat yang digunakan dalam percobaan adalah termometer yang digunakan dengan cara digantung sambil dikipas-kipas dan sling psychrometer dengan cara diputar-putar diudara.

 

V.2 Saran

Setelah melakukan percobaan ini, maka saya sarankan sebaiknya pihak laboratorium mengganti alat-alat laboratorium yang telah rusak dan menambah alat-alat yang akan digunakan agar pelaksanaan praktikum lebih efektif.

 

 

 

 

KEANEKARAGAMAN JENIS DALAM KOMUNITAS

Published December 7, 2012 by mineminecute

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Keanekaragaman jenis merupakan karakteristik tingkatan dalam komunitas berdasarkan organisasi bilogisnya, yang dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitasnya. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies sama dan hampir sama. Sebaliknya jka suatu komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah (Umar, 2011).

Para ahli ekologi telah banyak mengembangkan perhitungan atau metode kuantitatif untuk mengukur keragaman jenis komunitas antara lain yang bayak sekarang dipakai adalah Indeks Simpson dan Indeks Shannon wiener (Umar, 2011).

Setiap tingkatan biologi  sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies dan komunitas alami, dan kesemuanya penting bagi manusia. Keanekaragaman spesies mewakili aneka ragam adaptasi  evolusi dan ekologi suatu spesies pada lingkungan tertentu. Keanekaragaman spesies menyediakan bagi manusia sumber daya alternatifnya. Contohnya,  hutan hujan tropik dengan aneka variasi spesies yang menghasilkan tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan untuk makanan, tempat bernaung dan obat-obatan. Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti persawahan dapat mempengaruhipertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu dalam sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan detoksifikasi senyawa kimia. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor (Umar, 2011).

Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung dan menganalisis data dari keanekaragaman jenis suatu komunitas pada daerah/wilayah tertentu, maka dilkukanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :

  1. Untuk mengetahui dan menentukan keanekaragaman jenis suatu komunitas dengan berdasarkan pada Indeks Simpson dan Indeks Shannon wiener.
  2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan metode teknik-teknik sampling organisme dan rumus sederhana dalam menghitung organisme dalam komunitas.

 

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan Keanekaragaman Jenis Dalam Komunitas ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal 19 April 2011 pukul 13.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar Lantai 1, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengambilan data dilakukan di Canopy Biologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama-sama dengan organisasi sejenis atau dengan yang tidak sejenis. Berbagai organisme yang hidup di suatu tempat, baik yang besar maupun yang kecil, tergabung dalam suatu persekutuan yang disebut komunitas biotik. Suatu komunitas biotik terikat sebagai suatu unit oleh saling ketergantungan anggota-anggotanya. Suatu komunitas adalah suatu unit fungsional dan mempunyai struktur yang pasti. Tetapi srtuktur ini sangat variabel, karena jenis-jenis komponennya dapat dipertukarkan menurut aktu dan ruang. Komunitas biotik terdiri atas kelompok kecil, yang anggota-anggotanya lebih akrab lagi satu sama lain, sehingga kelompok kecil itu merupakan unit ynag kohesif. Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem (Rososoedarmo, 1990).

Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Komunitas yang tua dan stabil akan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi. Sedangkan suatu komunitas yang sedang berkembang pada tingkat suksesi mempunyai jumlah jenis rendah daripada komunitas yang sudah mencapai klimaks. Komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi lebih tidak mudah terganggu oleh pengaruh lingkungan. Jadi dalam suatu komunitas dimana keanekaragamannya tinggi akan terjadi interaksi spesies yang melibatkan transfer energi, predasi, kompetisi dan niche yang lebih kompleks (Umar, 2011).

Tanaman dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungannya yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk suatu derajat keterpaduan. Kumpulan atau susunan dari berbagai populasi yang tekah menyesuaikan diri dan menghuni suatu wilayah tertentu di alam disebut komunitas. Dan seperti halnya populasi dan jasad hidup lain yang membentuknya, kounitas pun mempunyai struktur dan fungsi di alam bahkan dengan derajat organisme yang lebih tinggi, karena mempunyai ciri, sifat, dan kemampuan yang lebih tinggi daripada populasi. Misalnya dalam populasi interaksi hanya bisa dicapai antar individu, sedangkan dalam komunitas bisa antar populasi (Odum, 1993).

Konsep komunitas cukup jelas, tetapi seringkali dalam penentuan batas dan pengenalan batas komunitas tidak mudah. Meskipun demikian, komponen-komponen komunitas ini mempunyai kemampuan untuk hidup dalam lingkungan yang sama di suatu tempat dan untuk hidup saling bergantung yang satu terhadap yang lain. Komunitas mempunyai derajat keterpaduan yang lebih tinggi dari pada individu-individu dan populasi tumbuhan dan hewan yang menyusunnya. Komposisi suatu komunitas ditentukan oleh seleksi tumbuhan dan hewan yang kebetulan mencapai dan mampu hidup di tempat tersebut, dan kegiatan komunitas-komunitas ini bergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut (Odum, 1993).

Suatu nan komunitas dapat mengkarakteristikakkan suatu unit lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Unit lingkungan seperti ini disebut biotop. Hamparan lumpur, pantai pasir, gurun pasir, dan unit lautan merupakan contoh biotop. Di sisni biotop ditentukan oleh sifat-sifat fisik. Biotop-biotop lain dapat pula dicirikan oleh unsur organismenya, misalnya padang alang-alang, hutan tusam, hutan cemara, rawa kumpai, dan sebagainya (Heddy, 1986).

Keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang terdapat pada daerah dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin dan pegunungan tinggi. Sementara itu, keanekaragaman yang tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum. Hutan tropika adalah contoh komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Sementara ahli ekologi berpendapat bahwa komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi, seperti dicontohkan dengan hutan itu mempunyai keanekaragaman yang tinggi itu stabil. Tetapi ada juga ahli yang berpendapat sebaliknya, bahwa keanekaragaman tidak selalu berarti stabilitas. Kedua pendapat ini ditopang oleh argumen-argumne ekologi yang masuk akal, masing-masing ada benarnya dan ada kelemahannya (Rososoedarmo, 1990).

Dalam suatu ekosistem, dapat senantiasa terjadi fluktuasi atau grafik naik turunnya secara teratur. Hal ini dapat terjadi karena adanya saling kontrol terhadap populasi konsumen biotik dalam suatu ekositem tersebut. Proses itu akan terus berjalan secara berkesinambungan dan tanpa menimbulkan goncangan ekosistem. Hal ini akan terjadi selama lingkungan tersebut berada dalam keadaan seimbang (Wolf, 1992).

Pada habitat alami seperti hutan, kerusakan karena faktor serangga herbivor sangat jarang terjadi. Hal ini mungkin disebabkan karena di dalam habitat hutan jumlah serangga karnivor lebih banyak dan keragaman jenis serangga juga jauh lebih tinggi dan kompleks dibandingkan agroekosistem (Janzen 1987). Pada lahan pertanian, adanya praktek pertanian memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap keanekaragaman serangga (Odum,1993).

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (mega biodiversity). Hal ini disebabkan karena Indonesia terletak di kawasan tropik yang mempunyai iklim yang stabil dan secara geografi adalah negara kepulauan yang terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia. Salah satu keanekaragaman hayati yang dapat dibanggakan Indonesia adalah serangga, dengan jumlah 250.000 jenis atau sekitar 15% dari jumlah jenis biota utama yang diketahui di Indonesia (Odum, 1993).

Dalam suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, beberapa diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota lain dari komunitas itu. Suatu interaksi dapat terdiri atas beberapa bentuk yang berasal dari hubungan pisitif (berguna) sampai interaksi negative (berbahaya). Bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara anggota spesies yang sama (intraspesifik). Perbandingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Dalam hubungan persaingan antara dua spesies, ini dapat merupakan bentuk eksploitasi makanan yang tersedia dalam waktu singkat, atau merupakan gangguan bilamana organisme-organisme itu saling melukai dalam usahanya untuk mendapatkan makanan (Wolf, 1992).

Keanekaragaman hayati tumbuh dan berkembang dari keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetis, dan keanekaragaman ekosistem. Karena ketiga  keanekaragaman ini saling kait-mengkait dan tidak terpisahkan, maka dipandang sebagai satu keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem (Wolf, 1992).

Manusia dalam mengenal adanya keanekaragaman makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dapat diamati dan juga mungkin tingkah laku, penampilannya, makanannya dan cara perkembangbiakannya, habitatnya serta  interaksinya dengan makhluk lain. Pada tumbuhan yang dapat diamati misalnya tempat tumbuhnya, batangnya, daunnya, bunganya, serangga yang mengunjunginya serta burung yang bersarang di dalamnya. Setiap populasi mempunyai sifat genetik tertentu. Individu-individu sejenis ini mempunyai kerangka dasar komponen genetis yang sama (kromosomnya sama tetapi memiliki komponen faktor keturunan yang berbeda). Misal (Anonim, 2011) :

rasa manis dan asam pada mangga

warna kuning, merah dan putih pada biji jagung

Keanekaragaman gen menentukan keanekaragaman jenis individu, meski jenisnya sama tetapi memiliki gen yang tidak sama bila dibandingkan dengan individu lain dalam kelompok tersebut. Keaneka ragaman genetik merupakan keanekaragaman sifat yang terdapat dalam satu jenis. Dengan demikian tidak ada satu makhlukpun yang sama persis dalam penampakannya. Tanaman dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membantuk kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungannya yang memnuhi kebutuhan hidupnya. (Wolf, 1992).

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Keanekaragaman Jenis. www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 23 April 2011 pukul 20.00 WITA.

Heddy, Suwasono. 1986. Pengantar Ekologi. CV Rajawali. Jakarta.

Odum, Eugene. 1993. Dasar-dasar Ekolog. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.

Umar, M. Ruslan. 2009. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Laboratorium Ilmu Lingkungan Kelautan. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Wolf, L. 1992. Ekologi Umum.  Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PERCOBAAN

 

III.1 Alat

            Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah alat tulis menulis, buku penuntun dengan ukuran (21,59 cm x 27,94 cm).

III.2 Bahan

            Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah hewan disekitar areal pengamatan sebagai objek penelitian seperti semut, belalang, dan serangga kecil lainnya, dan tali rafia.

III.3 Cara Kerja

Cara kerja dari percobaan ini adalah :

  1. A.    Metode Plot Acak
  2. Dipilih suatu komunitas atau areal komunitas yang akan diamati, kemudian dipilih tempat yang berada sebagai titik awal pengamatan.
  3. Ditentukan ukuran petak/buku penuntun praktikum Ekologi Umum dengan ukuran (21,59 cm x 27,94 cm) kemudian petak/buku penuntun disebar dalam areal pengamatan secara acak.
  4. Disetiap petak/buku penuntun dihitung jumlah organisme dan jenisnya (hewan).
  5. Dicatat data yang diperoleh per petak/buku penuntun di buku tulis.
  6. Dilakukan pengamatan kembali sebanyak 10 kali di tempat berbeda, dan selanjutnya dilakukan perhitungan di Laboratorium.

 

  1. B.     Metode Plot Beraturan (Sitematis)
  2. Dipilih suatu komunitas atau areal komunitas yang akan diamati, kemudian dipilih tempat yang berbeda sebagai titik awal pengamatan.
  3. Ditentukan ukuran petak/buku penuntun praktikum Ekologi Umum dengan ukuran (21,59 cm x 27,94 cm) kemudian petak/buku penuntun disebar dalam areal pengamatan secara sistematis.
  4. Disetiap petak/buku penuntun dihitung jumlah organisme dan jenisnya (hewan).
  5. Dicatat data yang diperoleh per petak/buku penuntun di buku tulis.
  6. Dilakukan pengamatan kembali sebanyak 10 kali ditempat berbeda, dan selanjutnya dilakukan perhitungan di Laboratorium.

 

 

 

 

 

 

INDEKS KEANEKARAGAMAN SERANGGA DI PADANG RUMPUT

Published December 7, 2012 by mineminecute

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI UMUM

 

PERCOBAAN IX

INDEKS KEANEKARAGAMAN SERANGGA DI PADANG RUMPUT

 

NAMA           : HARMIN ADIJAYA PUTRI

NIM                : H41110251

KELOMPOK : V (LIMA)

HARI/TGL    : SELASA, 15 MARET 2011

ASISTEN        : SUWARDI

                            YUSDAR M.

 

 

 

 

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk menentukan indeks keanekaragaman suatu komunitas, sangatlah diperlukan pengatahuan atau keterampilan dalam mengindentifikasi hewan. Bagi seseorang yang sudah terbiasa pun dalam melakukan indentifikasi hewan sering membutuhkan waktu yang lama, apalagi yang belum terbiasa. Karena itu untuk kajian dalam komunitas dan indeks keanekaragaman sering didasarkan pada kelompok hewan, misalnya, familia, ordo atau kelas dan hal ini pun dibutuhkan cukup keterampilan dan pengalaman. Mengingat keanekaragaman spesies dan jumlah hewan yang berada di daerah tropis jauh lebih banyak di bandingkan dengan daerah temperatur dan daerah beriklim dingin. Untuk beberapa tujuan yang praktis, ada suatu cara penentuan untuk mendukung indeks keanekaragaman suatu habitat/komunitas tanpa harus mengetahui nama masing-masing jenis hewan sama atau tidak/berbeda pada pola pengurutan pengambilan sampel yang dilakukan secara aacak pada saat pengamatan di laboratorium atau di lapangan secara langsung, metode itu dikemukakan oleh Kennedy pada tahun 1997 (Umar, 2009).

Komunitas yang mengalami situasi lingkungan yang kurang menyenangkan dimana kondisi fisik terus-menerus menderita, kadang kala atau secara berkala, cenderung terdiri atas sejumlah spesies yang jumlahnya kecil tetapi berlimpah (Setiadi, 1990).

Untuk beberapa tujuan yang paktis, ada suatu cara penentuan untuk menduga indeks keanekaragaman suatu habitat/komunitas, tanpa harus mengetahui nama masing-masing jenis hewan dan kelompok hewan. Kemampuan yang diperlukan hanya menyatakan, apakan kedua jenis hewan sama atau tidak/berbeda pada pola urutan pengambilan sampel yang dilakukan secara acak pada saat pengamatan di laboratorium atau di lapangan secara langsung, metode itu dikemukakan oleh Kennedy (Setiadi, 1990).

Untuk mengetahui bagaimana perbedaan kelembaban relative udara pada tempat/lokasi yang berbeda serta untuk melatih para mahasiswa dalam menggunakan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban relativ udara, maka dilakukanlah percobaan ini.

 

I.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:

  1. Mengetahui tingkat keanekaragaman serangga yang terdapat di padang rumput berdasarkan indeks keanekaragaman Kennedy.
  2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam meneapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana serta cepat dalam memprediksi keadaan suatu komunitas.

 

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan Indeks Keanekaragaman Serangga di Padang Rumput ini dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 15 Maret 2011 pukul 13.30 WITA bertempat di Laboratrorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 14 Maret 2011 pukul 05.00 WITA bertempat di padang rumput sekitar danau Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Konsep komunitas adalah suatu prinsip ekologi yang penting yang menekan keteraturan yang ada dalam keragaman organisme hidup dalam habitat apapun. Suatu komunitas bukan hanya merupakan pengelompokan secara serampangan hewan dan tumbuhan yang hidup secara mandiri satu sama lain namun mengandung komposisi kekhasan taksonomi, dengan pola hubungan tropik dan metabolik yang tertentu. Konsep komunitas sangatlah penting dalam penerapan praktis prinsip-prinsip ekologi karena cara terbaik untuk mendorong atau membasmi pertumbuhan suatu organisme adalah memodifikasi komunitas dan bukannnya menanganinya secara langsung. Diantara banyak organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya beberapa spesies atau grup yang memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan keseluruhan komunitas. Kepentingan relatif dari oganisme dalam suatu komunitas tidak ditentukan oleh posisi taksonominya namun oleh jumlh, ukuran, poduksi dan hubungan lainnya (Michael, 1990).

Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut spesies atau bentuk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan fungsional. Analisis komunitas dapat dilakukan dalam setiap lokasi tertentu berdasakan pada pembedaan zona atau gradien yang terdapat dalam daerah tersebut. Umumnya semakin curam gradien lingkungan, makin beragam komunitasnya karena batas yang tajam terbentuk oleh perubahan yang mendadak dalam sifat fisik lingkungan. Angka perbandingan antara jumlah spesies dan jumlah total individu dalam suatu komunitas dinyatakan sebagai keragaman spesies. Ini berkaitan dengan kestabilan lingkungan dan beragam dengan komunitas berbeda. Keragaman sangatlah penting dalam menentukan batas kerusakan yang dilakukan terhadap sistem alam oleh turut campurnya manusia (Michael, 1990).

Meskipun banyak orang yang menyadari bahwa faktor lingkungan abiotik mengendalikan kegiatan oganisme, tetapi tidaklah selalu disadari bahwa organisme itu mempengauhi dan mengendalikan lingkungan abiotik dalam banyak cara. Perubahan di dalam lingkungan secara fisik dan kimia dai bahan-bahan yang tidak aktif secara tetap dipengaruhi oleh organisme yang mengembalikan senyawa baru dan sumber energi lingkungan. Kadar kimia laut dan lumpur-lumpur dasarnya sangat ditentukan oleh kegiatan organisme laut. Tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada bukit pasir membangun tanah yang sangat berbeda dari substrat aslinya (Odum, 1993).

Dalam ekologi dipelajari hubungan atau interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Pada suatu macam habitat dapat hidup berbagai macam oganisme yang saling mempengaruhi sehingga terjadi interaksi antara populasi dari suatu spesies dengan populasi dari lain spesies yang disebut interaksi interspesifik. Beberapa fenomena ekologis yang paling spektakuler adalah interaksi spesifik dan interaksi obligat antara populasi yang berbeda secara taksonomi. Komunitas ekologi tesusun oleh beberapa populasi yang berinteraksi pada tingkat yang bervariasi. Interaksi potensial bervariasi mulai dari interaksi yang bersifat netral, dimana dua populasi hidup bersama-sama dengan lingkungannya. Disamping itu, interaksi-interaksi antara populasi pada satu atau kedua populasi dan interaksinya dapat negatif, yaitu sifat yang merugikan populasi (Setiadi, 1990).

Suatu populasi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh individu-individu yang membangun populasi tesebut. Kekhasan dasar suatu populasi yang menarik bagi seorang ekolog adalah ukuran dan rapatannya. Jumlah individu dalam populasi mencirikan ukurannya dan jumlah individu populasi dalam suatu daerah atau satuan volume adalah rapatannya. Kelahiran (Natalitas), kematian (mortalitas), yang masuk (imigrasi), dan yang keluar (emigrasi) dari anggota mempengaruhi ukuran dan rapatan populasi. Kekhasan lain dari populasi yang penting dari segi ekologi adalah keragaman morfologi dalam suatu populasi alam sebaan umur, komposisi genetik dan penyebaran individu dalam populasi (Odum, 1993).

Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti persawahan dapat mempengaruhipertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu dalam sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan detoksifikasi senyawa kimia. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor (Bayu, 2011).

Kemampuan manusia semakin pesat, akibatnya keseimbangan lingkungan mulai goyah. Hal ini semakin diperparah oleh berbagai sikap manusia yang cenderung merusak lingkungan seperti membakar hutan, memberantas hama, dan lain-lain. Pembabatan dan pembakaran hutan menyebabkan dampak yang tidak sedikit. Hewan buas di hutan yang lingkungannya rusak bermigrasi ke desa-desa, memangsa hewan-hewan ternak, dan bahkan manusia. Karena lingkungannya tidak memberikan kenyamanan lagi bagi hewan-hewan ini sehingga berimigrasi ke perkampungan di sekitar hutan dan merusak tanaman budidaya manusia Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem (Wolf, 1992).

Setiap tingkatan biologi  sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies dan komunitas alami, dan kesemuanya penting bagi manusia. Keanekaragaman spesies mewakili aneka ragam adaptasi  evolusi dan ekologi suatu spesies pada lingkungan tertentu. Keanekaragaman spesies menyediakan bagi manusia sumber daya alternatifnya ; contohnya, hutan hujan tropik dengan aneka variasi spesies yang menghasilkan tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan untuk makanan, tempat bernaung dan obat-obatan (Umar, 2009).

Dalam suatu ekosistem, dapat senantiasa terjadi fluktuasi atau grafik naik turunnya secara teratur. Hal ini dapat terjadi karena adanya saling kontrol terhadap populasi konsumen biotik dalam suatu ekositem tersebut. Proses itu akan terus berjalan secara berkesinambungan dan tanpa menimbulkan goncangan ekosistem. Hal ini akan terjadi selama lingkungan tersebut berada dalam keadaan seimbang (Wolf, 1992).

Pada habitat alami seperti hutan, kerusakan karena faktor serangga herbivor sangat jarang terjadi. Hal ini mungkin disebabkan karena di dalam habitat hutan jumlah serangga karnivor lebih banyak dan keragaman jenis serangga juga jauh lebih tinggi dan kompleks dibandingkan agroekosistem (Janzen 1987). Pada lahan pertanian, adanya praktek pertanian memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap keanekaragaman serangga (Odum,1993).

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (mega biodiversity). Hal ini disebabkan karena Indonesia terletak di kawasan tropik yang mempunyai iklim yang stabil dan secara geografi adalah negara kepulauan yang terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia. Salah satu keanekaragaman hayati yang dapat dibanggakan Indonesia adalah serangga, dengan jumlah 250.000 jenis atau sekitar 15% dari jumlah jenis biota utama yang diketahui di Indonesia (Odum, 1993).

Dalam suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, beberapa diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota lain dari komunitas itu. Suatu interaksi dapat terdiri atas beberapa bentuk yang berasal dari hubungan pisitif (berguna) sampai interaksi negative (berbahaya). Bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara anggota spesies yang sama (intraspesifik). Perbandingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Dalam hubungan persaingan antara dua spesies, ini dapat merupakan bentuk eksploitasi makanan yang tersedia dalam waktu singkat, atau merupakan gangguan bilamana organisme-organisme itu saling melukai dalam usahanya untuk mendapatkan makanan (Wolf, 1992).

Diantara banyak organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya spesies atau grup yang memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan keseluruhan komunitas. Kepentingan relatif dari organisme dalam suatu komunitas tidak ditentukan oleh posisitaksonominya tetapi jumlah, ukuran, produksi dan hubungan lainnya. Tingkat kepentingan suatu spesies biasanya dinyatakan oleh indeks keunggulannya (dominansi). Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut spesies atau bentuk hidup yang dominan, habitat fisik, atau kekhasan fungsional. Analisis komunitas dapat dilakukan dalam setiap lokasi tertentu berdasarkan pada pembedaan zone atau gradien yang terdapat dalam daerah tersebut. Umumnya semakin curam gradien lingkungan, makin beragam komunitas karena batas yang tajam terbentuk oleh perbahan yang mendadak dalam sifat fisika lingkungan. Angka banding antara jumlah spesies an jumlah total individu dalam suatu komunitas dinyatakan sebagai keanekaragaman spesies. Ini berkaitan dengan kestabilan lingkungan dan beragam komunitas berbeda (Wolf, 1992).

Suatu populasi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh individu-individu yang membangun populasi tesebut. Kekhasan dasar suatu populasi yang menarik bagi seorang ekologi adalah ukuran dan rapatannya. Jumlah individu dalam populasi mencirikan ukurannya dan jumlah individu populasi dalam suatu daerah atau satuan volume adalah rapatannya. Kelahiran (Natalitas), kematian (mortalitas), yang masuk (imigrasi), dan yang keluar (emigrasi) dari anggota mempengaruhi ukuran dan rapatan populasi. Kekhasan lain dari populasi yang penting dari segi ekologi adalah keragaman morfologi dalam suatu populasi alam sebaan umur, komposisi genetik dan penyebaran individu dalam populasi (Odum, 1993).

Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama-sama dengan organisme sejenis dengan yang tidak sejenis. Berbagai organisme yang hidup di suatu tempat, baik yang besar maupun yang kecil, tergabung dalam suatu persekutuan yang disebut komunitas biotik. Suatu komunitas biotik terikat sebagai suatu unit yang saling ketergantungan anggota-anggotanya (Lakitan, 1994).

 

 

BAB III

METODEPERCOBAAN

 

III.1     Alat

Alat yang digunakan adalah botol pembunuh, pinset, sweeping net (perangkap serangga), gelas plastik.

 

III.2     Bahan

Bahan yang digunakan adalah formalin, kertas, dan serangga.

 

III.3     Cara Kerja

Cara kerja pada percobaan ini adalah :

  • Pengambilan Sampel :
  1. Lokasi dipilih di padang rumput yang ada di sekitar kampus, kemudian lakukan penangkapan serangga dengan menggunakan sweeping net.
  2. Sweeping net diayunkan dua kali kekiri dan kekanan di permukaan padang rumput, setiap melangkah satu kali ayunan dan dilakukan sepanjang tali tersebut.
  3. Jaring sweeping net digulung agar serangga tidak lepas, kemudian dimasukkan ke dalam botol pembunuh yang berisi formalin secukupnya dengan kertas. Biarkan sebentar sampai serangga mati.
  4. Penjaring serangga dilakukan dengan sweeping net sebanyak 20 kali pada lokasi padang rumput yang berbeda.
  • Di Laboratorium :
  1. Pengamatan dilakukan dengan cara serangga diambil yang didapat secara acak satu persatu dan diamati. Serangga nomor 1 diberi tanda +, lalu mengambil serangga nomor 2 dan diletakkan berdampingan dengan serangga nomor 1 kemudian diamati. Jika serangga nomor 2 berbeda dengan nomor 1 maka diberi tanda +, tetapi bila sama diberi tanda 0.
  2. Sampai nomor 3 diambil dan dibandingkan dengan sampel nomor 2, demikian seterusnya sampai semua sampel teramati.
  3. Perhitungan Kennedy dilakukan dengan menggunakan rumus :

ID Kennedy = Jumlah Tanda + / Jumlah Organisme yang Diamati

  1. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali, kemudian mengambil rata-ratanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bayu. 2011. Sejarah dan Ruang Lingkup Ekologi dan Ekosistem. www. bayux3.blogdetik.com. Diakses pada tanggal 16 Maret 2011 pukul 20.00 WITA.

Lakitan, B. 1994. Ekologi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Michael, P. E. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.  Universitas Indonesia. Jakarta.

Odum, Eugene. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

 

Setiadi, Agus. 1990. Pengantar Ekologi. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

 

Umar, M. Ruslan. 2009. Penuntun praktikum ekologi Umum. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Wolf, L. 1992. Ekologi Umum.  Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

 

 

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan percobaan tentang Indeks Keanekaragaman Serangga di Padang Rumput yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Indeks keanekaragaman menurut Kennedy (ID.K) pada tempat pengambilan sampel yaitu di padang rumput, sekitar danau UNHAS adalah 0,88 dan 0,73. Tingkat keanekaragaman di lokasi pengambilan sampel menurut ID.K tergolong tinggi karena mendekati 1.
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman adalah faktor-faktor udara, tanah, organisme, dan beberapa faktor stabil, yaitu ketinggian, lintang, letak, dan pH.

 

V.2            Saran

  1. Untuk Laboratorium : sebaiknya laboratorium yang digunakan adalah laboratorium ilmu lingkungan dan kelautan, bukan di laboratorium biologi dasar.

b.   Untuk percobaan : sebaiknya tempat pengambilan sampel tidak pada satu lokasi yang mempunyai faktor fisik yang sama, ada baiknya jika setiap kelompok mengambil sampel pada lingkungan yang berbeda-beda, seperti dekat pabrik, sawah, gunung, pantai, dan lain-lain.

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

IV.1 Hasil

IV.1.1 Tabel Pengamatan

  • Tabel Pengamatan Lokasi I

 

URUTAN SPESIMEN JUMLAH TANDA +
+ + + + 0 + + + 0 + 8
0 + + 0 0 + + + + 6
∑ = 19 ∑ = 14

 

  • Tabel Pengamatan Lokasi I

 

URUTAN SPESIMEN JUMLAH TANDA +
+  +  +  + + + 0 + + 8
∑ = 9 ∑ = 8

 

IV.2 Analisa Data

 

Dari hasil tabel di atas, maka dapat dihitung Indeks Keanekaragaman  Kennedy sebagai berikut :

  • Pada Lokasi I

Indeks Kennedy =  ∑ Tanda +

∑ Spesimen

14          =  0,73

19

  • Pada Lokasi II

ID.K =  ∑ Tanda +

∑ Spesimen

8           =  0,88

9

NB: Nilai Indeks Keanekaragaman Kennedy berada pada kisaran 0-1. Jika indeksnya mendekati 0, maka tingkat keanekaragamannya itu rendah, jika mendekati 0,5, tingkat keanekaragamannya sedang, dan jika mendekati 1, maka tingkat keanekaragamannya termasuk tinggi.

 

IV.3 Pembahasan

Dari percobaan yang telah dilakukan dan setelah melalui proses pengamatan dan perhitungan, maka diperoleh hasil Indeks Keanekaragaman Kennedy untuk perhitungan yaitu pada lokasi pertama adalah 0,73 dan pada lokasi kedua adalah 0,88. Dengan melihat nilai Indeks Kennedy pada lokasi kedua  dari hasil perhitungan di mana nilai yang diperoleh 0,88 mendekati 1, ini menandakan tingkat keanekaragaman serangga di padang rumput sekitar danau Unhas tergolong tinggi. Sedangkan pada lokasi pertama indeks kennedy adalah 0,73 ini lebih rendah keanekaragaman serangga dari pada lokasi kedua.

Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut dapat simpulkan bahwa lingkungan tempat pengambilan sampel tersebut masih cukup labil, artinya lingkungan tempat pengambilan sampel belum terpengaruh oleh hal-hal yang bisa membuat populasi serangga di tempat itu berkurang, pencemaran yang terjadi di danau Unhas belum memberi pengaruh yang cukup berarti pada serangga yang berada disekitar danau. Lingkungan tempat pengambilan sampel menjadi habitat yang cocok untuk serangga-serangga tersebut, sehingga jumlah spesies  serangga yang ada cenderung dalam jumlah yang besar.

Pada percobaan ini tentang indeks keanekaragaman serangga di padang rumput yang diaplikasikan langsung di danau Universitas Hasanuddin, dengan menggunakan alat yaitu Sweeping Net (perangkap serangga) yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap serangga di padang rumput, botol sampel yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung serangga yang telah ditangkap.

Populasi merupakan kelompok individu dari spesies yang sama yang secara morfologis dan biokimia relative sama yang menempati suatu tempat pada waktu tertentu. Populasi tersebut akan membentuk suatu komunitas, dimana komunitas adalah suatu kumpulan berbagai macam organisme (hewan, tumbuhan, dan mikroba) yang hidup bersama dengan saling berhubungan dan berinteraksi di dalam suatu daerah, dimana nantinya komunitas akan membentuk suatu ekosistem,  merupakan suatu sistem di alam dimana organisme terdapat hubungan timbal balik anatara organisme dengan organisme lainnya, juga dengan lingkungannya yang terhimpun dalam suatu habitat.

Keanekaragaman organisme di suatu tempat dipengaruhi oleh beberapa faktor tersebut adalah faktor udara, tanah, organisme, dan beberapa faktor stabil, yaitu ketinggian, lintang, letak, dan pH. Jumlah spesies dalam komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keanekaragaman spesies akan bertambah bila habitat, stabil atau sesuai dengan komunitas bersangkutan.

Dengan keadaan lingkungan yang relatif stabil, serangga masih dapat menambah atau memperbesar jumlah populasinya serta memperbanyak variasi individunya. Tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti populasi dari serangga akan berkurang begitu pula dengan keanekaragamannya karena dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya pencemaran lingkungan, aktivitas manusia yang dapat mempersempit habitat serangga tersebut serta makanan yang tersedia mulai berkurang sehinnga tingkat kompetisi antara serangga menjadi tinggi sehingga serangga banyak yang melakukan emigrasi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ditemukan bahwa indeks keanekaragaman serangga di padang rumput tepatnya di sekitar danau, dikategorikan tinggi karena diakibatkan oleh faktor lingkungan dan serangga mampu beradaptasi karena lokasi pengamatan itu yang memiliki padang rumput yang subur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE SAMPLING BIOTIK DALAM POPULASI ATAU KOMUNITAS

Published December 7, 2012 by mineminecute

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI UMUM

 

PERCOBAAN VI

METODE SAMPLING BIOTIK DALAM POPULASI ATAU KOMUNITAS

 

NAMA           : HARMIN ADIJAYA PUTRI

NIM                : H41110251

KELOMPOK : V (LIMA)

HARI/TGL    : SELASA/5 APRIL 2011

ASISTEN        : SUWARDI

                            YUSDAR M.

 

 

 

 

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).

Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).

Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut (Setiadi, 1984).

Untuk menerangkan suatu populasi atau komunitas, diperlukan sejumlah satuan pengukuran seperti kepadatan, ferkuensi, luas penutupan, dan biomassa maka dilakukanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah:

  1. Untuk mengetahui kepadatan, frekuensi, dan dominasi dari organism penyusun dalam suatu komunitas dengan menggunakan metode petak tunggal, petak ganda, line transek, dan belt transek.
  2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis populasi.

 

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan Metode Sampling Biotik Dalam Populasi Atau Komunitas dilakukan pada hari Selasa, tanggal 5 April 2011 pukul 14.00 WITA bertempat di Laboratrorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengamatan dilakukan di padang rumput, depan koridor Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Komunitas vegetasi pada tumbuhan mempunyai hubungan di antara mereka, mungkin pohon, semak, rumput, lumut kerak dan Thallophyta, tumbuh-tumbuhan ini lebih kurang menempati strata atau lapisan dari atas ke bawah secara horizontal, ini disebut stratifikasi. Individu yang menempati lapisan yang berlainan menunjukkan perbedaan-perbedaan bentuk pertumbuhan, setiap lapisan komunitas kadang-kadang meliputi klas-klas morfologi individu yang berbeda seperti, strata yang paling tinggi merupakan kanopi pohon-pohon atau liana. Untuk tujuan ini, tumbuh-tumbuhan mempunyai klas morfologi yang berbeda yang terbentuk dalam “sinusie” misalnya pohon dalam sinusie pohon, epifit dalam sinusie epifit dan sebagainya (Syafei, 1990).

Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).

Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki. Tujuannya untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan (Syafei, 1990).

Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan bagan yang sebenarnya. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik. Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap segment dipelajari vegetasinya (Kershaw, 1979).

Metode garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat. Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Michael, 1990).

Ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).

Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).

Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Umar, 2010).

Metode garis merupakan sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990).

Metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Michael, 1990).

Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1990).

Ada beberapa satuan pengukuran yang digunakan dalam menerangakn suatu populasi ataupun komunitas seperti frekuensi, kepadatan, luas penutupan, dan biomassa. Kepadatan merupakan jumlah individu per unit area atau unit volume. Dalam suatu tempat tidak semuanya merupakan tempat yang layak bagi suatu spesies hewan. Mungkin dari tempat itu hanya sebagian saja yang merupakan habitat yang layak bagi hewan tersebut. Kepadatan mutlak atau kepadatan ekologi merupakan kepadatan yang mendiami bagian tertentu (Soegianto, 1994).

Sampling fauna menentukan kepadatan mutlak itu seringkali tidak mungkin dilakukan. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat indeks kepadatan yang umum digunakan untuk keperluan pembandingan. Indeks itu hanya dinyatakan seabagai jumlah individu per unit habitat atau jumlah inidividu per unit usaha, bukan lagi jumlah individu per unit luas (Soegianto, 1994).

Sampling tumbuhan menentukan permasalahan yang sering kita hadapi  dalam menentukan suatu individu tanaman. Tumbuhan yang terbentuk pohon atau herba. Untuk tanaman yang hidup di dalam kelompok atau bereproduksi secara vegetatif dengan akar di dalam tanah, cara yang umum digunakan adalah menganggap individu-inidividu tersebut terputus-putus. Sedangkan untuk tanaman yang tumbuh dalam bentuk rumpun, maka setiap rumpun dianggap sebagi satu individu. Untuk kondisi seperti ini, jenis pengukuran yang paling cocok adalah dengan mengukur luas penutupan. Dalam ekologi, frekuensi dipergunakan untuk menyatakan proporsi antara jumlah sampel yang berisi suatu spesies tertentu dengan jumlah total sampel. Frekunsi relatif suatu spesies adalah frekuensi dari suatu spesies dibagi dengan jumlah frekuensi dari semua spesies yang terdapat dalam suatu komunitas (Soegianto, 1994).

Biomassa merupakan berat dari suatu individu suatu populasi dam sering dinyatakan per unit luas atau volume. Luas penutupan adalah proporsi antar luas tempat yang ditutup oleh suatu spesies tumbuhan dengan luas total habitat. Dalam mengukur luas penutupan ini dapat dilakukan dengan cara mengukur luas penutupan tajuk atau luas penutupan batang (Soegianto, 1994).

Metode plot adalah prosedur yang umum digunakan untuk sampling berbagai tipe organisme. Bentuk plot biasanya segi empat atau persegi ataupun dalm bentuk lingkaran. Sedangkan ukurannya tergantung dari tingkat keheterogenan komunitas. Ukuran plot umumnya ditentukan berdasarkan luasan kurva spesies tumbuhan dan hewan menetap (sessile) ataupun yang bergerak lambat, contohnya hewan tanah dan hewan yang bersarang di lubang (Umar, 2010).

Untuk jenis vegetasi tertentu seperti padang rumput, penggunaan metode plot seringkali kurang praktis dan butuh bayak waktu. Untuk mengatasi masalah tersebut, dapat diakali metode transek. Metode transek ini terdapat 3 macam metode yaitu (Umar, 2010) :

  1. Line Transek

Metode ini sering digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas padang rumput.

  1. Belt Transek

Metode belt transek biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi, dan elevasi. Transek dibuat memotong garis-garis topografi, dari tepi laut ke pedalaman, memotong sungia atu menaiki gunung dan menuruni lereng pegunungan.

  1. Metode Strip Sensus

Metode strip sensus sebenarnya sama dengan metode line transek, hanya saja penerapannya untuk mempelajari ekologi vertebrata daratan. Metode ini meliputi, berjalan sepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi.

Dalam luasan tertentu, individu-individu suatu populasi dapat didistribusikan secara seragam, acak, ataupun secara merumpun. Disrtibusi seragam jarang terdapat, hanya terajdi apabila kondisi lingkungan cukup seragam di seluruh luasan dan apabila terdapat persaingan kuat atau antagnisme antara individu-individu misalnya pada hutan-hutan yang lebat pohon-pohon yang tinggal hampir mempunyai  distribusi relatif atau distribusi seragam karena kompetsi untuk mendapatkan unsur hara dan cahaya matahari yang kuat (Heddy, 1986).

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PERCOBAAN

 

III.1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain alat tulis menulis, Plot berukuran buku penuntun (27,5 cm x 21 cm) , Line Transect berukuran 20 m, Belt Transect berukuran 20 m x 0,05 m, patok, dan kalkulator.

 

III.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah areal yang akan diamati (areal komunitas).

III.3 Prosedur Kerja

  1. Plot Acak
  2. Plot Beraturan
  3. Tentukan Areal yang akan di amati
  4. Lempar buku penuntun pada daerah yang ingin diamati vegetasinya
  5. Hitung banyak tumbuhan dan jenisnya yang berada pada bawah buku
  6. Catat hasil pengamatan
  7. Ulangi prosedur kerja pada daerah yang lain
  8. Line Transek
  9. Tentukan areal yang akan diamati
  10. Bentangkan tali sepanjang 20 meter dengan menggunakan patok
  11. Hitung vegetasi yang batangnya mengenai tali dan berada di bawah tali.
  12. Masukkan data ke dalam tabel dan menganalisis data tersebut
  13. Ulangi prosedur kerja untuk daerah sampling lain
  14. Belt Transek
  15. Tetukan areal yang akan diamati
  16. Bentangkan sepasang tali sepanjang 20 meter dengan jarak antara tali satu dengan tali lain 0,5 m menggunakan patok.
  17. Buat kolom sebanyak 20 kolom di antara 2 tali tersebut.
  18. Hitung tanaman yang ada pada kolom genap atau ganjil.
  19. Masukkan data ke dalam tabel dan menganalisis data tersebut.
  20. Ulangi prosedur kerja untuk daerah sampling lain.
  21. Metode Quadran
  22. Tentukan areal yang akan diamati
  23. Bentangkan tali sepanjang 20 m sebagai sampling menggunakan patok.
  24. Buat petak segiempat yang diletakkan dimana terdapat pohon di dalam atau tersentuh tali.
  25. Ukur diameter dari pohon yang berada dalam kawasan quadran menggunakan tali.
  26. Catat hasil pengukuran kemudian analisis data tersebut ke dalam rumus.
  27. Ulangi prosedur kerja pada daerah sampling dan quadran lain.
  1. Dipilih areal yang akan diduga keanekaragaman jenisnya.
  2. Buat petak sampel dalam areal tersebut dan letakkan petak secara acak atau sistematis dengan ukuran yang sesuai dengan keadaan komunitas.
  3. Lakukan perhitungan jumlah individu pada setiap petak sampel.
  4. Buat tabel hasil pengamatan/perhitungan jenis tersebut dan dianalisis.

DAFTAR PUSTAKA

 

Heddy,    Suwasono. 2011. Analisis Vegetasi Tumbuhan. http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 06 April 2011, pukul 20.00 WITA.

Kershaw, K. A. 1979. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology. London. Edward Arnold Publishers.

Michael. 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.

Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat, Bogor. Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB

Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya.

Syafei. 1990. Dinamika Populasi. Kajian Ekologi Kuantitatif.Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Umar, M. Ruslan, 2010. Ekologi Umum Dalam Praltikum. Universitas Hasanuddin. Makassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

IV.1 Hasil

IV.1.1 Tabel

  1. a.   Table Metode plot Acak
Sampel A B C D E jumlah
1 43 0 5   1 49
2 36 1       37
3 42 1 6 1   50
4 58 1   4   63
5 42 1 5     48
6 40 0 1   3 44
7 33 0 2     35
8 48 0 4   2 54
9 53 0 2     55
10 42 2   1 3 48
11 34 1 2   12 49
12 46 2 1 1 26 76
13 41 0 1   25 67
14 44 0   1 30 75
15 36 3 9 2 22 72
16 29 1 10 0 15 55
17 36 0 8 0 17 61
18 40 5 3 0 6 54
19 52 4 2 0 0 58
20 52 0 0 1 1 54
Σ 847 22 61 11 163 1104

 

Jumlah total = 1104, L plot total = 1204 cm persegi

Keterangan : A = rumput gajah                                  D = rumput teki

B = tumbuhan daun kecil                      E = spesies E

C = tumbuhan daun hijau

 

  1. b.      Tabel Metode Plot Sistematis
Sampel A B C D E jumlah
1 47 1 7     55
2 36         36
3 45 1 11 1   58
4 48     4   52
5 42 1 5     48
6 40   1   6 47
7 43   3     46
8 48   5     53
9 53   2     55
10 59 2     8 69
11 55   2   12 69
12 46       26 72
13 40       25 65
14 44       30 74
15 36   9   22 67
16 29 1 12   15 57
17 36   12   17 65
18 40   3   6 49
19 54   2     56
20 56       1 57
Σ 897 6 74 5 168 1150

 

Jumlah total = 1150

L plot total = 12040 cm persegi

Keterangan :

A = rumput gajah                                D = rumput teki

B = tumbuhan daun kecil                      E = spesies E

C = tumbuhan daun hijau

 

 

 

 

  1. c.       Tabel Metode Line Transek

 

Sampel A B C D E F G
1.1 131 49 17 4 3 2 11
1.2 34 13 3 1 0 0 3
1.3 156 13 63 21 12 0 0
2.1 56 34 2 3 2 3 3
2.2 76 32 12 1 3 3 0
2.3 35 21 2 3 4 0 4
jumlah 488 162 99 33 24 8 21

 

Jumlah = 835

L total Plot = 12000 cm persegi

Keterangan :

A = rumput gajah                    F = spesies B

B = rumput teki                       G = spesies C

C = ilalang

D = spesies A

 

  1. d.      Tabel Metode Belt transek

 

  • Belt transek 1,1

 

Petak Rumput liar putri malu rumput teki rumput gajah A B C
1 0 3 7 69 4 0 0
3 152 4 10 62 0 0 0
5 13 98 4 24 37 1 0
7 16 0 2 73 15 0 0
9 0 0 0 56 17 0 0
11 21 0 0 49 0 0 0
13 21 0 7 53 11 0 2
15 0 0 0 45 0 0 0
17 0 0 4 40 0 0 25
19 0 0 17 41 0 0 57
JUMLAH 223 105 51 512 84 1 84

L plot total = 5

Jumlah spesies = 1060

  • Belt transek 1,2
Petak Rumput liar putri malu rumput teki rumput gajah A B C
1 43 4 0 0 2 3 2
3 34 2 4 32 0 0 2
 5 45 3 3 13 3 0 0
7 34 0 0 3 3 0 0
9 54 3 3 32 0 7 2
11 0 2 3 2 0 0 1
13 0 0 7 101 0 0 2
15 32 0 2 65 0 0 2
17 0 0 0 45 0 0 0
19 0 0 0 3 0 0 0
 jumlah 242 14 22 296 8 10 11

L plot total = 5

Jumlah spesies = 603

  • Belt transek 1,3
Petak Rumput liar putri malu rumput teki rumput gajah A B C
1 12 4 8 24 3 2 1
3 11 2 4 32 0 0 0
5 5 10 3 21 0 0 0
7 32 1 1 32 3 2 1
9 54 3 3 32 2 3 2
11 0 0 3 2 0 0 0
13 0 2 7 67 0 2 2
15 0 0 14 46 0 0 0
17 0 1 0 49 0 0 0
19 0 0 2 12 0 0 0
 jumlah 114 23 45 317 8 9 6

L plot total = 5

Jumlah spesies = 522

  • Belt transek 2,1
Petak Rumput liar putri malu rumput teki rumput gajah A B C
1 123 3 0 0 21 0 0
3 143 4 0 34 0 3 0
5 21 23 1 2 3 0 0
7 87 0 0 0 21 0 0
9 23 0 0 12 0 0 0
11 0 0 14 65 0 0 2
13 0 2 7 34 0 2 2
15 0 0 0 12 0 0 2
17 0 0 6 45 2 0 0
19 0 0 28 21 0 0 3
  397 32 56 225 47 5 9

L plot total = 5

Jumlah spesies = 771

  • Belt transek 2,2
Petak Rumput liar putri malu rumput teki rumput gajah A B C
1 0 3 4 45 1 1 0
3 43 4 6 34 0 0 1
5 12 43 4 23 23 1 2
7 4 0 5 44 3 0 0
9 0 0 0 46 32 0 2
11 2 32 0 60 0 2 0
13 30 0 5 34 11 0 2
15 0 0 0 45 0 0 0
17 34 0 4 41 0 0 0
19 0 0 4 38 1 0 28
JUMLAH 125 82 32 410 71 4 33

L plot total = 5

Jumlah spesies = 757

 

 

  • Belt transek 2,3
Petak rumput gajah putri malu rumput teki Rumput liar A B C
1 0 3   175 4 0 0
3 23 4 3 152   0 0
5   98   27 3 0 0
7 0 0 0 87 0 0 0
9   0 0 97   7  
11 65 0 14 0 0 0 1
13 101 0 7 0 0 0 2
15 65 0 0 0 0 0 2
17 45 0 6 0 0 0 0
19 40 0 28 0 0 0 0
  339 105 58 538 7 7 5

L plot total = 5

Jumlah spesies = 1059

  1. e.       Tabel Metode Kuadran
sampel spesies diameter (cm)
1,1 pohon 66
  semak 3
  semak 3
  perdu 8
  perdu 8
  cemara 13
1,2 0 0
  0 0
  Nangka 7
2,1 cemara 7
  beringin 45
  0  
2,2 asam 52
  Nangka 4
  0 0

 

 

kunci dikotomi

Published December 7, 2012 by mineminecute

KUNCI DIKOTOMI
1.a.Karnivora……………………………………………………………Nomor 2
b.Herbivora…………………………….…………………………………Nomor 7
c.Omnivora……….……………………………………………………Nomor 13

2.a.Memiliki Puting Susu……………………………………………………………….Nomor 4
b.Tidak Memiliki Puting Susu……………………………………………………… Nomor 3

3.a.Berbentuk  Ikan……………………………………………………………………… Cetacea
b.Berbentuk seperti mamalia pada umumnya………………………………. Monotremata
4.a.Pemakan daging………………………………………………………………….. Karnivora
b.Pemakan Serangga…………………………………………………………………  Nomor 5

 

5.a.Memiliki Gigi ………………………………………………………………….. Insectivora
b.Tidak memiliki Gigi………………………………………………………………. Nomor 6

6.a.Bersisik…………………………………………………………….Pholidota
b.Berkulit perisai……………………………………………………………………….. Edentata
7.a.Memiliki  kantung ……………………………………………………………….. Marsupilia
b.Tidak memiliki kantong………….. ……………………………………Nomor 8

 

8.a.Hidup di air…………………………………………………………………………….. Sirenia
b.Hidup di  darat……………………………………………………………………… Nomor 9

9.a.Memiliki belalai……………………………………………………………… Proboscidae
b.Tidak memiliki belalai ……………………………………………..Nomor 10

 

10.a.Kaki depan pendek………………………………………..…Lagomorpha
b.Kaki depan dan belakang sama…………………………………….Nomor 11

11.a.Berukuran lebih kecil dari 20 cm………………………………Scadentia
b.Berukuran lebih besar dari 20 cm………………………………Nomor 12

 

12.a.Berkuku jari genap…..………………………………………..Artiodactyla
b.Berkuku jari ganjil….……………………………………………..Perissodactyla

13.a.Modifikasi tubuh untuk terbang……………………………………Chiroptera
b.Tidak dapat terba………………………………………………….…Nomor 14

 

14.a.Ibu jari yang dapat disentuhkan ke jari lain………………………..Primata
b.Ibu jari yang tidak dapat disentuhkan ke jari lain…………..………..Rodentia

 

 

 

Pholidota
1. Tubuh bersisik keras……………………………………………….Manidae

Manidae
1.a.Jenis Asia…………………………………………………………….Manis
b.Jenis Afrika..…………………………………………………..….…Phataginus

Proboscidae
1.Keluarga gajah………………………………………………………..Elephantidae

Elephantidae
1.a.Jenis Asia (belalai kaku)………………………………………………..Elephas
b.Jenis Afrika (belalai lemas)………………………………..…….…Loxodanta

Scadentia
1.Keluarga tupai……………………………………………….………Tupaiidae

Tupaiidae
1.a.Ekor kecil…………………………………………………………..Dendrogale
b.Ekor panjang………………………………………………………………Tupaia

Monotremata
1.a.Tubuh ditutupi bulu halus…….…………………………… .Ornithorhynchidae
b.Tubuh ditutupi duri kasar….…..…………………………………Tachyglossidae

Ornithorhynchidae
1.a.Platypus modern……………………………………………..Ornithorhynchus
b.Platypus kuno (punah)….….………………………………………Obdurodon

Tachyglossidae
1.a.Echidna moncong panjang…………………………………………Zaglossus
b.Echidna moncong pendek………………………………………Tachyglossus

Chiroptera
1.a.Berukuran besar………………………………………………Megachiroptera
b.Berukuran kecil………………………………………………Microchiroptera

Megachiroptera
1.Memiliki moncong panajng…………………………………..…..Pteropodidae

Microchiroptera
1.a.Ekor tikus………………………………………………Rhinopomiatidae
b.Ekor pelapah…….………………………………..…………….Emballonuridae
2.a.Jenis biasa………..…………………………………………..Vespertilionidae
b.Jenis Muka cekung…….……….……………………………………Nycteridae

 

 

Rodentia
1.a.Tubuh dilindungi duri……………………….…………………………Nomor b.Tubuh tidak dilindungi duri ………………………..…………………Nomor 3
2.a.Duri pelindung pendek………….………………………………Erethizontidae
b.Duri pelindung lebih panjang…………….………………..……….Hystricidea
3.a.Gigi seri sangat kuat…………………………………….……….….Castoridae
b.Gigi seri tidak terlalu kuat…………………….…………….………Muridae

Erethizontidae
1.a.Ekor kecil………………………………………………………..Dendrogale
b.Ekor panjang……….……………………………………………………Tupaia

Hystricidae
1.a.Landak padi……………………………………………………………..Trichys
b.Landak Nibung…….………………………….……………………… Atherurus

Castoridae
1.Berang-berang…………………………………………………………….Castor

Muridae
1.a.Tikus……………………………………………………………………Rattus
b.Mencit……………………………………………………………………….Mus

Marsupialia
1.a.Meloncat dengan kaki belakang..………………………………Macropodidae
b.Meloncat dengan ekor (di atas pohon)………….………………Phalangeridae

Macropodidae
1.a.Jenis Australia………………………………………………………..Macropus
b.Jenis Irian….….………………………………………………….Dendrolagus

Phalangeridae
1.a.Hidup di hujan tropis.…………….……………………………………Ailurops
b.Hidup di barat laut Australia……………………………………………..Wyulda

Lagomorpha
1.a.Telinga besar membulat…………………………………………Ochotonidae
b.Telinga panjang………………………………………….……….…Leporidae

Ochotonidae
1.Ukuran kecil………………………………………………………….Ochotona

Leporidae
1.a.Sering bersembunyi di terowongan tanah…………………………Oryctolagus
b.Sering muncul di permukaan…..………………………………………..Lepus

 

 

Cetacea
1.a.Makan dengan gigi……………………………………………………Nomor 2
b.Makan dengan baleen..………………………………………..……..Balaenidae
2.a.Tidak Memiliki Moncong……………………………………………Nomor 3
b.Memiliki Moncong……………………..………………………….….Nomor 4 3.a.Lehernya terpisah……………………..…………………………Monodontidae
b.Lehernya menyatu……………………..……………………………Phocoenidae 4.a.Paus……………………..…………………………………………….Ziphiidae
b.Lumba-Lumba…………………………………………………….…..Nomor 5
5.a.Hidup di lautan……………………………………………………Delphinidae
b.Hidup di sungai. …………………………………………………Platanistidae

Delphinidae
1.a.Memiliki Moncong…….….…………………………………………Delphinus
b.Berhidung botol……………………….………………………..…….Tursiops

Edentata
1.a.Mempunyai moncong…………………………………………………Nomor 2
b. Tidak mempunyai moncong……..…………..………………………Nomor 3
2.a.Kukunya besar dan tajam……………….…………………Myrmecophagidae
b.Kukunya kecil………………………………………………….…Dasypodidae
3.a.Berjari tiga…………………………………………………….. Bradypodidae
b.Berjari dua…………..………………………………………. Megalonychidae

Dasypodidae
Armadillo…………………………………………………………………Priodontes
Carnivora
1.a.Keluarga Kucing……………………………………………………….Felidae
b.Keluarga anjing………………………………….…………………….Canidae
Felidae
1.a.Berukuran kecil………………………………………………………..Felis
b.Ukuran besar…….………………………………………………….Panthera

Canidae
Anjing……………………………..……………………………………………Canis

Perissodactyla
1.a.Bertubuh ramping……………………………………………………Equidae
b.Bertubuh pendek dan gemuk……………….…………………………Nomor 2
2.a.Memiliki Cula………………………………………………Rhinocirotidae
b.Tidak Memiliki cula……………………………………………….…Tapiridae

Equidae
Jenis keluarga kuda………………………………………………..………………..Equus

 

 

 

Rhinocirotidae
1.a.Bercula satu……………………………………………………………Rhinoceros
b.Bercula dua……………………..……….………………………………Diceros

Artiodactyle
1.a.Sistem pencernaan sederhana…………………….……………………Suidae
b.Sistem pencernaan kompleks..…………………………..……………Bovidae

Suidae
1.a.Taring menonjol……..……………………………………………Babyrousa
b.Taring tidak menonjol…..……………………………………………….Sus

Bovidae
1.a.Berukuran sedang……………………..…………………………………..Capra
b.Ukuran besar…….………..………………………………………………Bovinae

Primata
1.a.Tarsal kaki belakang panjang.…………………………………………Tarsiidae
b.Kaki berukuran sama…………………………………………………..Nomor 2
2.a.Monyet dunia baru……………………………………………………Cebidae
b.Monyet Dunia lama……………………………………….…..Cercopithecidae

 

Mamalia

1. Anoa

Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan: Hewan

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Ordo: Artiodactyla

Famili: Bovidae

Upafamili: Bovinae

Genus: Bubalus

Spesies: Bubalus quarlesi

Anoa adalah hewan khas Sulawesi. Ada dua spesies anoa yaitu: Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis). Keduanya tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Penampilan mereka mirip dengan rusa dan memiliki berat 150-300 kg. Anak anoa akan dilahirkan sekali setahun.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10b….11b….12a….…….Ordo Artiodactyla

1b……….Famili Bovidae 1b……….Ordo Bovinae

 

 

 

 

 

2. Babirusa

Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Artiodactyla

Famili: Suidae

Genus: Babyrousa
Spesies: B. babyrussa

Babirusa (Babyrousa babirussa) hanya terdapat di sekitar Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan Maluku. Habitat babirusa banyak ditemukan di hutan hujan tropis. Hewan ini gemar melahap buah-buahan dan tumbuhan, seperti mangga, jamur dan dedaunan. Mereka hanya berburu makanan pada malam hari untuk menghindari beberapa binatang buas yang sering menyerang.
Panjang tubuh babirusa sekitar 87 sampai 106 sentimeter. Tinggi babirusa berkisar pada 65-80 sentimeter dan berat tubuhnya bisa mencapai 90 kilogram.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10b….11b….12a….…….Ordo Artiodactylacc
1a……….Famili Suidae 1a……….Genus Babyrousa

3. Anjing

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan:Animalia

Filum:Chordata

subfilum: Vertebrata

Kelas:Mammalia

Ordo:Canidae

Genus:Canis

Spesies:Canis lupus

 

Anjing memiliki otot yang kuat, tulang pergelangan kaki yang bersatu, sistem kardiovaskuler yang mendukung ketahanan fisik serta kecepatan berlari, dan gigi untuk menangkap dan mencabik mangsa. Bila dibandingkan dengan struktur tulang kaki manusia, secara teknis anjing berjalan berjingkat dengan jari-jari kaki.
Kunci Dikotomi:
1a….2a….4a….…….Ordo Karnivora
1b……….Famili Canidae

4. Kambing

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan:Animalia

Filum:Chordata

Kelas:Mammalia

Ordo:Artiodactyla

Familia:Bovidae

Subfamilia: Caprinae

Genus:Capra
Spesies:Capra aegagrus

 

Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada kambing jantan lebih besar. Umumnya, kambing mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar, tidak termasuk ekor, adalah 1,3 meter – 1,4 meter, sedangkan ekornya 12 sentimeter – 15 sentimeter. Bobot yang betina 50 kilogram – 55 kilogram, sedangkan yang jantan bisa mencapai 120 kilogram.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10b….11b….12a….…….Ordo Artiodactylac
1b……….Famili Bovidae 1a……….Genus Canis

5. Tupai

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Scandentia

Famili: Tupaiidae

Genus: Tupaia
Spesies: Tupaia javanica

Hidup di hutan-hutan yang terbuka dan perkebunan, terutama di tempat dengan banyak pohon kecil. Tupai kekes aktif pada siang hari (diurnal), terutama di waktu pagi.Sepintas, perilakunya serupa dan sukar dibedakan dari bajing kelapa. Apalagi kedua jenis hewan ini memiliki ukuran tubuh yang hampir sama dan relung ekologis (ecological niche) yang bertumpang tindih. Agak pemalu, tupai kekes senang mencari makanan di pohon-pohon kecil atau perdu yang terbuka atau setengah terbuka. Makanannya terutama aneka serangga dan buah-buahan. Mungkin juga memakan hewan-hewan kecil lain. Sering pula mengunjungi pohon-pohon yang mati, untuk mencari serangga di balik kulit kayunya yang mengering.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10b….11a….…….Ordo Scandentia
1b……….Genus Tupaia

6. Platypus

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas:Mammalia

Ordo: Monotremata

Familia: Ornithorhynchidae

Genus: Ornithorhynchus
Spesies: Ornithorhynchus anatinus

Platipus adalah hewan semi-akuatik yang banyak ditemui di bagian timur benua Australia. Walaupun Platipus bertelur tapi ia tergolong ke dalam kelas Mammalia karena ia menyusui anaknya. Platipus juga sering dikenal dengan nama duck-billed Platypus atau Platypus berparuh itik disebabkan bentuknya yang menyerupai bebek.
Platipus termasuk binatang yang aneh dari kerajaan Animalia. Binatang ini Mammalia tapi bertelur. Platipus memiliki paruh yang seperti bebek dan kaki berselaput. Seperti halnya kangguru dan koala, platipus menjadi simbol fauna Australia
Kunci Dikotomi:
1a….2b….3b.…….Ordo Monotremata
1a………Famili Ornithorhynchidae 1a………Ordo Ornithorhynchus

7. Tringgiling
Klasfikasi Ilmiah:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Mamalia
Sub class : Eutheria
Ordo : Polidota
Family : Manidae
Genus : Manis
Spesies : Manis sp

Termasuk kelas mamalia karena memiliki kelenjar susu dan pengasuhan anaknya sudah berkembang dengan baik. Warna tubuhnya coklat dan sedikit kehijauan dengan bagian abdomen agak kuning keemasan. Ciri khasnya adalah tubuhnya dittutupi oleh sisik-sisik yang seperti lempengan warna cokat dan tubuhnya dapat menggulung seperti bola bila terancam bahaya. Tidak memiliki gigi, makanannya berupa hewan kecil
Kunci Dikotomi:
1a….2a….4b….5b……6a……..Ordo Polidota
1a……….Famili Manidae 1a……….Ordo Manis

 

8. Kanguru

Klasifikasi Ilmiah:
Kingdom :Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Mammalia
Ordo :Marsupilia
Subordo :halangerida
Familia :Macropodidae
Genus :Macropus
Spesies : Macropus rufus

Kanguru atau kangguru adalah hewan mamalia yang memiliki kantung (marsupialia). Hewan ini termasuk hewan khas Australia. Kata kanguru diambil dari bahasa Aborigin gangguru.Kanguru mempunyai dua kaki belakang yang kuat, telapak kakinya yang besar didesain untuk meloncat. Kanguru biasa melompat dengan kecepatan 20-25 km/jam. Tapi mereka bisa melompat hingga kecepatannya menjadi
70 km/jam. Harapan hidup kanguru sekitar 9-18 tahun. Walau terkadang ada kanguru yang bisa bertahan hidup hingga 28 tahun.
Kunci Dikotomi:
1b…….7a……….Ordo Marsupilia
1a……….Famili Macropodidae 1a………Genus Macropus

9. Monyet
Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Ordo: Primata

Famili: Cercopithecidae

Genus: Macaca

Spesies: Macaca mulatta

Monyet rhesus (Macaca mulatta), yang juga disebut Macaque Rhesus, adalah salah satu spesies monyet Dunia Lama yang paling terkenal. Monyet ini banyak terdapat di Afghanistan hingga ke India utara dan Tiongkok selatan. Monyet rhesus bersifat dimorfis secara seksual. Monyet rhesus jantan dewasa tingginya rata-rata sekitar 53 cm. Dan beratnya rata-rata 7,7 kg. Monyet betinanya lebih kecil, tingginya rata-rata 47 cm dan beratnya 5,3 kg. Warnanya coklat atau kelabu dan mukanya berwarna merah jambu dan biasanya penuh dengan bulu. Panjang ekor mereka sedang, rata-rata antara 20,7 dan 22,9 cm.
Kunci Dikotomi:
1c…….13b……….14a……..Ordo Primata
1b…….2b……….Famili Cercopithecidae

10. Paus
Paus adalah sejenis mamalia yang hidup di lautan. Meskipun dalam bahasa Indonesia paus sering disebut “ikan paus”, paus sebenarnya bukanlah tergolong dalam keluarga ikan. Seperti hewan mamalia yang lain ikan paus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: bernafas melalui paru-paru, mempunyai bulu (sedikit, hampir tidak ada bagi paus dewasa), berdarah panas, mempunyai kelenjar susu, dan mempunyai jantung empat bilik.
Kunci Dikotomi:
1a….2b….3a….…….Ordo Cetacea

11. Lumba-Lumba

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan :Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Mammalia
Ordo :Cetacea
Subordo :Odontoceti
Familia elphinidae
Genus : Elphinus
Spesies Elphinus delphis

Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Sehingga banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Salah satu contoh adalah kulit lumba-lumba yang mampu memperkecil gesekan dengan air, sehingga lumba-lumba dapat berenang dengan sedikit hambatan air.
Lumba-lumba memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar, sistem ini dapat menghindari benda-benda yang ada di depan lumba-lumba, sehingga terhindar dari benturan. Lumba-lumba adalah binatang menyusui. Mereka hidup di laut dan sungai di seluruh dunia. Lumba-lumba adalah kerebat paus dan pesut. Ada lebih dari 40 jenis Lumba-lumba.
Kunci Dikotomi:
1a….2b….3a….…….Ordo Cetacea

 

12. Sapi

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Artiodactyla

Famili: Bovidae

Genus: Bos

Spesies: Bos Indicus

Sapi adalah hewan ternak dari familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Selain dipelihara untuk bercocok tanah (menarik bajak, dan lain-lain), sapi juga diambil susu dan dagingnya.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10b….11b….12a….…….Ordo Artiodactylacc

 

13. Tikus

Klassifikasi Ilmiah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Class : Mamalia
Ordo : Rodentia
Family : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus rattus

Termasuk kelas Mamalia karena memiliki kelenjar susu. Daerah sebaran hampir meliputi semua benua. Warna tubuh bervariasi putih, coklat dan hiitam. Suhu tubuhnya tetap, homoeterm. Hidup secara berkoloni. Ciri khasnya tubuh kecil dan memiliki ekor yang panjang.
Kunci Dikotomi:
1c….2a….13b….14b…….Ordo Rodentia

 

14. Kelinci

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan:Animalia

Filum:Chordata

Kelas:Mammalia

Ordo:Lagomorpha

Familia:Leporidae

Lama Hidup : 5-10 Tahun, Lama Produksi : 1-3 Tahun, Lama Bunting : 28-35 Hari (rata-rata 29-31 hari), Lama Penyapihan : 6-8 Minggu, Umur Dewasa : 4-10 Bulan, Umur Dikawinkan : 6-12 Bulan, Kawin Sesudah Beranak (Calving Interval) : 1 Minggu setelah Anak disapih.
Siklus Kelamin : Poliestrus dalam setahun bisa 5 kali bunting, Siklus Berahi : Sekitar 2 Minggu, Periode Estrus : 11-15 Hari, Ovulasi : Terjadi pada hari kawin (9-13 jam kemudian), Fertilitas : 1-2 Jam sesudah Kawin, Jumlah Anak Lahir : 4-10 ekor (rata-rata 6-8), Volume Darah : 40 ml/kg berat badan, Bobot Dewasa : Sangat bervariasi, tergantung pada ras, jenis kelamin dan faktor pemeliharaan.

Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10a.…….Ordo Lagomorpha

15. Kuda

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Perissodactyla

Famili: Equidae

Genus: Equus

Spesies: E. caballus

Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan ternak yang penting secara ekonomis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9b….10b….11b….12b….…….Ordo Perissodactyla

 

 

16. Harimau

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Carnivora

Famili: Felidae

Genus: Panthera

Kucing, Felis silvestris-catus, adalah sejenis karnivora. Kata “kucing” biasanya merujuk kepada “kucing” yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada “kucing raksasa” seperti singa, harimau, macan dan sebagainya.
Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 3.500 tahun yang lalu, ketika orang Mesir kuno menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari hasil panen. Saat ini, kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia.
Kunci Dikotomi:
1a….2a….4a….…….Ordo Karnivora

17. Kelelawar

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Infrakelas: Eutheria

Superordo: Laurasiatheria

Ordo: Chiroptera

Kelelawar biasa adalah suku kelelawar terbesar, yang paling beragam dan paling tersebar luas, terdapat di setiap benua kecuali Antartika. Tengkorak dan susunan giginya bervariasi. Janis2 dari pulau Kalimantan dikelompokkan dalam empat anak suku yang terdiri dari 11 marga (dua di antaranya dibagi lebih lanjut menjadi anak marga). Masing2 marga dapat dibedakan berdasarkan kombinasi ciri-ciri eksternal seperti telinga dan bentuk sayap, dan juga ciri tengkorak dan gigi.
Kunci Dikotomi:
1c…..13a….…….Ordo Chiroptera

18. Gajah

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

subfilum: Vertebrata

Kelas: Mammalia

Ordo: Proboscidea

Familia: Elephantidae
Genus : Elephas
Spesies : Elephas maximus

Famili Elephantidae (Gajah) adalah famili dari ordo Pachyderm, dan satu-satunya famili yang tersisa dari ordo Proboscidea.Gajah adalah salah satu hewan yang ada di Indonesia. Gajah adalah mammalia dan merupakan hewan darat terbesar di dunia. Periode kehamilan gajah adalah 22 bulan, terlama dibandingkan hewan darat lainnya. Berat anak gajah pada umumnya 120 kilogram. Seekor gajah bisa hidup selama 70 tahun.
Kunci Dikotomi:
1b….7b….8b….9a….…….Ordo Proboscidae

19. Lemur

Klasifikasi Ilmiah:
Kingdom : animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : vertebrata
Class : mamalia
Subclass : Eutheria
Ordo : dermoptera
Familia : cyanocephalidae
Genus : Cyanocephalus
Spesies : Cyanocephalus volans

Sebelumnya, lemur terbang atau dalam bahasa Indonesia disebut kubung pelanduk hanya dikelompokkan dalam dua spesies. Masing-masing kubung pelanduk Sunda (Galeopterus variegatus) dan kubung pelanduk Filipina (Cynocephalus volans) di Filipina.
Hewan tersebut memiliki keunikan karena kemampuannya melayang di udara sehingga seolah-olah terbang. Dengan selaput di antara kaki-kakinya, kubung pelanduk dapat melompat dari batang pohon ke pohon lainnya hingga sejauh 136 meter.
Kunci Dikotomi:
1c…..13a….…….Ordo Chiroptera

20. Armadillo

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Superordo: Xenarthra

Ordo: Edentata
Famili: Dasypodidae

Armadillo adalah mamalia plasental kecil, diketahui karena memiliki perisai pada tubuhnya. Dasypodidae adalah satu-satunya famili yang selamat pada ordo Cingulata. Panjang normal armadillo ini adalah 75 cm (termasuk ekor). Armadillo raksasa, armadillo terbesar mencapai panjang 90 cm. Armadillo merupakan binatang asli Amerika yang hidup pada berbagai lingkungan.
Kunci Dikotomi:1c…..13a….…….Ordo edentata

21. Kus-Kus

Klasifikasi Ilmiah:
Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Mammalia

Subclass: Marsupialia

Order: Diprotodontia

Family: Phalangeridae

Genus: Spilocuscus

Species: S. maculatus

Kuskus Beruang atau Kuse (Ailurops ursinus) adalah salah satu dari dua jenis kuskus endemik di Sulawesi. Binatang ini termasuk dalam golongan binatang berkantung (marsupialia), dimana betinanya membawa bayi di dalam kantong yang terdapat di bagian perut. Panjang badan dan kepala kuse adalah 56 cm, panjang ekornya 54 cm dan beratnya dapat mencapai 8 kg. Kuse memiliki ekor yang prehensil, yaitu ekor yang dapat memegang dan biasa digunakan untuk membantu berpegangan pada waktu memanjat pohon yang tinggi.
Kunci Dikotomi:
1b…….7a……….Ordo Marsupilia
1b…….….Famili Phalangeridae 1b…….….Famili Phalangeridae

22. Babi

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Ordo: Artiodactyla

Familia: Suidae

Genus: Sus

Babi adalah sejenis hewan ungulata yang bermancung panjang dan berhidung leper dan merupakan hewan yang aslinya berasal dari Eurasia. Kadang juga dikenali sebagai khinzir[1] (perkataan Arab). Babi adalah omnivora, yang berarti mereka mengkonsumsi baik daging maupun tumbuh-tumbuhan. Selain itu, babi adalah salah satu mamalia yang paling pintar, dan dilaporkan lebih pintar dan mudah dipelihara dibandingkan dengan anjing dan kucing.
Kunci Dikotomi:
1c…..13a….…….Ordo Chiroptera

23. Tarsius

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Primata

Famili: Tarsiidae
Genus: Tarsius

Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar dan kaki belakang yang sangat panjang. tulang tarsus di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya 10 sampai 15 cm, namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang 20 hingga 25 cm. Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang debngan lengan atas.
Kunci Dikotomi:
1c…..13a….…….Ordo Chiroptera

 

24. Berang-Berang

Klasfikasi Ilmiah:
Kerajaan: Hewan

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Ordo: Rodentia

Famili: Castoridae

Genus: Castor

Berang-berang merupakan hewan pengerat yang berasal dari Amerika Utara dan Eropa serta hidup di dua tempat air dan darat. Berang-berang berasal dari keluarga Castoridae, yang terdiri dari satu marga yaitu Castor.
Kunci Dikotomi:
1c…..13a….…….Ordo Chiroptera

 

25. Zebra

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mammalia

Ordo: Perissodactyla

Famili: Equidae

Genus: Equus

Spesies: E. zebra

Zebra adalah binatang dari famili kuda yang tubuhnya berbelang-belang hitam dan putih. Penyebaran habitat di Afrika Selatan, Afrika Barat dan Afrika Timur. Ada tiga jenis zebra yaitu : zebra gunung, zebra dataran dan zebra primitif.
Nama ilmiah: Equus zebra untuk zebra gunung; Equus quagga untuk zebra dataran dan Equus grevyi untuk zebra primitif. Belang-belang pada tubuh zebra dapat membantu sistem pertahanan zebra terhadap predator.
Kunci Dikotomi: 1c…..13a….…….Ordo Chiroptera

 

 

 

26. Lepus cuniculus

Klassifikasi dari Lepus cuniculus adalah :

Kingdom               : Animalia

Filum                      : Chordata

Kelas                      : Mammalia

Ordo                       : Lagomorpha

Famili                     : Leporidae

Genus                     : Lepus

Spesies                   : Lepus cuniculus ( Linneus,1758)

Vern name            : Kelinci

Lepus cuniculus memiliki  berat 268 gr, panjang ekor 19 mm, panjang telinga 149 mm, PKB 100 mm, panjang badan 123 mm, panjang telinga 58 mm, jenis kelamin jantan, telinga berwarna putih, kepala berwarna putih, tubuh berwarna putih, tubuh bagian bawah putih, mata berwarna merah, kaki depan mempunyai 5 jari, kaki belakang mempunyai 4 jari dan rumus giginya 2/1 0/0 2/2 3/3.

Hewan ini bersifat nocturnal dan pemakan segala ( omnivora ),namun sangat menyukai bulir-bulir,betina mampu beranak kapan saja. Mencit termasuk dalam famii Muridae dan termasuk dalam kelompok mamalia berekor panjang dan rambut pendek. Tulang relatif kecil sebagain tertutup rambut (Van Derlzon,1979).

Di Indonesia banyak terdapat kelinci lokal, yakni jenis Kelinci jawa (Lepus negricollis) dan http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kelinci_jawa&action=edit&redlink=1″>Kelinci jawa, diperkirakan masih ada di hutan-hutan sekitar wilayah Jawa Barat. Warna bulunya cokelat perunggu kehitaman. Ekornya berwarna jingga dengan ujungnya yang hitam. Berat Kelinci jawa dewasa bisa mencapai 4 kg. Sedangkan Kelinci sumatera, merupakan satu-satunya ras kelinci yang asli Indonesia. Habitatnya adalah hutan di pegunungan Pulau Sumatera. Panjang badannya mencapai 40 cm. Warna bulunya kelabu cokelat kekuningan (Anonymous, 2011).

Kelinci adalah hewan crepuscular. Crepuscular secara mudahnya dapat diartikan sebagai hewan yang paling banyak aktif saat menjelang fajar atau menjelang malam. Peralihan antara waktu aktif hewan yang nocturnal dan diurnal. Makanya sangat wajar sekali (dan sangat baik) bila kita banyak memberi makan kelinci kita pada saat-saat itu. Dan kelinci kita akan selalu ingin bermain dan beraktifitas, lebih pada saat fajar subuh dan senja (Payne, 2000).

28. Mus musculus

Klasifikasi dari Mus musculus adalah :

Kingdom               : Animalia

Filum                      : Chordata

Kelas                      : Mammalia

Ordo                       : Rodentia

Famili                     : Muridae

Genus                     :Mus

Spesies                   : Mus musculus (Linneus,1758)

Vern name            : Mencit

Mus musculus memiliki berat 39 gr, panjang total 166 mm, panjang ekor 107 mm, panjang telinga 10mm, panjang badan 110 mm, jenis kelamin jantan, warna matanya merah, warna rambut yang menutupi tubuhnya berwarna putih. Giginya masih gigi susu.

Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran kecil. Mencit mudah dijumpai di rumah-rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigiti mebel dan barang-barang kecil lainnya, serta bersarang di sudut-sudut lemari. Hewan ini diduga sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia, setelah manusia. Mencit sangat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada yang tinggal di perkotaan (Annonymous, 2011).

Mencit kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan dan mewah. Namun, sebagian besar tikus diperoleh dari peternak hewan laboratorium untuk digunakan dalam penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan. Bahkan, tujuh puluh persen dari semua hewan yang digunakan dalam kegiatan biomedis tikus. Melebihi dari 1000 saham dan strain tikus telah dikembangkan, serta ratusan mutan saham yang digunakan sebagai model penyakit manusia. Dalam hal genetika, mouse adalah mamalia dicirikan paling lengkap (Anonymous, 2011).

29. Felis domestica

Klasifikasi dari Felis domestica adalah :

Kingdom               : Animalia

Filum                      : Chordata

Kelas                      : Mammalia

Ordo                       : Carnivora

Famili                     : Felidae

Genus                     : Felis

Spesies                   : Felis domestica (Linneus,1758)

Vern name            : Kucing

Felis domestica  memiliki panjang total 495 mm, panjang ekor 90 mm, panjang telinga 40 mm, panjang badan 405 mm, jenis kelamin betina.

Kucing dianggap sebagai “karnivora yang sempurna” dengan gigi dan saluran pencernaan yang khusus. Gigi premolar dan molar pertama membentuk sepasang taring di setiap sisi mulut yang bekerja efektif seperti gunting untuk merobek daging. Meskipun ciri ini juga terdapat pada famili Canidae atau anjing, tapi ciri ini berkembang lebih baik pada kucing. Tidak seperti karnivora lain, kucing hampir tidak makan apapun yang mengandung tumbuhan. Beruang dan anjing kadang memakan buah, akar, atau madu sebagai suplemen jika ada sementara kucing hanya memakan daging, biasanya buruan segar (Annonymous, 2011).

Melihat dari perilaku kucing yang ada saat ini, kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing peliharaan diperkiraan berevolusi pada iklim gurun. Kucing senang dengan suasana hangat dan sering tidur di bawah hangatnya sinar matahari. Kotorannya biasanya kering dan kucing lebih suka menguburnya di tempat berpasir. Kucing dapat mematung, tidak bergerak cukup lama terutama ketika sedang mengintai mangsa atau bersiap untuk “pounce”. Di Afrika Utara masih ditemukan kucing liar yang mungkin berkerabat dekat dengan nenek moyang kucing peliharaan saat ini (Anonymous, 2011).

Karena memiliki kekerabatan yang dekat dengan binatang gurun, ketahanan kucing terhadap panas dan dinginnya iklim daerah subtropis agak terbatas. Kucing tidak tahan terhadap kabut, hujan, dan salju, meskipun ada beberapa jenis seperti Norwegian Forest Cat dan Maine Coon yang mampu bertahan; dan berusaha mempertahankan suhu tubuh normalnya, yaitu 39°C, dalam keadaan basah. Kebanyakan kucing tidak suka berendam dalam air, kecuali jenis Turkish Van (Anonymous, 2011).

30. Homo sapien

Klasifikasi dari Homo sapien adalah :

Kingdom               : Animalia

Filum                      : Chordata

Kelas                      : Mammalia

Ordo                       : primata

Famili                     : Homonidae

Genus                     : homo

Spesies                   : Homo sapien (Linneus,1758)

Vern name            : manusia

Homo sapien memiliki panjang total 1670 mm, panjang kepala badan 870 mm, panjang badan 800 mm, panjang telinga 65 mm, berat 56 kg.

Pada system taksonomi manusia dikenal dengan Homo sapiens. anatomi manusia modern berasal dari Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu, mencapai penuh modernitas perilaku sekitar 50.000 tahun yang lalu. Manusia memiliki otak yang sangat sangat berkembang, mampu manalarkan abstrak, bahasa , introspeksi , dan pemecahan masalah . Kemampuan mental, dikombinasikan dengan tubuh yang tumbuh tegak yang dapat menggerakkan tangandan mamanipulasi, mempunyai proses berfikir yang jauh lebh tinggi  disbanding dengan makluk lainnya, seperti kesadaran diri , rasionalitas , dan cita rasa , dianggap mendefinisikan fitur apa yang merupakan ” orang ” (dewi lestari cantika, 2011).

J.Lubbock, J.J.Bachofen,J.F.McLennan, dan G.A.Wilken,berpendapat bahwa terbentuknya masyarakat manusia melalui beberapa fase perkembangan. Pada fase pertama,manusia hidup sebagai kawanan berkelompok,laki-laki dan perempuan saling kawin dan menghasilkan keturunan tanpa ikatan.;Keluarga inti (nuclear family)sebagai inti masyarakat belum ada.Kondisi ini dinamakan promiskuitas. Fase kedua mulai timbul kesadaran di kalangan manusia akan adanya hubungan antara si ibu dengan anak-anaknya.Ibu berperan sebagai kepala keluarga,sehingga timbul kekeluargaan matrilineal. Fase ketiga laki-laki tidak puas dengan keadaan ini,kemudian mengambil calon isteri dari kelompok lain dan membawa ke kelompoknya sendiri.Keturunan yang dilahirkan tetap berada di kelompok laki-laki.Timbullah suatu keluarga dengan ayah sebagai kepala keluarga.Fase terakhir terjadi karena ketika perkawinan di luar kelompok berubah menjadi endogami karena berbagai sebab.Mengakibatkan anak-anak dari perkawinan tersebut menjadi berhubungan langsung dengan ayah maupun ibunya.Timbulah keluarga parental (dewi lestari cantika, 2011).

 Pisces

1. Cyprinus carpio (robin and Bailey, 1991).

Klasifikasi:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Ordo : Cypriniformes

Family : Cyprinidae

Genus : Cyprinus

Spesies : Cyprinus carpio (robin and Bailey, 1991).

Vern name : Ikan mas

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 193 mm, panjang standar 0,66 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,1 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,1 dari panjang total, panjang dasar sirip dorsal 0,24 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,277 bagian dari panjang total, panjang sirip dorsal terpanjang 0,09 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,20 dari panjang total, panjang moncong 0,067 bagian dari panjang total, diameter mata 0,048 bagian dari panjang total. Jumlah duri dorsal 4, jumlah duri dorsal lunak 15, jumlah duri anal 1, jumlah duri lunak anal 6, jumlah duri pektoral total 12.

Secara morfologis, ikan mas mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Tipe mulut superior, bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya, tipe ekor forked (Agus Rochdianto, 2005).

Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150–600 meter di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-30° C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30% (Agus Rochdianto, 2005).

Ikan mas tergolong jenis omnivora, yakni ikan yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan tepi perairan (Munshi, 1996).

2. Tilapia nilotica

Klasifikasi:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Ordo : Perciformes

Family : Cichlidae

Genus : Tilapia

Spesies : Tilapia nilotica

Vern name : Ikan nila

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 195 mm, panjang standar 0,82 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,115 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,103 dari panjang total, panjang dasar sirip dorsal 0,51 bagian dari panjang total, panjang dasar sirip anal 0,156 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,36 bagian dari panjang total, panjang sirip dorsal terpanjang 0,15 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,26 dari panjang total, panjang moncong 0,061 bagian dari panjang total, diameter mata 0,045 bagian dari panjang total. jumlah duri dorsal 17, jumlah duri dorsal lunak 12, jumlah duri anal 3, jumlah duri lunak anal 8, jumlah duri pektoral total 12, jumlah sisik gurat sisi 26.

Sirip punggung (dorsal) dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (anal) dengan 3 duri dan 8-11 jari-jari. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim berbiak. Tipe mulut terminal, tipe sisik cycloid, bentuk tubuh pipih datar dan tipe ekor truncates (Munshi, 1996).

Ikan nila adalah pemakan plankton dan pemakan tumbuhan (omnivora) sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengendali gulma air. Habitat hidup diair tawar yang berlumpur (Djuhanda, 1980).

3. Osphronemus goramy

Klasifikasi:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Family : Osphronemidae

Genus : Osphronemus

Spesies : Osphronemus goramy

Vern name : Ikan gurami

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 61,20 mm, panjang standar 0,87 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,29 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,35 bagian dari panjang total, panjang moncong 0,106 bagian dari panjang total.

Ikan yang lebar dan pipih. Panjang tubuh (SL, standard length[2]) 2,0-2,1 kali tinggi tubuh; panjang tubuh total (dengan sirip ekor) bisa mencapai 1.000 mm. Sirip perut dengan jari-jari pertama yang pendek berupa duri dan jari-jari kedua yang lentur panjang serupa cambuk. Rumus sirip punggung (dorsal) XI-XIV (jari-jari keras atau duri) dan 12-14 (jari-jari lunak); sementara sirip dubur (anal) X-XI dan 20-23. Ikan yang muda memiliki moncong yang meruncing, dengan 8-10 pita melintang (belang) di tubuhnya. Jika beranjak dewasa warna-warna ini memudar, dan kepala ikan akan membengkak secara tidak teratur (Munshi, 1996).

Di alam, gurami hidup di sungai-sungai, rawa dan kolam, termasuk pula di air payau; namun paling menyukai kolam-kolam dangkal dengan banyak tumbuhan. Sesekali ikan ini muncul ke permukaan untuk bernafas langsung dari udara. Gurami adalah pemakan tumbuhan, kadang juga memangsa serangga, ikan lain, dan juga materi-materi yang membusuk di air. Dari sifatnya yang senang memakan tumbuhan tersebut, gurami juga dimanfaatkan sebagai pengendali gulma di kolam-kolam (Djuhanda, 1980).

 

4. Monopterus albus

Klasifikasi:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii
Ordo : Synbranchiformes

Family : Synbranchidae

Genus : Monopterus

Spesies : Monopterus albus

Vern name : belut

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 395 mm, panjang standar 0,036 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,05 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,09 bagian dari panjang total, panjang moncong 0,05 bagian dari panjang total.

Ukuran maksimum adalah 1m, meskipun yang banyak dikonsumsi paling panjang 40cm. Tidak memiliki sirip, kecuali sirip ekor yang memanjang. Bentuk tubuhnya menyerupai tabung dengan tubuh licin, tanpa sisik. Warna bervariasi, namun biasanya kecoklatan hingga kelabu (Djuhanda, 1980).

Belut adalah predator ganas di lingkungan rawa dan sawah. Hewan ini mampu menyerap oksigen bahkan lewat kulitnya. Kebiasaaannya adalah bersarang di dalam lubang berlumpur dan menunggu mangsa yang lewat. Walaupun berasal dari daerah tropika, belut sawah diketahui dapat menyintas (survive) musim dingin dengan suhu sangat rendah. Kombinasi sifat-sifat yang dimiliki belut membuatnya menjadi hewan yang dianggap berbahaya bagi lingkungan yang bukan habitatnya (Saanin 1984).

Belut sawah (Monopterus albus) adalah sejenis ikan anggota famili Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Ikan ini dapat dimakan, baik digoreng, dimasak dengan saus pedas asam, atau digoreng renyah sebagak makanan ringan. Secara ekologi, belut dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi. Hilangnya belut menandakan telah terjadi kerusakan lingkungan yang sangat parah (Saanin 1984).

 

5. Poecilia reticulate

Klasifikasi:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Cypriniformes
Family : Cyprinidae

Genus : Poesilia

Spesies : Poecilia reticulate

Vern name : Ikan pantau

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 31,40 mm, panjang standar 0,83 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,15 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,31 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,23 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,17 bagian dari panjang total, diameter mata 0,002 bagian dari panjang total.

Poecilia reticulate bertubuh kecil ramping, dengan panjang maksimal sekitar 170 mm. Tubuh berwarna coklat kuning di bagian atas (dorsal) dan putih keperakan di sisi dan bagian bawah, terutama di bagian perut. Sebuah garis keemasan di dalam, berjalan bersama garis kehitaman di bagian luar pada masing-masing sisi tubuh, dari belakang tutup insang hingga ke batang ekor (Saanin 1984).

Formula sirip punggung (dorsal) II.7, yakni dua jari-jari keras (duri) diikuti tujuh jari-jari lunak. Sirip dubur (anal ) III.5; sirip dada (pectoral) I.12-13; sirip perut (ventral) II.7; serta jumlah sisik pada gurat sisi (linea lateralis) 29-30 buah. Batang ekor (peduncle) dikelilingi 14 sisik; antara gurat sisi dengan awal sirip perut diantarai oleh 1-1½ sisik. Poecilia reticulate sering ditemui dalam kelompok besar, di danau, parit atau sungai-sungai yang relatif tenang (Djuhanda, 1980).

 

6. Sarda orientalis (Temminck dan Schlegel, 1844)

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Famili : Scrombidae

Genus : Sarda

Spesies : Sarda orientalis (Temminck dan Schlegel, 1844)

Vern name : Ikan tongkol

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 180,70 mm, panjang standar 0,89 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,17 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,05 dari panjang total, panjang dasar sirip dorsal 0,18 bagian dari panjang total, panjang sirip anal 0,06 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,22 bagian dari panjang total, panjang sirip pectoral 0,105 bagian dari panjang total, panjang sirip pelvic 0,09 bagian dari panjang total, panjang sirip dorsal terpanjang 0,09 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,80 bagian dari panjang total, lebar kepala 0,19 bagian dari panjang total, panjang moncong 0,09 bagian dari panjang total, diameter mata 0,44 bagian dari panjang total. Jumlah duri dorsal 11 buah, jumlah duri dorsal lunak 11 buah, jumlah duri anal 5 buah, jumlah duri lunak anal 6.

Ikan tongkol ini bentuk tubuhnya mirip torpedo, sehingga pergerakan di air meluncur dengan cepat. Dengan tipe mulut terminal, ikan ini tersebar di bagian oceandromus dengan kedalaman 1-167 m, sehingga jenis makanannya berupa ikan-ikan kecil, cumi-cumi, dan kepiting (Collette, 1983). Tipe ekor forked. Bagian tubuhnya tidak ditutupi oleh sisik dilihat secara sekilas, ternyata ikan ini memiliki sisik yanga sangat tipis. Jenis ikan ini tidak berbahaya sehingga banyak di buru oleh manusia (Collette, 1983).

7. Trichiurus lepturus (Linnaeus, 1758)

lasifikKasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Famili : Trichiuridae

Genus : Trichiurus

Spesies : Trichiurus lepturus (Linnaeus, 1758)

Vern name : Ikan baledang

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 350 mm, panjang standar 0,886 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,03 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,02 dari panjang total, panjang dasar sirip dorsal 0,57 bagian dari panjang total, panjang dasar sirip anal 0,37 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,07 bagian dari panjang total, panjang sirip pectoral 0,05 bagian dari panjang total, panjang sirip dorsal terpanjang 0,07 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,09 bagian dari panjang total, lebar kepala 0,05 bagian dari panjang total, panjang moncong 0,07 bagian dari panjang total, diameter mata 0,23 bagian dari panjang total. Jumlah duri dorsal 97 buah, jumlah duri dorsal lunak 17 buah.

Dilihat dari morfologi, ikan baledang memiliki tubuh yang panjang dan pipih dengan ekor meruncing, bentuk kepalanya seperti segitiga dan terdapat gigi yang tajam pada mulutnya yang bertipe superior. Berdasarkan tipe mulutnya, ikan ini sering dijumpai di bagian permukaaan air laut dengan jenis makanannya berupa plankton, ikan-ikan kecil, dan cumi-cumi. Menurut Nakamura (1993), ikan ini hidup di laut pada kedalaman 0-589 m di daerah subtropis dan penyebarannya hampir di seluruh dunia, dan warna terang polos tanpa sisik.

 

8. Leiognathus splendens (Cuvier, 1829)

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Famili : Leiognathidae

Genus : Leiognathus

Spesies : Leiognathus splendens (Cuvier, 1829)

Vern name : Ikan maco

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 110,60 mm, panjang standar 0,81 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,05 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,05 dari panjang total, panjang dasar sirip dorsal 0,4 bagian dari panjang total, panjang dasar sirip anal 0,21 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,32 bagian dari panjang total, panjang sirip pectoral 0,14 bagian dari panjang total, panjang sirip dorsal terpanjang 0,14 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,27 bagian dari panjang total, lebar kepala 0,28 bagian dari panjang total, panjang moncong 0,13 bagian dari panjang total, diameter mata 0,11 bagian dari panjang total. Jumlah duri dorsal 17 buah, jumlah duri anal 10 buah.

Ikan maco sering dijumpai di lingkungan dasar (demersal) perairan payau ataupun laut. Bentuk tubuhnya pipih ramping dengan warna tubuhnya silver (terang polos). Tipe mulut ikan ini terminal, sehingga terdapat di bagian tengah perairan dengan jenis makanannya berupa ikan-ikan kecil, kepiting, dan kerang. Menurut Kimura (2005), ikan maco hidup dilaut pada kedalaman 10-100 m di daerah tropik dan tersebar mulai dari India, Papua, Jepang, dan Australia. tipe ekor forked dan memiliki sisik tipe ctenoid (Kimura, 2005)

9. Upeneus sulphureus (Cuvier, 1829)

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Pisces

Ordo : Perciformes

Famili : Mullidae

Genus : Upeneus

Spesies : Upeneus sulphureus (Cuvier, 1829)

Vern name : Ikan pinang-pinang

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Panjang total 120 mm, panjang standar 0,7 bagian dari panjang total, tinggi batang ekor 0,2 bagian dari panjang total, panjang batang ekor 0,167 dari panjang total, panjang dasar sirip dorsal 0,5 bagian dari panjang total, panjang dasar sirip anal 0,125 bagian dari panjang total, tinggi badan 0,32 bagian dari panjang total, panjang sirip pectoral 0,167 bagian dari panjang total, panjang sirip pelvic 0,21 bagian dari panjang total, panjang sirip dorsal terpanjang 0,5 bagian dari panjang total, panjang kepala 0,2 bagian dari panjang total, lebar kepala 0,2 bagian dari panjang total, panjang moncong 0,125 bagian dari panjang total, diameter mata 0,083 bagian dari panjang total. Jumlah duri dorsal 23 buah, jumlah duri dorsal lunak 11 buah, jumlah duri anal 8 buah.

Dari segi morfologinya ikan pinang-pinang memiliki bentuk tubuh bundar, warna tubuh terang polos dengan gurat sisi berwarna kekuningan-kuningan yang dimulai dari tutup insang sampai ekor. Ikan ini memiliki sisik yang sangat jelas dengan tipe ctenoid. Dengan tipe mulut superior, ikan ini terdapat di daerah dasar perairan air laut atau payau dengan jenis makanannya berupa ikan-ikan kecil. Menurut Kumaran (1984), ikan ini hidup pada kedalaman 10-90 m di daerah tropikal. Dan memiliki tipe ekor forked.

 

Kunci Determinasi

Dari pengamatan morfologi yang telah dilakukan dapat dibuat kunci determinasi dari pisces tersebut, yaitu:

1. a. Ikan air laut…………………………………………………………………….2

b. Ikan air tawar………………………………………………………………….5

2. a. Sirip dorsal tidak bertakik………………………………………………….3

b. Sirip dorsal bertakik…………………………………………………… Sarda orientalis

3. a. Tipe sisik ctenoid…………………………………………………………..Upeneus sulphureus

b. Tipe sisik cycloid……………………………………………………………4

4. a. Mulut tidak prokontraktil…………………………………………………. Trichiurus lepturus

b. Mulut prokontraktil………………………………………………………….Leiognathus splendens

5. a. Bersisik………………………………………………………………………….6

b. Tidak punya sisik………………………………………………….. Monophterus albus

6. a. Tipe ekor forked…………………………………………………………….7

b. Tipe ekor rounded………………………………………………….. Tilapia nilotica

7. a. Tipe mulut superior……………………………………….……..8

b. Tipe mulut terminal…………………………………………..Ophronemus goramy

8. a. Memiliki sungut……………………………………………….Cyprinus carpio

b. Tidak memiliki sungut………………………………………Poesilia reticulata

 

Reptil

1. Boiga cynodon (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub Ordo : Serpentes

Family : Colubridae

Genus : Boiga

Spesies : Boiga cynodon (Boie, 1827)

Vern name : Anjing bergigi cat snake

Ciri yang teramati dari Boiga cynodon adalah memiliki panjang kepala (PK) 44,8 mm, panjang ekor (PE) 410 mm, panjanng total (PT) 1890 mm, diameter mata (DM) 8,5 mm, panjang moncong (PM) 40,5 mm. Boiga cynodon memiliki bentuk kepala (BK) non trigular, , bentuk rostal (BR) tumpul, bentuk pupil (BP) vertikal, bentuk tubuh (BT) tipikal, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak ada. Boiga cynodon memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 1 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 1 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 16 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 9 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 39 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 288 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 140 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Anoyomous (2010a) bahwa Boiga cynodon memiliki panjang badan antara 1800 mm sampai 2750 mm besar. Memiliki tubuh yang agak cokelat muda dengan palang-palang cokelat atau hitam yang gelap menjadi relatif lebih tebal ke arah ekor.Boiga cynodon biasanya hidup di pohon-pohon hutan hujan dataran rendah

Boiga cynodon ketika menyerang biasanya tidak menggigit. Tetapi apabila Boiga cynodon mengigit maka akan, pembengkakan dan nyeri akan terasa di daerah luka. Hal ini dapat menyebabkan masalah sirkulasi. Namun, ini hanya terjadi jika racun gigitan ular yang kuat dan pijat ke luka. Gigitan pertahanan diri tidak berbahaya (Iskandar, 2000).

 

2. Dendrelaphis pictus (Gmelin, 1789)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub Ordo : Serpentes

Family : Colubridae

Genus : Dendrelaphis

Spesies : Dendrelaphis pictus (Gmelin, 1789)

Vern name : Ular tambang

Ciri yang teramati dari Dendrelaphis pictus adalah memiliki panjang kepala (PK) 20 mm, panjang ekor (PE) 30 mm, panjanng total (PT) 845 mm, diameter mata (DM) 3,7 mm, panjang moncong (PM) 7,1 mm. Dendrelaphis pictus memiliki bentuk kepala (BK) medium , bentuk rostal (BR) bulat, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak ada. Dendrelaphis pictus memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 6 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 10 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 9 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 11 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 174 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 143 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Anonymous (2010c) bahwa Dendrelaphis pictus merupakan ular yang kurus ramping, panjang hingga sekitar 800 sampai 1500 Ekornya panjang, mencapai sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan.Dendrelaphis pictus mempunyai warna tubuh coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung. Pada masing-masing sisi tubuh bagian bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan dari sisik ventral (perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu, diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher bagian belakang. Terdapat warna-warna peringatan berupa bintik-bintik hijau terang kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka, yang biasanya tersembunyi di bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru nampak jelas apabila si ular merasa terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan atau kehijauan.

Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret di bagian tengah tubuh, sisik-sisik vertebral membesar, namun tak lebih besar dari deret sisik dorsal yang pertama (terbawah). Perisai labial 9 buah (jarang 8 atau 10), yang no 5 dan 6 (kadang-kadang juga yang no 4) menyentuh mata. Sisik-sisik ventral 167–200 buah, sisik anal sepasang, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 127–164 buah. Mata besar, diameternya sama panjang dengan jaraknya ke lubang hidung. Anak mata bulat hitam; perisai preokular sebuah dan postokular dua buah. Perisai rostral lebar, terlihat dari sebelah atas; perisai internasal sama panjang atau sedikit lebih pendek dari perisai prefrontal; perisai frontal sama panjang dengan jaraknya ke ujung moncong, namun lebih pendek dari perisai parietal; perisai loreal panjang. Perisai temporal bersusun 2 + 2, 1 + 1 atau 1 + 2. Lidahnya berwarna merah (Weber, 1915).

Dendrelaphis pictus menghuni hutan-hutan di dataran rendah dan pegunungan hingga ketinggian lebih dari 1350 m. Teristimewa ular ini menyukai daerah-daerah terbuka, tepian hutan, kebun, semak belukar dan tepi sawah. Sering pula ditemukan merambat di pagar tanaman di pekarangan, dan dengan gesit dan tangkas bergerak di sela-sela daun dan ranting untuk menghindari manusia. Dendrelaphis pictus aktif pada siang hari, mencari mangsa makanannya – terutama kadal dan katak (Anynomous, 2010a).

 

3. Gonyosoma oxycephalum (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Family : Colubridae

Genus : Gonyosoma

Spesies : Gonyosoma oxycephalum (Boie, 1827)

Vern name : Ular hijau

Ciri yang teramati dari Gonyosoma oxycephalum adalah memilikipanjang kepala (PK) 38 mm, panjang ekor (PE) 376 mm, panjanng total (PT) 1143 mm, diameter mata (DM) 5 mm, panjang moncong (PM) 28 mm. Gonyosoma oxycephalum memiliki bentuk kepala (BK) non neck , bentuk rostal (BR) tumpul, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) tidak ada, sisik loreal (SL) ada, loreal pit (LP) tidak adaGonyosoma oxycephalum memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 10 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 5 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 10 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 2 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 23 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 242 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 137 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Anynomous (2010d) bahwa Gonyosoma oxycephalum merupakan ular yang bertubuh panjang dan ramping dengan panjang total hingga 1140 mm dan ekornya sekitar 370 mm. Kepala agak gepeng dan meruncing, pangkalnya lebih lebar dari lehernya. Gonyosoma oxycephalum mempunyai dominan hijau atau hijau terang di sepanjang punggungnya, dan kuning di sepanjang perutnya. Kepala hijau kekuningan, hijau zaitun atau kecoklatan di sebelah atas, dengan garis hitam melintasi mata, serta bibir yang berwarna kekuningan. Ekor kemerahan atau coklat muda keabu-abuan; terkadang dengan cincin kuning atau merah terang di dekat anusnya. Sisik-sisik bertepi kuning atau gelap kehitaman.

Sisik-sisik dorsal (punggung) dalam 23, 25, atau 27 deret di tengah badan halus atau berlunas lemah. Sisik-sisik ventral (perut) 236–262 buah menyudut di sebelah luar serta berlunas dan bertakik dangkal, sangat berguna untuk memanjat pohon. Sisik anal terbelah, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 130–149 (126–149) buah. Perisai labial atas (sisik-sisik besar di bibir atas) 7–10 buah, yang ke-5 dan -6, atau ke-6 dan -7, menyentuh mata (Brotowidjoyo, 1989).

Gonyosoma oxycephalum bergerak dengan lincah dan tangkas di dahan-dahan dan ranting dan sesekali turun ke tanah. Bila marah karena merasa terganggu, leher ular ini akan memipih tegak dan lidahnya yang bergaris biru terang digerakkan keluar masuk dengan cepat. Gigitannya menyakitkan, meskipun tidak membahayakan manusia karena ular ini hanya berbisa lemah Gonyosoma oxycephalum ditemukan mulai dari dataran rendah hingga wilayah pegunungan, Hewan melata ini diketahui menghuni wilayah berawa-rawa, hutan bakau, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, semak belukar, daerah pertanian dan perkebunan, hingga ke lingkungan pekarangan rumah di pedesaan. Ular yang aktif di siang hari (diurnal) ini tidak jarang dijumpai di tutupan vegetasi di sekitar sungai dan kolam (Anynomous, 2010c).

 

4. Maticora bivirgata flaviceps (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptili

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Family : Elapidae

Genus : Maticora

Spesies : Maticora bivirgata flaviceps (Boie, 1827)

Ciri yang teramati dariMaticora bivirgata adalah memiliki panjang kepala (PK) 10 mm, panjang ekor (PE) 53 mm, panjanng total (PT) 440 mm, diameter mata (DM) 10 mm, panjang moncong (PM) 40 mm. Maticora bivirgata memiliki bentuk kepala (BK) non neck , bentuk rostal (BR) bulat, bentuk pupil (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) , sisik loreal (SL) dan loreal pit (LP) tidak ada. Maticora bivirgata memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 6 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah, jumlah sisik infra labial (JSIL) 6 buah, jumlah sisik supra labial (JSSL) 6 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 215 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 228 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 85 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Weber (1915) bahwa Maticora bivirgata merupakan ular yang memiliki panjang tubuh sekitar 400 mm sampai 1400 mm. Tubuh berwarna biru gelap, dengan garis biru ringan di setiap sisinya kepala, ekor dan permukaan perut berwarna merah cerah. Memiliki moncong tumpul dengan sepasang mata kecil di sisi kepala.

Maticora bivirgata mendiami lantai hutan primer, tetapi juga dapat ditemukan di hutan sekunder dewasa.. Malam hari dalam kebiasaan, mungkin kadang-kadang ditemui membentang di jalan hutan di pagi hari. Maticora bivirgata membela dirinya dengan membalikkan tubuhnya sehingga akan terlihat warna merah pada perutnya, hal ini menjadi peringatan bagi predator atau menyembunyikan kepala di bawah gulungan tubuh sendiri dan meningkatkan ekornya untuk meniru kepala untuk membingungkan predator. Mereka kadang-kadang mengkonsumsi kadal, katak dan burung (Carr,1977).

Racun pada Maticora bivirgata biasanya bersifat neurotoksik yang dapat menyebabkan kematian. Kematian dapat terjadi hanya 5 menit. Gigitan pada awalnya memiliki sedikit atau bahkan tanpa gejala. Namun, setelah beberapa menit, korban mungkin merasa sakit pada daerah luka. Tak lama kemudian, korban mungkin akan merasa sesak napas.

 

5. Tropidolaemus wagleri ( Boie , 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Family : Viperidae

Genus : Tropidolaemus

Spesies : Tropidolaemus wagleri ( Boie , 1827)

Ciri yang teramati dari Tropidolaemus wagleri adalah memiliki panjang kepala (PK) 30 mm, panjang ekor (PE) 89 mm, panjanng total (PT) 650 mm, diameter mata (DM) 30 mm, panjang moncong (PM) 30 mm. Tropidolaemus wagleri memiliki bentuk kepala (BK) segitiga , bentuk rostal (BR) runcing, bentuk pupil (BP) vertikal, bentuk tubuh (BT) slouth, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) imbrilated, bentuk sisik ekor (BSE) paired, sisik temporal (ST) tidak ada, loreal pit (LP) ada. Tropidolaemus wagleri memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 9 buah, jumlah sisik supra okuler (JSSO) 4 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 139 buah, dan jumlah sisik ekor (JSE) 41 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Bennet (1999) bahwa Tropidolaemus wagleri memiliki panjang total sekitar 650 mm sampai 1000 mm. Spesies ini seksual dimorfik .Mereka memiliki kepala besar berbentuk segitiga, Tropidolaemus wagleri muda berwarna hijau pucat terutama dengan band sempit, dan Tropidolaemus wagleri dewasa berwarna hijau gelap kekuningan dengan pita tebal

Tropidolaemus wagleri merupakan ular yang nokturnal dan arboreal, sangat lamban karena mereka bergerak untuk sisa jangka waktu yang lama menunggu mangsa lewat.. Ketika mangsa tidak lewat, atau jika terganggu, mereka dapat menyerang dengan cepat. mereka adalah racun yang kuat hemotoxin , tetapi tidak fatal bagi manusia. Tropidolaemus wagleri hutan primer, hutan sekunder matang dan hutan bakau.Mereka ditemukan dalam berbagai warna dan pola, sering disebut sebagai fase. Di masa lalu, beberapa peneliti tahapan yang berbeda diklasifikasikan sebagai subspesies . Fase sangat bervariasi dari memiliki warna hitam atau cokelat sebagai dasar, dengan oranye dan kuning banding kepada orang lain memiliki lampu hijau sebagai warna dasar, dengan variasi pita kuning atau oranye, dan banyak di dalamnya ( Djuhanda, 1982).

 

6. Opisthotrophis rugosa (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub filum : Vertebrata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub ordo : Sarpentes

Famili : Colubridae

Genus : Opisthotrophis

Spesies : Opisthotropis rugosa (Boie, 1827)

Ciri yang teramati dari Opisthotropis rugosa adalah memiliki panjang kepala (PK) 15 mm, panjang ekor (PE) 107 mm, panjang total (PT) 455 mm, diameter mata (DM) 1mm, panjang moncong (PM) 9 mm, bentuk kepala (BK) bulat, sisik temporal (ST) ada, bentuk rostral (BR) Blunt, loreal ped (LP) tidak ada, bentuk papilae (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, jumlah sisik infraokuler (JSIO) 2 buah, jumlah sisik supraorbital (JSSO) 1 buah, sisik loeal (SL) 3 buah, jumlah sisik supra loreal (JSSL) 11 buah, jumlah sisik infra loreal (JSIL) 12 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 14 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 160 buah, jumlah sisik ekor (JSE) 75 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Djuhanda (1982) bahwa Opisthotrophis rugosa memiliki bentuk sepertisisik ventralnya yang berkembang dengan baik dan melebar sesuai dengan lebar perutnya. Kepala berbentuk oval dengan sisik-sisik yang tersusun dengan sistematis. Ekor umumnya silindris dan meruncing. Hewan ini pada umumnya tidak berbisa atau kalaupun berbisa tidak terlalu mematikan bagi manusia atau memiliki bisa menengah (Midle toxin). Gigi bisanya tipe proteroglypha dan pada umumnya bereproduksi secara ovivar

 

7. Xenodropis triangularis (Boie, 1827)

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Sub filum : Vertebrata

Kelas : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub ordo : Serpentes

Famili : Colubridae

Genus : Xenodropis

Spesies : Xenodropis triangularis (Boie, 1827)

Ciri yang teramati dari Xenodropis triangularis adalah memiliki panjang kepala (PK) 32,30 mm, panjang ekor (PE) 181 mm, panjang total (PT) 825 mm, diameter mata (DM) 5,40 mm, panjang moncong (PM) 19,40 mm, bentuk kepala (BK) medium, sisik temporal (ST) ada, bentuk rostral (BR) tumpul, loreal ped (LP) tidak ada, bentuk papilae (BP) rounded, bentuk tubuh (BT) slender, bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled, bentuk sisik kepala (BSK) large, bentuk sisik ekor (BSE) paired, jumlah sisik infraokuler (JSIO) 3 buah, jumlah sisik supraorbital (JSSO) 7 buah, sisik loeal (SL) 1 buah, jumlah sisik supra loreal (JSSL) 1 buah, jumlah sisik infra loreal (JSIL) 7 buah, jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 20 buah, jumlah sisik ventral (JSV) 134 buah, jumlah sisik ekor (JSE) 50 buah.

Ciri-ciri tersebut sesuai dengan pendapat Djuhanda (1982) bahwa Xenodropis triangularis mempunyai ular ini memiliki ukuran tubuh yang ramping dan gesit dengan panjang tubuh maksimal mencapai 120 cm, namun umumnya sekitar 80 cm atau kurang. Pupil matanya membulat karena ular ini merupakan hewan diurnal. Xenodropis triangularis merupakan jenis ular dari famili Colubridae. Ular perenang ini dinamai demikian karena memiliki deretan segitiga kemerahan di kedua sisi tubuhnya. Karena itu ia juga dikenal sebagai ular sisi-merah, atau bahkan terkadang disebut dengan nama yang tidak tepat yaitu ular picung.

Xenodropis triangularismemiliki sisi bagian ventral bewarna coklat kelabu bercampur pola-pola hitam, dengan deretan segitiga terbalik kehitaman di atas berseling dengan segitiga kemerahan di bawah di sepanjang sisi tubuhnya. Warna kemerahan itu memudar di sebelah depan (dekat leher) dan sebelah belakang tubuh (perut hingga ekor). Kepala hijau zaitun sampai kecoklatan. Bibir, dagu dan tenggorok kuning. Terdapat beberapa coret hitam tipis di bibir atas, terutama di bawah dan belakang mata. Ventral (sisi bawah tubuh) berwarna keputihan, dengan belang-belang (perpanjangan segitiga gelap) di bawah ekor (Iskandar, 2000).

Xenodropis triangularis merupakan jenis ular yangaktif di siang hari (diurnal), ular ini terutama memangsa kodok dan ikan, meski tidak jarang pula memburu reptilia kecil seperti kadal Xenodropis triangularis menyukai wilayah perairan seperti aliran sungai, saliran, payau dan rawa-rawa, serta kolam-kolam ikan dan sawah. Sering dijumpai tengah berenang di sungai kecil atau saluran irigasi. Kadang-kadang bersembunyi sambil berendam di antara tanaman air. Meskipun demikian ular segitiga-merah sering pula naik dan tinggal di darat (Weber, 1915).

 

Kunci determinasi

1. a. Tidak ada occipital, premaxilla tidak bergigi ……………………………………….2

b. maxilla menonjol vertikal, pendek, gigi dapat dilipat ke belakang …………….3

2. a. Terdapat gigi bisa besar beralur, letaknya di anterior rahang atas ………………Elapidae

b. tidak mempunyai gigi bisa, terletak di bagian poeterior ………………………….Colubridae

3. a. Tidak mempunyai facial pit …………………………………………………………….Viveridae

b. Penampang lintang ekor pipih, hidup di laut ……………………………………….Hydrophidae

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.