POLA DISPERSI DEBU (METEOROLOGI LINGKUNGAN)

Published May 25, 2015 by harmin adijaya putri
  1. Pendahuluan

Lingkungan merupakan suatu sistem kompleks yang berada diluar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Setiap organisme hidup dalam lingkungannya masing-masing, faktor-faktor yang ada dalam lingkungan selain berinteraksi dengan organisme, juga berinteraksi antar sesama faktor tersebut, sehingga sulit untuk memisahkan dan mengubahnya tanpa mempengaruhi bagian lain dari lingkungan itu sendiri. Lingkungan juga dapat diartikan sebagai satuan sistem yang meliputi Abiotic, Biotic dan Culture. Faktor abiotic diantaranya sinar matahari, tanah, air, udara. Faktor ini merupakan komponen dasar dari kegiatan dalam kehidupan sehingga dapat berlangsung.

Aktivitas manusia yang semakin kompleks sehingga dapat menyebabkan adanya pencemaran baik itu pada air, tanah maupun udara. Pencemaran yang terjadi di udara mendapatkan perhatian yang lebih dalam kasus ini. Faktor meteorologis memberikan peranan yang sangat penting dalam menentukan kualitas udara di suatu daerah. Atmosfer merupakan salah satu medium penerima yang dinamis yang menunjukkan kemampuan penyebaran (dispersi), pengenceran (dilusi), difusi (antar molekul gas dan atau partikel/aerosol), transformasi fisika-kimia dalam proses dan mekanisme kinetik atmosferik. Kemampuan atmosfer ditentukan oleh kecepatan arah angin, kelembaban, temperatur, tekanan, aspek permukaan (Soedomo, 2001).

Waktu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan dari faktor meteorologis dalam skala waktu pagi, siang dan malam. Kondisi atmosfer yang dinamis ini dilihat kontribusinya dalam mempengaruhi variasi kadar pencemaran khususnya debu di udara terutama dalam udara ambien.

Situasi pengaruh dari bahan pencemar merupakan suatu harapan dari masyarakat untuk dapat diketahui sehingga dapat dipilih lokasi yang memungkinkan untuk memperoleh udara yang tak tercemar sehingga menunjang kesehatannya. Memperoleh hal tersebut dilakukan dengan jalan menganalisis sejauh mana faktor-faktor meteorologis dapat mempegaruhi terhadap pencemaran udara ambien.

  1. Pengertian Udara Ambien

Udara ambien merupakan udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yuridis Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya (PP No. 41 Th 1999). Baku mutu udara ambien adalah batas ambang zat, energy dan/atau komponen yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambient. Baku mutu udara ambient untuk wilayah Indonesia untuk parameter debu sebesar 0,06 μg/m3 dalam waktu pengukuran 24 jam.

III. Sifat dan Karakteristik Debu

Debu (dust) merupakan salah satu jenis aerosol padat yang terbentuk, karena proses pernisahan suatu bahan secara mekanik, seperti proses penghancuran, penggilingan dan peledakkan. Proses ini dapat terjadi, karena gesekan bahan dengan angin yang kencang atau pergeseran dengan bahan lain. Contohnya adalah debu semen (cement dust) dan debu dari unsur logam (metallurgical). Debu dianggapsebagai partikel bahan padat yang terbagi asecara halus dengan ukuran berkisar dari 0,1 hingga 100. Material yang berukuran kasar yang melayang-layang di udara yang bersifat toksik bagi manusia. Debu merupakan partikel-partikel zat hasil pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan dari bahan-bahan organic maupun anorganik. Jenis parameter pencemar udara menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, meliputi Sulfur dioksida (SO2), Karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3), Hidro karbon (HC), PM 10, PM 2,5, TSP (debu), Pb (Timah Hitam), Dustfall (debu jatuh) (http://www.depkes.go.id).

Sifat-sifat partikel debu di udara menurut DekKes RI yaitu :

  1. Sifat pengendapan. Debu lebih banyak mengendap daripada melayang di udara.
  2. Sifat permukaan basah. Debu cenderung selalu basah karena dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis.
  3. Sifat pengumpulan. Karena sifatnya yang selalu basah, maka debu dapat menempel dengan debu yang lainnya sehingga membentuk gumpalan.
  4. Sifat listrik statis. Sifat listrik statis yang dimiliki debu dapat menarik partikel lain yang berlawanan arah sehingga mempercepat penggumpalannya.
  5. Sifat optis. Partikel debu yang basah/lembab dapat memancarkan sinar sehingga dapat terlihat di ruangan yang gelap.

Partikel debu yang masuk ke adalam tubuh manusia melalui system pernapasan akan menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia. Debu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia dikelompokkan menjadi dua, yaitu debu organic dan anorganik.

Debu yang terdapat di dalam udara terbagi dua, yaitu deposite particulate matter adalah partikel debu yang hanya berada sementara di udara, partikel ini segera mengendap karena ada daya tarik bumi. Suspended particulate matter adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap (Yunus, 1997). Sumber-sumber debu dapat berasal dari udara, tanah, aktivitas mesin maupun akibat aktivitas manusia yang tertiup angin.

  1. Tabel 1. Data hasil pengukuran kadar debu di udara ambient dari pencemaran udara suatu pabrik di kota A

 

         Waktu & lokasi

Parameter

Periode Pagi Periode Siang
06.00 07.00 08.00 09.00 15.00 16.00 17.00 18.00
1000 700 400 100 1000 700 400 100
Debu (ug/m3) 61,438 76,232 170,32 149,543 152,63 169,942 172,21 184,33
Suhu (0C) 25,5 26,3 28 30 29,1 29 28,5 28,9
Kelembaban (Rh) 95 95 92 90 70 70 71 71
Kec. Angin (m/det) 0,6 0,5 0,2 1,1 1 1,1 1 1,1
Arah Angin S S TL BL T T TL TL

 

  1. Pembahasan

V.1. Variasi Kadar Debu di Udara pada Kondisi Waktu dan Meteorologis

Dari tabel 1 dapat dijelaskan bahwa antara periode pagi dan siang hari kadar debu di udara ambien menunjukkan adanya perbedaan. Variasi dari kadar debu tersebut tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi pada wilayah tersebut seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin dan arah angin.

Analisis mengenai variasi kadar debu di udara pada berbagai kondisi waktu dan meteorologis.

Kadar debu pada tiap lokasi pengamatan:

Gambar 1. Kadar Debu pada Waktu Pengamatan Pagi Hari dan Siang Hari

Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa terjadi variasi kadar debu di udara. Ambien di pagi hari lebih rendah daripada siang hari. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi waktu, perbedaan suhu dan kelembaban udara serta kecepatan dan arah angin. Pengukuran kadar debu dilakukan pada empat titik, yaitu pada jarak 1000 meter, 700 meter, 400 meter, dan 100 meter dari pabrik. Pengukuran dilakukan sebanyak dua periode (pagi dan siang)

Hasil pengukuran Kadar debu di udara ambien di daerah sekitar pabrik pada periode pagi mencapai 61,438 μg/m3 pada jarak 1000 meter, meningkat pada kadar 76,232 μg/m3 pada jarak 700 meter, semakin mendekati pabrik pada jarak 400 meter meningkat lagi dengan kadar 170,320 μg/m3, dan pada jarak 100 meter dari pabrik menurun pada kadar debu 149,543 μg/m3. Sedangkan hasil pengukuran pada periode siang, kadar debu meningkat sampai 152,630 μg/m3 pada jarak 1000 meter, pada jarak 700 meter meningkat lagi dengan kadar debu 169,942 μg/m3, dan meningkat lagi pada kadar debu 172,210 μg/m3 pada jarak 400 meter serta 184,330 μg/m3 pada jarak 100 meter. Dari hasil pengukuran ini diperoleh gambaran bahwa semakin jauh jarak dari pabrik, maka semakin rendah kadar debu yang diperoleh. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan penjelasan faktor-faktor meterologis yang mempengaruhi variasi kadar debu sebagai berikut.

Kecepatan angin dapat menentukan lama waktu perjalanan partikel ke reseptor dan juga laju dispersi bahan polutan atau bahan pencemar. Semakin tinggi kecepatan angin atau semakin kencang angin tersebut, maka semakin jauh dampak polutan debu yang bisa dijangkau. Berdasarkan hasil pengukuran pun dapat dilihat bahwa angin dominan bertiup ke arah timur laut sehingga debu lebih banyak terdistribusi ke wilayah timur laut pabrik.

Pengukuran pagi hari (Gambar 1), kadar debu di daerah yang berjarak 1000 meter dari

pabrik rata-rata lebih rendah dari daerah yang lebih dekat jaraknya dari pabrik tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh waktu pengukuran/ pengambilan data yang dilakukan pada jam 06.00 pagi, dimana pada saat itu suhu udara masih rendah yaitu 25,5 0C dengan kondisi angin relatif tenang, yaitu kecepatan 0,6 m/det ke selatan.

Perbedaan suhu di udara ambien akan menimbulkan perbedaan tekanan udara dan perbedaan tekanan udara akan mempengaruhi arah dan kecepatan angin di suatu wilayah. Hal ini terjadi karena pada prinsipnya angin bertiup dari wilayah yang bertekanan tinggi ke wilayah yang bertekanan rendah. Semakin rendah suhu ambien suatu wilayah, maka semakin tinggi tekanan udaranya. Suhu yang rendah menyebabkan tekanan udara tinggi, kekuatan angin yang bertiup ke lokasi ini pun berkurang sehingga partikel debu yang terbawa sedikit.

Sudut datang sinar matahari, semakin tegak arah sinar matahari (siang hari) akan semakin panas. Tempat yang mendapat penyinaran matahari yang datangnya miring (pagi dan sore hari) lebih luas daripada yang tegak (siang hari). Suhu tertinggi terjadi pada pukul 1 atau 2 siang, sedangkan suhu terendah biasa terjadi pukul 4 atau 5 pagi.

Gambar 2. Kadar Debu dan Suhu Periode Pagi

Pada jarak 400 meter, kadar debu semakin tinggi (170,320 ug/m3) merupakan kadar debu tertinggi diantara tiga lokasi pengukuran lainnya. Pengukuran dilakukan pada pukul 08.00. Tingginya kadar debu di lokasi ini dipengaruhi oleh kecepatan angin yang sangat rendah, yaitu 0,2 m/det sehingga partikel tidak dapat terbawa jauh dari lokasi. Penyebab lain kemungkinan karena pada saat itu pabrik mulai beroperasi.

Kadar debu pada jarak 100 meter dari pabrik berkisar 149,543 μg/m3. Pada lokasi ini proses deposit kering lebih tinggi karena jaraknya dekat dari pabrik. Kadar debu di lokasi ini lebih rendah dari lokasi III (pengukuran pada pukul 07.00 dengan jarak 700 m). Hal ini dipengaruhi oleh kecepatan angin yang tinggi sehingga partikel-partikel debu di udara cepat terdistribusi ke wilayah lain (daerah yang jauh).

Pengukuran kedua dilakukan pada siang hari (Gambar 3). Pada periode ini terjadi peningkatan kadar debu yang signifikan dari pengukuran pertama (pagi hari). Pada jarak 1000 meter dari pabrik, kadar debu mencapai 152,630 μg/m3, meningkat menjadi 169,942 μg/m3 pada jarak 700 meter, meningkat lagi menjadi 172,210 μg/m3 pada jarak 400 meter, dan meningkat lagi sampai 184,330 μg/m3 pada jarah 100 meter. Dari hasil pengukuran kedua ini dapat dipaparkan bahwa peningkatan kadar debu dipengaruhi oleh kondisi suhu udara dan angin pada saat itu.

Pada pengukuran periode kedua ini, dapat dilihat bahwa semakin mendekati pabrik kadar debu semakin tinggi. Di siang hari suhu udara meningkat, namun di sore hari suhu udara akan menurun. Pencemaran debu paling berat terjadi pada jarak 100 meter karena merupakan daerah terdekat dari pabrik. Suhu udara menurun akan menyebabkan kelembaban udara meningkat sehingga partikel debu terikat sehingga partikel debu semakin berat.

Meningkatnya berat partikel maka dapat mengurangi kecepatan pergerakannya, sehingga partikel dengan jumlah 184,33 μg/m3 ditemukan pada jarak pengamatan terdekat dengan pabrik. Arah angin yang dominan adalah antara timur dan timur laut. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang dipengaruhi oleh pencemaran pada wilayah timur dan timur laut.

Gambar 3. Kadar Debu dan Suhu Periode Siang

V.2. Perbedaan antara pagi hari dan siang hari

Pada pagi dan siang hari perbedaan kondisi meteorologis baik dari suhu udara, kecepatan angin, kelembaban maupun arah angin dominan sehingga mempengaruhi kemampuan mengangkat partikal. Kemampuan mengangkat serta memindahkan partikel ini mempangaruhi variasi debu di di udara ambien. Pada siang hari cenderung lebih banyak terjadi pencemaran daripada pagi hari karena dengan peningkatan suhu mengakibatkan kelembaban menurun sehingga kondisi partikel debu menjadi ringan. Kondisi ini mudah untuk dipengaruhi oleh faktor angin sehingga sebarannya bervariasi sesuai dengan arah, tenaga pengangkatan dan jika energi telah habis maka diendapkan pada tempat tersebut.

Gambar 4. Hubungan Suhu (Pagi dan Siang) dan Konsentrasi Debu di Udara

Gambar 5. Hubungan Kelembaban (Pagi dan Siang) dan Konsentrasi Debu

 

Gambar 6. Hubungan Kecepatan Angin (Pagi dan Siang) dan Konsentrasi Debu

V.3. Pengaruh antara Faktor Meteorologis terhadap Pola Pencemaran Udara

Pola pencemaran ditentukan oleh arah angin dan intensitasnya dipengaruhi oleh faktor meteorologis diantaranya suhu, kelembaban, kecepatan angin. Pada pagi hari cenderung menyebar pada arah barat laut, timur laut dan selatan sedangkan pada siang hari cenderung menuju arah yang hampir seragam yakni pada arah timur dan timur laut. Pada masing-masing jarak pengamatan pada pagi hari kandungan debu cenderung lebih memiliki variasi yang lebih tinggi dibandingkan siang hari yang cenderung seragam namun dalam konsentrasi debu yang lebih tinggi.

 

V.4 Pola Dispersi

Faktor iklim mikro yang mempengaruhi terhadap pola dispersi debu yaitu suhu, kecepatan dan arah angin. Ketiga faktor tersebut mempengaruhi terhadap sebaran dari debu yang dihasilkan dari cerobong asap. Kondisi suhu pada pagi hari yang masih fluktuatif dengan stratifikasi suhu yang beragam pada tiap lapisan atmosfer menyebabkan pada saat pagi hari kondisi stabilitas awan masih belum stabil sehingga kecenderungan adanya pola angin vertikal masih menungkinkan terjadi. Hal ini menyebabkan persebaran debu secara horizontal dipengaruhi oleh pola angin vertikal sehingga sebaran secara horizontal menunjukkan perbedaan konsentrasi debu yang cukup besar pada setiap jarak titik pengamatan.

Lain halnya saat siang hari dimana stratifikasi suhu di atmosfer cenderung kecil sehingga kondisi stabilitas awan dapat dikatakan stabil. Hal ini menyebabkan pola angin cenderung bergerak secara horizontal dan menyebabkan konsentrasi debu pada berbagai jarak pengamatan memiliki nilai perubahan yang konstan dengan nilai yang tidak terpaut jauh. Saat siang hari kecepatan dan arah angin sangat berpengaruh terhadap sebaran debu karena pengaruh angin vertikal yang relatif kecil. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa arah angin saat siang hari cenderung mengarah ke timur laut sampai timur, kondisi ini menyebabkan debu cenderung mengarah ke timur laut sampai timur sehingga daerah – daerah yang berada dibagian timur laut dan timur cerobong sangat rawan terhadap pencemaran debu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Soedomo, M. 2000. Pencemaran Udara. Bandung: ITB

Tjasjono.Bayong. 1999. Klimatologi Umum. Bandung: ITB

APLIKASI METODE KLIMOGRAF UNTUK BUDIDAYA BUAH APEL MALANG Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi) KABUPATEN MALANG DAN KABUPATEN TANA TORAJA

Published May 25, 2015 by harmin adijaya putri
  1. Latar Belakang

Produksi tanaman sangat dipengaruh oleh iklim. Jika tanaman ditanam tidak sesuai dengan iklim tempat asalnya tumbuh, maka produktivitasnya tidak akan maksimal. Hubungan iklim dengan tanaman yaitu dapat menentukan secara aktual tingkat kualitas dan kuantitas produksi tanaman, sehingga dapat menentukan kapasitas atau produktivitas tanaman dalam jangka yang penjang. Manfaat klimatologi pertanian yaitu sebagai berikut :

  1. Seleksi kultivar/spesies/ras ternak yang adaptif di suatu tempat sehingga potensial untuk dibudidayakan.
  2. Memilih lokasi yang kondisi iklimnya sesuai untuk pengembangan suatu kultivar/spesies/ras ternak yang harus diintroduksikan.
  3. Memungkinkan pengembangan tekhnologi untuk memodifikasikan iklim untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian.
  4. Pengaturan pola tanam dan penyerasian antara iklim dengan aktivitas budidaya pertanian.

Menurut ( Ashari, 2006 ) setidaknya ada dua fakor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu curah hujan dan distribusi hujan serta tinggi tempat dari permukaan laut. Selain kedua faktor tersebut, produksi tanaman juga dipengaruhi oleh radiasi matahari dan suhu atau temperatur. Untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga menghasilkan produksi yang diharapkan, tanaman membutuhkan kondisi iklim yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Untuk menguji kesesuaina tanaman dengan iklim digunakan beberapa cara diantaranya dengan mengumpulkan data tentang kebutuhan fisiologi tanaman terhadap berbagai faktor lingkungan iklimnya.Selain itu dapat juga menganalisis kesesuainnya dengan menggunakan klimogram.

Klimograf adalah suatu grafik yang menggambarkan titik curah hujan bulanan ratarata (dalam milimeter) terhadap suhu bulanan rata-rata (dalam derajat Celcius) atau unsur meteorologis lainnya, yang didapat dari data dua tempat lingkungan yang memiliki iklim berbeda.

Dalam bidang pertanian, klimogram umumnya digunakan sebagai tolak ukur atau parameter jika suatu tanaman akan dikembangkan di daerah yang berbeda dengan daerah asalnya. Dengan menggambarkan klimogram daerah asal dari tanaman dan daerah tujuan pengembangannya, maka dapat diketahui persamaan dan perbedaan iklimnya yaitu setelah kedua klimogram tersebut ditumpangtindihkan satu sama lain.

  1. Tujuan

Tujuan dari tugas ini yaitu untuk mengetahui suatu wilayah yang sebagai sentra produksi tanaman Apel Malang (Varietas Manalagi) di wilayah Malang, Jawa Timur, apakah dapat diintroduksikan dan cocok di wilayah Toraja, Sulawesi Selatan dengan menggunakan pengaplikasian Metode Klimogram.

  • Tinjauan Pustaka

III.1 Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi)

Pohon apel merupakan pohon yang kecil dan berdaun gugur, mencapai ketinggian 3 hingga 12 meter, dengan tajuk yang lebar dan biasanya sangat beranting.[2] Daun-daunnya berbentuk lonjong dengan panjang 5 – 12 cm dan lebar 3 – 6 centimeter. Bunga apel mekar di musim semi, bersamaan dengan percambahan daun. Bunganya putih dengan baur merah jambu yang berangsur pudar. Pada bunga, terdapat lima kelopak, dan mencapai diameter 2.5 hingga 3.5 cm. Buahnya masak pada musim gugur, dan biasanya berdiameter 5 hingga 9 centimeter. Inti buah apel memiliki lima gynoecium yang tersusun seperti bintang lima mata, masing-masing berisi satu hingga tiga biji.

Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di adalah Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Di daerah ini apel telah diusahakan sejak tahun 1950, dan berkembang pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain yang banyak dinanami apel adalah Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng dan Tabanan), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman dunia berada di Eropa, Amerika, dan Australia

Gambar 1. Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi)

Klasifikasi tanaman Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi) (Tjitrosoepomo, 2007) yaitu :

Regnum      : Plantae

Divisio        : Spermatophyta

Subdivisio  : Angiospermae

Classis        : Dicotyledoneae

Subclassis   : Dialypetalae

Ordo           : Rosales

Familia       : Rosaceae

Genus         : Malus

Species       : Malus sylvestris Mill

Kondisi lingkungan disekitar tempat budidaya, seperti halnya iklim setempat memiliki pengaruh yang sangat besar atas kelangsungan dan keberhasilan budidaya. Iklim yang menunjang atau sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman apel sangat mendukung keberhasilan budidaya dengan hasil yang optimal. Tanaman apel dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl. dengan ketinggian optimal 1000-1200 m dpl. n signifikan terhadap produktivitas apel. Persyaratan iklim yang dibutuhkan dalam budidaya apel antara lain :

  • Curah hujan

Untuk budidaya tanaman apel, curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Dalam setahun banyaknya bulan basah adalah 6-7 bulan dan bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yang tinggi saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tidak dapat menjadi buah.

  • Cahaya Matahari

Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari yang cukup antara 50-60% setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.

  • Suhu

Suhu yang sesuai untuk budidaya apel berkisar antara 16-27 derajat Celcius. Persyaratan ini dipenuhi oleh daerah-daerah ini dataran tinggi yang banyak dijumpai di Indonesia.

  • Kelembaban Udara

Dalam budidaya tanaman apel, kelembaban udara yang dikehendaki tanaman apel sekitar 75-85%.

III.2 Daerah Asal Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi)

  1. Kondisi Geografi Kabupaten Malang

Kota Malang yang terletak pada ketinggian antara 440 – 667 meter diatas permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya yang berada ditengah-tengah wilayah Kabupaten Malang secara astronomis terletak 112,06° – 112,07° Bujur Timur dan 7,06°- 8,02° Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten Malang
  • Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
  • Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
  • Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang

Serta dikelilingi gunung-gunung :

  • Gunung Arjuno di sebelah Utara
  • Gunung Semeru di sebelah Timur
  • Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat
  • Gunung Kelud di sebelah Selatan
  1. Kondisi Iklim Kabupaten Malang

Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2012 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 23,37°C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 24,60°C dan suhu minimum 21,64°C . Rata kelembaban udara berkisar 79% – 86%. Dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai 40%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Februari, November, Desember. Sedangkan pada bulan Juni dan September curah hujan relatif rendah. Kecepatan angin maksimum terjadi di bulan Mei, September, dan Juli. Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim Kabupaten Malang dalam 12 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini :

Tabel 1. Data Klimatologi Kabupaten Malang 2000-2010

Bulan Curah Hujan Temperatur Penyinaran
Januari 281.27 23.61 48.09
Februari 304.82 23.71 44.79
Maret 262.46 23.65 50.23
Apil 152.24 23.91 63.63
Mei 107.48 23.72 70.26
Juni 31.02 22.87 76.80
Juli 23.59 22.20 80.10
Agustus 19.97 22.13 81.76
September 33.85 23.20 80.72
Oktober 81.70 24.24 72.50
November 223.62 24.83 63.19
Desember 290.09 23.49 42.53

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Malang

III.3 Daerah Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang Diintroduksikan Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi)

  1. Kondisi Geografi Kabupaten Tana Toraja

Tana Toraja terletak di tengah-tengah pulau Sulawesi, salah satu pulau besar berbentuk bintang laut di antara Pulau Kalimantan (Borneo) dan Papua, Indonesia. Secara Geografis, Tana toraja berada pada 2° 40′ LS sampai 3° 25′ LS dan 119° 30′ BT sampai 120° 25′ BT, terletak 311 km sebelah utara kota Makassar. Beberapa kabupaten dilewati jika menuju kabupaten ini diantaranya Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, dan Kota Parepare. Keempat kabupaten tersebut terletak pada dataran rendah yang berbatasan dengan wilayah perairan Selat Makassar di sebelah barat. Sedangkan disebelah timur merupakan jajaran pegunungan yang memanjang dari utara ke selatan.

 

Gambar 2. Peta Administrasi Kabupaten Tana Toraja

Kondisi topografi Kabupaten Tana Toraja merupakan dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan dengan keadaan lerengnya curam yakni rata-rata kemiringan diatas 25 %. Kabupaten Tana Toraja terdiri dari pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah dan sungai dengan ketinggian berkisar antara < 300 m – > 2500 m dpl. Bagian terendah Kabupaten Tana Toraja berada di Kecamatan Bonggakaradeng sedangkan bagian tertinggi berada di Kecamatan Bittuang.

  1. Kondisi iklim Tana toraja

Tana Toraja beriklim tropis. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober – Maret sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April – September. Perubahan iklim dunia dan pengaruh pemanasan global sedikit mempengaruhi pola iklim di Tana Toraja dalam satu dekade terakhir, namun pola dan masa tanam padi yang hampir seluruhnya mengandalkan air hujan tetap belum berubah. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada Desember hingga Januari. Terdapat juga daerah yang hampir selalu terselimuti kabut sepanjang hari di perbatasan dengan daerah Teluk Bone.

Temperatur suhu rata-rata daerah Tana Toraja berkisar antara 15oC – 28oC dengan kelembaban udara antara 82-86 %. Curah hujan rata-rata 1500 mm/thn sampai lebih dari 3500 mm/thn. Daerah Tana Toraja pada dasarnya beriklim dengan dua musim berdasarkan curah hujan yaitu :

  • Musim hujan pada periode Bulan Oktober – Bulan Maret
  • Musim kemarau pada periode Bulan April – Bulan September
  • Letaknya berada di 03° 02′ 33,23’’LS sampai 119° 49’ 15,38’’BT
  • Elevasi stasiun berada di 825 mdpal

Menurut Oldement, tipe iklim Kabupaten Tana Toraja adalah tipe C2 yaitu bulan basah (200 mm) selama 2-3 bulan berturut-turut dan bulan kering (100 mm) selama 2-3 bulan berturut-turut. Hal ini sangat mendukung aktivitas masyarakat pada sector agraris. Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim Kabupaten Tana Toraja dalam 12 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :

Tabel 2. Data Klimatologi Kabupaten Tana Toraja 2000-2010

Bulan Curah Hujan Temperatur Penyinaran
Januari 235.47 22.43 56.72
Februari 236.77 21.99 55.90
Maret 302.06 22.72 59.90
Apil 366.75 22.58 60.63
Mei 218.13 22.28 64.54
Juni 146.46 22.77 56.90
Juli 118.12 22.00 59.00
Agustus 102.59 21.98 67.36
September 95.10 22.34 79.54
Oktober 190.38 22.96 78.27
November 306.10 23.27 72.90
Desember 276.10 22.76 60.54

                        Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika Tana Toraja

 

 

 

 

 

 

  1. Hasil dan Pembahasan
  2. 3 Klimograf Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi)

    IV.3.1 Curah Hujan dan Temperatur

    Data curah hujan bulanan selama 10 tahun dikombinasikan dengan data temperatur bulanan selama 10 tahun yang telah dirata-ratakan pada masing-masing wilayah. Adapun hasilnya dapat dilihat pada table di bawah ini :

    Tabel 8. Curah Hujan Kabupaten dan Temperatur Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang

    Bulan Malang Tana toraja
    Curah Hujan Temperatur Curah Hujan Temperatur
    Januari 281.27 23.61 235.47 22.43
    Februari 304.82 23.71 236.77 21.99
    Maret 262.46 23.65 302.06 22.72
    April 152.24 23.91 366.75 22.58
    Mei 107.48 23.72 218.13 22.28
    Juni 31.02 22.87 146.46 22.77
    Juli 23.59 22.20 118.12 22.00
    Agustus 19.97 22.13 102.59 21.98
    September 33.85 23.20 95.10 22.34
    Oktober 81.70 24.24 190.38 22.96
    November 223.62 24.83 306.10 23.27
    Desember 290.09 23.49 276.10 22.76

    Klimograf Rerata Bulanan Curah Hujan dan Temperatur

    Curah hujan rata-rata yang dibutuhkan Apel Malang Malus sylvestris Mill (Varietas Manalagi) untuk dapat tumbuh adalah sekitar 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Jika dirata-ratakan, curah hujan untuk Kabupaten Tana Toraja adalah sekitar 2879,57 mm/tahun sedangkan untuk Kabupaten Malang sekitar 1797,49 mm/tahun. Untuk temperatur rata-rata yang dibutuhkan apel Malang agar dapat tumbuh adalah 16 °C  – 27 °C. Jika dirata-ratakan, temperatur untuk Kabupaten Tana Toraja adalah sekitar 22,48o C sedangkan untuk Kabupaten Malang sekitar 23,47o C.

    Jika dilihat dari grafik, Kabupaten Tana Toraja yang memiliki temperatur antara 21,87oC- 23,20oC menghasilkan curah hujan yang sangat tinggi hingga mencapai 375,54 mm/bulan sedangkan untuk Kabupaten Malang yang memiliki temperatur berkisar antara 22,08 oC-24,76 oC menghasilkan curah hujan paling tinggi sekitar 304,5 mm/bulan. Berdasarkan grafik tersebut, dapat dilihat bahwa Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang menghasilkan pola yang berbeda. Kabupaten Tana Toraja dengan temperatur yang rendah dan curah hujan tinggi sedangkan Kabupaten Malang memiliki temperatur yang lebih tinggi dengan curah hujan yang lebih rendah. Berdasarkan hasil tersebut, maka untuk parameter temperatur dan curah hujan, Apel Malang yang berasal dari Kabupaten Malang tidak dapat dibudidayakan di Kabupaten Tana Toraja.

    IV.3.2 Curah Hujan dan Lama Penyinaran

    Data curah hujan bulanan selama 10 tahun dikombinasikan dengan data lama penyinaran bulanan selama 10 tahun yang telah dirata-ratakan pada masing-masing wilayah. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

    Tabel 9. Rerata Curah Hujan dan Lama Penyinaran Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang

    Bulan Malang Tana Toraja
    Curah Hujan Penyinaran Curah Hujan Penyinaran
    Januari 281.27 48.09 235.47 56.72
    Februari 304.82 44.79 236.77 55.90
    Maret 262.46 50.23 302.06 59.90
    April 152.24 63.63 366.75 60.63
    Mei 107.48 70.26 218.13 64.54
    Juni 31.02 76.80 146.46 56.90
    Juli 23.59 80.10 118.12 59.00
    Agustus 19.97 81.76 102.59 67.36
    September 33.85 80.72 95.10 79.54
    Oktober 81.70 72.50 190.38 78.27
    November 223.62 63.19 306.10 72.90
    Desember 290.09 42.53 276.10 60.54

    Klimograf Rerata Bulanan Curah Hujan dan Lama Penyinaran

    Lama penyinaran yang dibutuhkan Apel Malang agar tumbuh pada suatu daerah adalah sekitar 50-60% setiap harinya. Jika dirata-ratakan untuk Kabupaten Tana Toraja lama penyinarannya sekitar 64 % sedangkan untuk Kabupaten Malang sekitar 63 %.

    Jika dilihat dari grafik lama penyinaran untuk Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang tidak jauh berbeda sehingga grafiknya hampir berimpit. Yang menyebabkan pola dari kedua grafik tersebut berbeda adalah nilai curah hujan yang berbeda. Pola yang berbeda tersebut menyebabkan untuk parameter lama penyinaran dan curah hujan tidak dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk membudidayakan tanaman Apel Malang di Kabupaten Tana Toraja.

    IV.3.3 Temperatur dan Lama Penyinaran

    Data temperatur bulanan selama 10 tahun dikombinasikan dengan data lama penyinaran bulanan selama 10 tahun yang telah dirata-ratakan pada masing-masing wilayah. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

    Tabel 10. Rerata Temperatur dan Lama Penyinaran Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang

    Bulan Malang Tana Toraja
    Temperatur Penyinaran Temperatur Penyinaran
    Januari 23.61 48.09 23.64 22.43
    Februari 23.71 44.79 23.71 21.99
    Maret 23.65 50.23 23.64 22.72
    April 23.91 63.63 23.86 22.58
    Mei 23.72 70.26 23.70 22.28
    Juni 22.87 76.80 22.80 22.77
    Juli 22.20 80.10 22.14 22.00
    Agustus 22.13 81.76 22.08 21.98
    September 23.20 80.72 23.15 22.34
    Oktober 24.24 72.50 24.27 22.96
    November 24.83 63.19 24.76 23.27
    Desember 23.49 42.53 23.83 22.76

    Klimograf Rerata Bulanan Temperatur dan Lama Penyinaran

    Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa pola yang dihasilkan antara Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang hampir sama. Yang membedakan adalah persentasi lama penyinaran dan temperaturnya. Untuk Kabupaten Tana Toraja lama penyinarannya berkisar antara 56,92% – 79,23% dengan temperatur antara 21,87oC- 23,20oC sedangkan untuk Kabupaten Malang lama penyinarannya berkisar antara 41,51% – 88,59% dengan temperatur antara 22,08oC-24,76oC. Dengan pola yang relatif sama maka dapat disimpulkan bahwa untuk parameter temperatur dan lama penyinaran dapat digunakan sebagai parameter dalam pembudidayaan Apel malang dengan syarat, tidak semua wilayah di Kabupaten Malang yang dapat dijadikan daerah pembudidayaan Apel Malang. Unsur-unsur non meteorologist seperti jenis tanah, topografi adalah faktor yang harus diperhatikan dalam pembudidayaan Apel Malang.

    1. Kesimpulan

    Dari hasil klimograf Apel Malang dari Malang ke Tana Toraja dapat disimpulkan bahwa berdasarkan syarat tumbuh Apel Malang yang diperoleh dari parameter-parameter meteorologistnya seperti curah hujan, temperatur dan lama penyinaran maka dapat disimpulkan bahwa Apel Malang tidak dapat dibudidayakan di Kabupaten Tanah Toraja. Hal ini disebabkan karena curah hujan Kabupaten Tana Toraja yang tidak mencukupi kebutuhan Apel Malang untuk dapat tumbuh. Curah hujan Kabupaten Malang rata-rata per bulan sebanyak 149.79 mm/bulan sedangkan untuk Kabupaten Tana Toraja mencapai 362 mm/bulan. Sedangkan untuk parameter temperatur dan lama penyinaran antara Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Malang tidak jauh berbeda. Meskipun parameter temperatur dan lama penyinaran cukup memenuhi syarat sebagai syarat tumbuh Apel Malang, namun secara umum Apel Malang tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah Tana Toraja. Parameter-parameter non meteorologis juga menjadi pertimbangan penting seperti tipe atau jenis tanah, topografi dan lain-lain untuk dapat membudidayakan Apel Malang di Tana Toraja. Perbedaan topografi menyebabkan perbedaan iklim, sehingga akan mempengaruhi syarat tumbuh apel malang di toraja.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Herniwati dan Kadir,S. 2009. Potensi Iklim,Sumber Daya Lahan dan Pola Tanam di Sulawesi Selatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan

    Kaihatu,S. 2012. Pengaruh Iklim Terhadap Pertanian. Science Inovation Netrwork. Maluku

     

     

     

REVIEW JURNAL INTERNASIONAL TENTANG INTERAKSI KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP”

Published May 25, 2015 by harmin adijaya putri

REVIEW JURNAL INTERNASIONAL

TENTANG INTERAKSI KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

 

Judul                        : Population and Environment Interaction : the Case of Gilgel Abbay Catchment, Northwestern Ethiopia
Penulis                      : Amare Sewnet Minale (PhD)
Publikasi                   : Environmental and Management Vol. 4 (1). 0153-0162, January, 2013
Penelaah                   : Harmin Adijaya Putri
Tanggal Telaah         : 6 Mei 2015
  1. Deskripsi Jurnal
  2. Tujuan Utama Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika populasi pada Daerah Aliran Sungai Gilgel Abbay (GAC), Barat Laut Ethiopia dan melihat korelasi yang terjadi antara ukuran populasi (penduduk) dan unit tutupan lahan pada DAS Gilgel Abbay.

  1. Hasil Penelitian

Analisis perubahan penduduk Ethiopia dapat dibagi menjadi dua bagian utama: sebelum dan sesudah sensus tahun 1984. Data yang tersedia menunjukkan bahwa populasi penduduk telah meningkat empat kali lipat antara tahun 1900 dan 1988. Pada awal abad ke-20 tingkat kelahiran diperkirakan sebesar 0,2 % per tahun. Jumlah penduduk pada tahun 1900 diperkirakan mencapai 11,8 juta orang. Butuh 60 tahun untuk dua kali lipat menjadi 23,6 juta pada tahun 1960 dan hanya butuh 28 tahun untuk kenaikan jumlah penduduk dua kali lipat dari tahun 1960 menjadi 47,3 juta orang dimana angka pertumbuhan sebesar 2,9 % antara tahun 1980 dan 1989. Dua faktor demografi bertanggung jawab terhadap pertumbuhan yang drastis di Ethiopia yaitu angka kelahiran tinggi dan angka kematian perlahan-lahan menurun.

Di Ethiopia sensus penduduk adalah fenomena baru, yang baru diadakan tiga kali yaitu tahun 1984, 1994, dan tahun 2007. Berdasarkan hasil sensus, perkiraan populasi Ethiopia yaitu 79.221.000 orang pada tahun 2008 (CSA, 2008). Ethiopia memiliki penduduk terbesar kedua di Sub Sahara Afrika. Dari jumlah tersebut sekitar 50,5 % adalah laki-laki dan 49,5% adalah perempuan. Ciri khas negara-negara berkembang termasuk di dalamnya Ethiopia yaitu pertumbuhan penduduk sangat pesat dari pembangunan sosio-ekonomi dan ketergantungan masyarakat pada sumber daya lingkungan semakin meningkat sehingga menyebabkan degradasi lingkungan.

Dinamika populasi

Dinamika populasi meliputi perubahan populasi dari waktu ke waktu karena kelahiran, kematian dan migrasi. Kesuburan adalah salah satu dinamika populasi yang menentukan ukuran dan struktur umur dari populasi tertentu. Nilai total tingkat kesuburan (TFR) Ethiopia adalah 5,4. Tingkat kesuburan jauh lebih tinggi di daerah pedesaan dibandingkan perkotaan. Nilai TFR di daerah pedesaan adalah 6,0 yaitu 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan TFR pada daerah perkotaan. Tingkat kematian kasar telah menunjukkan penurunan dalam dua dekade terakhir. Arus Angka kematian ibu (673/100.000) adalah salah satu tertinggi di dunia. Data dari tahun 2005 menunjukkan EDH bahwa kematian bayi telah menurun sebesar 19 % selama 15 tahun terakhir.

Di Ethiopia meskipun, tidak ada data terkait kondisi penduduk di masa lampau, data yang ada menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi menjadi cepat setelah tahun 1950-an. Beberapa variabel demografi tampaknya menurun tetapi masih tertinggi di dunia. Momentum penduduk berpengaruh pada pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang. Hal ini jelas bahwa pertumbuhan yang pesat (tidak sejalan dengan pembangunan sosial-ekonomi) telah mengancam lingkungan negara Ethiopia dan akan berpengaruh pada masa depan.

Penduduk Dan Lingkungan Terkait DAS Gilgel Abbay

Pembuktian ekologi dan ekonomi telah menunjukkan bahwa terjadi kehilangan keanekaragaman hayati dan penurunan produktivitas lahan yang menjadi masalah utama di Ethiopia. Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat menjadi tantangan masa depan Negara ini. Berdasarkan studi EHR, telah terjadi trend yang menakutkan terhadap lingkungan dimana telah terjadi kerusakan lingkungan yaitu sebesar 27 juta ha atau hampir 50% dari wilayah dataran tinggi. Kerusakan lingkungan yang paling parah terjadi di dataran tinggi, terutama di bagian utara karena pertumbuhan eksponensial penduduk, pemukiman yang padat, praktek penggunaan lahan yang masih primitive termasuk pembukaan lahan untuk pertanian dan bahan bakar, serta kurangnya inovasi dalam praktek pertanian. Demikian pula, Amare (2010) pada penelitiannya di DAS Abbay Gilgel ditemukan perluasan pertanian dan pemukiman dan pembukaan lahan akibat dengan peningkatan penduduk di salah satu daerah dataran tinggi Ethiopia. Perubahan tutupan lahan DAS Abbay Gilgel yang dikaitkan dengan faktor-faktor antropogenik semakin meningkat akibat pesatnya jumlah penduduk.

Penduduk pada kabupaten yang termasuk dalam wilayah DAS telah menunjukkan peningkatan yang cepat dan dalam waktu kurang dari 20 tahun. Peningkatan penduduk yang sangat cepat memberi implikasi terhadap sumber daya DAS Gilgel Abbay. Sejalan dengan periode ini, pada DAS telah terjadi perubahan tutupan lahan (land use) dengan sangat cepat karena pertambahan penduduk. Dalam wilayah DAS Gilgel Abbay, sebagian besar penduduk berada di bawah garis kemiskinan dan hidup dengan < 1 ha lahan dimana hasil pertanian sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Pertambahan jumlah penduduk meyebabkan permintaan untuk pertanian dan kebutuhan kayu bakar semakin tinggi sehingga akses terhadap hutan semakin lebar. Kondisi ini telah menyebabkan perluasan pertanian dan lahan pemukiman dengan membersihkan hutan, rumput dan wetland.

Terdapat hubungan antara ukuran populasi (penduduk) dan perubahan tutupan lahan di DAS Gilgel Abbay, Ethiopia. Penduduk pada wilayah kabupaten DAS Gilgel Abbay berkolerasi dengan satuan tutupan lahan (Tabel 1). Ada hubungan positif yang kuat antara ukuran populasi (penduduk) terhadap lahan pertanian dan pemukiman yang ada, terjadi peningkatan jumlah penduduk dan proporsional perluasan lahan pertanian dan pemukiman di DAS Gilgel Abbay. Akan tetapi korelasi antara ukuran populasi (penduduk) dan sumber daya hutan telah menunjukkan korelasi negative yang kuat dengan artian peningkatan ukuran populasi (penduduk), maka terjadi penurunan luasan hutan dan tutupannya (Tabel 1). Ini mengimplikasikan bahwa pertumbuhan penduduk pada wilayah DAS Gilgel Abbay adalah salah satu penyebab konversi hutan, air dan wetland menjadi lahan pertanian dan pemukiman dalam periode ini dan konsekuensinya adalah gangguan terhadap ekosistem pada wilayah DAS Gilgel Abbay, Ethiopia.

Tabel 1. Korelasi antara ukuran populasi (penduduk) dan unit tutupan lahan pada DAS Gilgel Abbay

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kesimpulan Penelitian

Pertumbuhan penduduk yang tidak berkelanjutan di Ethiopia memberi kontribusi terhadap degradasi lingkungan di Negara tersebut, khususnya pada daerah dataran tinggi dengan tingkat kepadatan penduduk yang banyak. Deforestasi, degradasi wetland, pengembalaan yang berlebihan, erosi tanah yang sangat cepat dan biodegradasi di Negara Ethiopia secara langsung dan tidak langsung berhubungan dengan pesatnya pertumbuhan penduduk yang ada. Oleh karena itu, harus ada strategi yang diusulkan untuk memperkuat program Keluarga Berencana (KB) untuk memberikan kaum ibu (wanita) tentang pengetahuan dan sarana untuk mengatur fertilitas mereka ; menekankan pembangunan SDM, khususnya pendidikan, kesetaraan gender dan kesehatan anak, dan mendorong dalam melahirkan dengan mengatasi kebutuhan kaum muda dan momentum pertumbuhan penduduk akibat struktur umur muda.

Prioritas yang mendesak harus dilakukan untuk menahan degradasi lingkungan adalah konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Investasi dalam penelitian pertanian dan teknologi dalam rangka meningkatkan produksi pertanian sementara pada saat yang sama, melindungi lingkungan hidup (alam). Mengembangkan teknik lokal dan praktek diseminasi dalam pengelolaan tanah kepada masyarakat dan kompensasi eksternalitas atas efek yang merugikan yang bisa mempengaruhi sumber daya alam (SDA).

  1. Telaah jurnal          
  2. 1.  Fokus Utama Penelitian

Berdasarkan bagian pendahuluan pada jurnal diketahui bahwa Ethiopia dengan jumlah penduduk 79 juta orang hidup pada luasan geografis 1.1 juta km2 dengan GDP sebesar US $ 6.1 milyar, 39 % diantaranya berasal dari kontribusi dari pertanian, dimana 85 % penduduk sangat tergantung terhadap pertanian sebagai mata pencaharian. Sesuai dengan Indeks Pembangunan Manusia (2010), Ethiopia rangking 157 dan jauh di bawah Negara berkembang, dengan nilai IPM yaitu 0.328. Selama 30 tahun, GDP Ethiopia tumbuh dari 190 ke 398 (USD), sedangkan kenaikan penduduk selama periode ini sangat mengkhawatirkan.

Semenjak tahun 1960, pertambahan jumlah penduduk di Ethiopia sangat cepat karena adanya perubahan kondisi social ekonomi di dunia. CSA (Central Statistics Authority) memproyeksikan bahwa penduduk Ethiopia pada tahun 2015 kemungkinan akan meningkat menjadi 115 juta orang karena tingkat kematian menurun dan tingkat kelahiran meningkat (40 dan 5.4 per seribu). Fakta yang ada bahwa pada umumnya penduduk Ethiopia tersebar pada suatu daerah berdasarkan ketinggian, iklim, dan tanah. Di mana sekitar 90 % penduduk hidup pada daerah dengan ketinggian 1500 meter dan hanya 11 % hidup pada daerah di bawah ketinggian 1500 meter (zona iklim panas), meskipun zona panas meliputi lebih dari setengah wilayah Ethiopia. Hal ini menunjukkan penduduk di Ethiopia tumbuh dengan sangat cepat dan distribusi yang tidak merata dan memiliki implikasi negative terhadap sumber daya lingkungan.

Sejalan dengan social ekonomi yang rendah dan pertumbuhan penduduk yang pesat, terjadi degradasi lahan yang mempengaruhi integritas ekologi Negara tersebut. Contohnya hutan Ethiopia pada awal abad ke-20 seluas 40 %, saat ini telah menurun menjadi 2.2 %. Pertumbuhan penduduk yang pesat dan standar ekonomi penduduk Ethiopia yang rendah telah membawa mereka pada konsekuensi perubahan pengunaan penutupan lahan, perubahan iklim dan status hidrologi di Ethiopia. Studi area penelitian pada daerah DAS Gilgel Abbay yang secara astronomis terletak pada 10°57’ – 11°54’ N dan 36°38’ – 37°23’ E, dimana sekitar 1.5 juta orang hidup di DAS tersebut dan sekitar 90 %, penduduk hidup pada daerah pedesaan yang sangat bergantung terhadap pertanian. Berdasarkan latar belakang yang dikemukan oleh penulis, maka fokus utama penelitian ini adalah pengkajian dinamika populasi pada daerah penelitian (DAS Gilgel Abbay) dan bagaimana penerapan manajemen sumber daya alam yang ilmiah di Ethiopia serta penyeimbangan penduduk dalam mengatasi perubahan iklim dan tantangan globalisasi ekonomi.

  1. 3.   Critical Review

Secara keseluruhan jurnal ini lebih bersifat penelitian informative (experimental study) yakni memberi informasi tentang “Interaksi Penduduk dan Lingkungan Hidup : Studi Kasus DAS Gilgel Abbay, Barat Laut Ethiopia ” yang menjadi fokus utama penelitian dengan mengkaji dinamika populasi yang terjadi.

Penerapan teori yang digunakan dalam jurnal ini adalah Teori Malthus dan Teori Boserupian.

  1. Teori Malthus (Thomas Robert Malthus, 1960)

Menurut Malthus populasi manusia cendurung secara deret ukur sedangkan produksi pertanian pangan hanya tumbuh secara deret hitung. Dengan demikian, pertumbuhan penduduk cenderung melampaui kemampuan produktif sumber daya lahan untuk memenuhi makanan, karena kendala ekologi sumber daya alam (Ehrlich dan Holdren, 1974; Biasa, 1992). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Amare Sewnet Minale di daerah Aliran Sungai Gilgel Abbay (GAC), daerah Barat Laut Ethiopia adalah terjadinya degradasi lingkungan berupa perubahan tutupan lahan di DAS Gilgel Abbay dikaitkan dengan faktor antropogenik terutama dari peningkatan populasi. Data yang ada menunjukkan bahwa bahwa penduduk telah meningkat empat kali lipat antara tahun 1900 dan 1988. Pada awal tahun abad ke 20, tingkat kelahiran diperkirakan 0,2% per tahun. Jumlah populasi pada tahun 1900 diperkirakan 11,8 juta. Butuh 60 tahun untuk menjadi dua kali lipat 23,6 juta pada tahun 1960. Hanya butuh waktu 28 tahun penduduk pada tahun 1960 dua kali lipat menjadi 47,3 juta pada tahun 1988 dan pertumbuhan sebesar 2,9% antara tahun 1980 dan 1989.

Penduduk yang bermukim di sekitar daerah tangkapan air sungai (DAS Abbay) meningkat menjadi dua kali lipat. Sebagian besar penduduk yang menempati wilayah tersebut berada di bawah garis kemiskinan dan hidup kurang dari 1 ha lahan, di mana hasil lahan pertanian sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat antara ukuran populasi dan pertanian dan lahan pemukiman di daerah tangkapan air sungai (DAS Abbay). Ini berarti pertumbuhan populasi di daerah Gilgel Abbay Catchment (GAC) atau tangkapan air sungai (DAS Abbay) adalah salah satu penyebab dari konversi hutan, air, dan lahan basah untuk pertanian menjadi lahan pemukiman yang mengganggu ekosistem DAS.

Kritik teori Malthus:

  1. Malthus tidak memperkirakan kemajuan bidang transportasi yang menghubungkan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya sehingga pengiriman bahan makanan ke daerah yang kekurangan pangan mudah dilaksanakan.
  2. Dia tidak memperhitungkan kemajuan dalam bidang teknologi, terutama dalam bidang pertanian.
  3. Malthus tidak usaha pembatasan kelahiran bagi pasangan yang sudah menikah, artinya pengontrolan kelahiran baginya tidak bermoral.
  4. Fertilitas (kelahiran) akan menurun apabila terjadi perbaikan ekonomi dan standar hidup penduduk dinaikkan.
  5. Teori Boserupian (Ester Boserup, 1981)

Secara eksplisit memperhitungkan perubahan teknologi sebagai alat inovasi bawah tekanan penduduk. Selain itu, Boserup menyarankan bahwa meningkatkan kepadatan populasi merupakan kekuatan terjadinya perubahan teknologi yang memungkinkan produksi pangan untuk memenuhi laju pertumbuhan penduduk. Teori Boserupian berfokus pada hubungan antara tiga faktor: populasi, lingkungan, dan teknologi. Prioritas yang mendesak harus diberikan solusi untuk menangani degradasi lingkungan dan konservasi sumber daya alam, dan kehilangan keanekaragaman hayati. Investasi dalam penelitian pertanian dan teknologi untuk meningkatkan produksi pertanian dan pada saat yang sama juga melindungi alam lingkungan hidup. Mengembangkan teknik lokal dan penyebaran praktek pengelolaan tanah kepada masyarakat dan kompensasi untuk eksternalitas yang mungkin mempengaruhi sumber daya alam.

Kritik Teori Boserupian:

  1. Untuk negera-negara dunia ketiga seperti negara berkembang, teori Boserupian hanya akan mendorong pada keadaan yang lebih rumit, hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk yang cepat tidak dibarengi dengan peningkatan produktifitas sumber daya yang akhirnya berujung pada peningkatan teknologi. Akhirnya limpahan penduduk hanya dapat menjadi objek pasar dari negara-negara maju untuk memasarkan produknya.
  2. Pemakaian lahan pertanian yang lebih sering daripada keadaan sebelumnya dengan maksud mengejar surplus makanan dan pemenuhan kebutuhan publik yang terus meningkat mendorong pengrusakan lahan lebih cepat karena tidak ada masa jeda yang memadai karena mengejar target panen.
  3. Teori Boserupian akan berjalan sangat lamban

Little letter for Mom “Happy Mothers Day Mom”

Published February 12, 2015 by harmin adijaya putri

I dont know what should I do and what should I GIVE IN THIS SPECIAL DAY Mom. I mean every day is special day with you mom. I only hope that Allah always blessing your life, your career, and your health, and blessing your long life and all the best for you. I know that, I cant do anything that will make me paid off all your kindness and your caring during my life till this time.

I know that, I am not a good girl, so I asking for apologize for everything that I’ve done. I always try to make you happy, make you proud of me.

Mom,,,,, I know I’m not perfect as people out there. I’m  not genius. I’m just me. I try hard to make you happy.

Last,, Happy Mothers Day Mom… I love you so much,,, I miss you,,, really miss you….

Mom… Wish you all the best, You still the best mom that I ever had.. such a superwoman…

Thanks everything that you’ve done…

I am sorry for all my mistake, but I promise, I can make you happy and proud of me.

God bless for Us…

Your baby girl…….

Harmin Adijaya Putri

PRACTICAL USE GEOMORPHOLOGY

Published February 12, 2015 by harmin adijaya putri

Pendahuluan

Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan yang menguraikan bentuklahan dan proses pembentukannya dan menyelidikan hubungan antara bentuklahan dengan proses tersebut dalam tatanan keruangannya (Van Zuidam,et al., 1979).

Landscape: Satuan bentuk lahan berdasar asal usulnya: Structural origin, Denudational origin, Volcanic origin, Marine origin, Fluvial origin, Solutional origin, Glacier origin, Aeolian origin, Organic origin, antropogenik

Adapun pendekatan bentuk lahan melalui:

  1. proses genesis (eksogen dan endogen)
  2. material penyusun (batuan dan tanah)
  3. relief/ morfologi (lereng, ketinggian, konfigurasi, panjang lereng, morfometri, arah lereng
  4. struktur (patahan, rekahan, lipatan, vulkanik)

Batuan terdiri dari 3 yaitu :

  1. batuan beku: terbentuk karena pembentukan magma dan lava yang membeku, contohnya batu apung, obsidian, granit, basal, diorit, andesit, gabro, liparit
  2. batuan sedimen: terbentuk karena pengendapan/ hasil pelapukan dan pengikisan batuan yang dihanyutkan air atau terbawa oleh tiupan angin kemudian menjadi keras, contohnya: konglomerat, batu pasir, batu serpih, batu gamping, breksi, stalaktit dan stalakmit, batu lempung,
  3. batuan metamorf: terbentuk dari batuan sedimen dan batuan beku yang mengalami perubahan karena panas dan tekanan, contohnya: batu pualam/ marmer, batuan sabak, gneiss, sekis, kuarsit, milonit

Practical Use Geomorphology Meliputi 4 Aspek Utama Yaitu:

  1. Natural Resource Management (NRM) adalah Pemanfaatan potensi suatu daerah dapat dipilih sesuai dengan kondisi dan bentang lahan suatu daerah. Sebagai contoh yaitu sumber daya lahan dan air.
  2. Lahan adalah areal di permukaan bumi yang tersusun oleh semua kondisi lingkungan yang penting bagi penggunaan lahan.
  • Kemampuan lahan adalah kesanggupan lahan untuk memberikan hasil pertanian pada tingkat produksi tertentu.
  • Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu.
  1. Air: jumlah, kuantitas, kualitas, distribusi/ agihan, kontinuitas

Pengelolaan sumber daya alam sangat penting untuk tetap menjaga keberlanjutan ketersediaan sumberdaya guna pemenuhan kebutuhan manusia. Aspek utama yang mencakup pengelolaan sumber daya alam adalah aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Ketiga spek tersebut harus seimbang dengan pemenuhan kebutuhan manusia dan kelestarian sumber daya tetap terjaga.

  1. Development (pembangunan berkelanjutan/ sustainability) adalah pembangunan yang bertujuan untuk mencukupi atau memenuhi kebutuhan generasi penduduk masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi yang akan datang untuk mencukupi atau memenuhi kebutuhannya. Hal ini sangat penting mengingat kebutuhan manusia sangat tinggi dikarenakan peningkatan populasi penduduk.
  2. Manusia dan lingkungan

Abiotik : meliputi masalah akibat kerusakan lingkungan fisik bencana alam, seperti banjir, longsor, gempa bumi, letusan gunung api, dll.

  1. Biotik: ledakan populasi (blooming) yang dapat mengganggu lingkungan dan mahluk hidup lainnya.
  2. Culture: pergeseran budaya dan paradigma berpikir. Hal ini sangat penting dimana manusia merupakan salah satu agen perubahan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam.
  3. Solution of problem/penyelesaian masalah adalah pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana untuk tetap menjaga kelesatariannya dan penggunaan teknologi berbasis lingkungan.