DORMANSI PADA BIJI

Published December 7, 2012 by harmin adijaya putri

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

            Dormansi biji berhubungan dengan usaha biji untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melakukan proses tersebut. Dormansi  dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embrio. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya (Anonim, 2008).

Pada perkecambahan tumbuhan tidak memulai kehidupan, akan tetapi meneruskan pertumbuhan dan perkembangan yang secara temporer dihentikan ketika biji menjadi dewasa dan embrionya menjadi tidak aktif. Biji jenis lain bersifat dorman dan tidak akan berkecambah, meskipun disesuaikan dalam tempat yang menguntungkan sampai petunjuk lingkungan tertentu menyebabkan biji mengakhiri dormansi tersebut (Goldworthy, 1992).

Dormansi terjadi dalam berbagai bentuk. Banyak biji dorman untuk suatu perioda waktu setelahnya keluar dari buah. Pohon melepaskan daun-daunnya untuk menghindari bahaya pada waktu udara menjadi dingin dan kering serta tanah membeku. Banyak tumbuhan basah, bagian atasnya mati selama perioda musim dingin atau kekeringan, sedangkan bagian yang ada dibawah seperti bulbus, lormus atau umbi tetap hidup, tetapi dalam keadaan dorman (Tim Dosen, 2008).

Untuk mematahkan dormansi pada biji karena kulit biji yang keras perlu dilakukan perlakuan fisik maupun kimia. Hal inilah yang melatarbelakangi sehingga percobaan ini dilakukan.

I.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dilaksanakannya percobaan ini adalah untuk mematahkan dormansi pada biji karena kulit biji yang keras pada biji tanaman jarak pagar Jatropha curcas dengan perlakuan fisik (mengamplas atau mengikir) dan perlakuan kimia (merendam dengan larutan H2SO4, air panas dan air dingin).

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa 14 Oktober 2008, pada pukul 14.00-17.00 WITA, bertempat diLaboratorium Botani dan pengamatan dilakukan selama 4 minggu berturut-turut di Canopy biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Dorman artinya tidur atau beristirahat. Para ahli biologi  menggunakan istilah itu untuk tahapan siklus hidup, seperti biji dorman, yang memiliki laju metabolisme yang sangat lambat dan sedang tidak tumbuh dan berkembang. Dormansi pada biji meningkatkan peluang bahwa perkecambahan akan terjadi pada waktu dan tempat yang paling menguntungkan bagi pertumbuhan biji. Pengakhiran periode dormansi umumnya memerlukan kondisi lingkungan yang tertentu, biji tumbuhan gurun, misalnya hanya berkecambah setelah hujan rintik-rintik yang sedang, tanah mungkin akan terlalu cepat kering sehingga tidak dapat mendukung pertumbuhan biji (Campbell, 2000).

Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut (Anonim, 2008).

Dormansi merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan diri terhadap suhu yang sangat rendah (membeku) pada musim  dingin, atau kekeringan di musim panas yang merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup tumbuhan tersebut. Dormansi harus berjalan pada saat yang tepat, dan membebaskan diri atau mendobrak dan  apabila kondisi sudah memungkinkan untuk memulai pertumbuhan (Salisbury dan Ross, 1995).

Berdasarkan faktor penyebabnya, dormansi dapat dibagi atas dua macam, yaitu Impoised dormancy (quiscense) dan imnate dormancy (rest). Imposed dormancy (quiscence) adalah terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan. Sedangkan imnate dormancy (rest) adalah dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ biji itu sendiri (Dwidjoseputro, 1994).

Berdasarkan mekanisme dormansi dalam biji, dormansi dapat dibedakan atas dua macam, yaitu mekanisme fisik dan mekanisme fisiologis. Mekanisme fisik merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri, terbagi menjadi mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik, fisik : penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel, kimia : bagian biji/buah mangandung zat kimia penghambat. Sedangkan mekanisme fisiologis merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis (Anonim, 2008).

Contoh paling mudah mengenai dormansi adalah adanya kulit biji yang keras yang menghalangi penyerapan oksigen atau air. Kulit biji yang keras itu lazim terdapat pada anggota famili Pabaceae (Leguminosae), walaupun tidak terdapat pada buncis atau kapri, yang menunjukkan bahwa dormansi tidak umum pada spesies yang dibudidayakan. Pada beberapa spesies, air dan oksigen tidak dapat menembus biji tertentu karena jalan masuk dihalangi oleh sumpal seperti gabus (sumpal strofiolar) pada lubang kecil (lekah strofiolar) di kulit biji. Bila biji digoncang-goncang, kadang sumpal itu lepas sehingga dapat berlangsung perkecambahan. Perlakuan itu dinamakan goncangan, dan telah diterapkan pada biji Melilotus alba (semanggi manis), Trigonella arabica, dan Crotallaria egyptica, Albizzia lophantha merupakan tumbuhan kacangan berukuran kecil di Australia Barat bagian barat daya  (Salisbury dan Ross, 1995).

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah (Anonim, 2008) :

–          Jika kulit dikupas, embrio tumbuh

–          Embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah

–          Embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi

–          Perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumbuh kerdil

–          Akar keluar pada musim semi, namun epicotyl baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim dingin)

Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Pada saat pembuahan tabung benang sari memasuki kantung embrio melalui mikropil dan menempatkan dua buah inti gamet jantan padanya. Satu diantaranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu dengan dua inti polar dan hasil penyatuannya, yakni inti sekunder, penyatuan gamet jantan yang lain dengan kedua inti polar menghasilkan inti sel endosperm yang pertama yang akan membelah menghasilkan jaringan endosperm, sedangkan penyatuan gamet jantan dengan sel telur akan menghasilkan zigot yang tumbuh menjadi embrio. Proses yang melibatkan kedua macam pembuahan (penyatuan) tersebut dinamakan pembuahan ganda. Biji masak terdiri dari tiga bagian embrio dan endosperm (keduanya hasil pembelahan ganda, serta kulit biji yang dibentuk oleh dinding bakal biji) termasuk kedua intergumennya (Dwidjoseputro, 1994).

Senyawa penghambat kimia sering juga terdapat dalam biji, dan senyawa penghambat ini harus dikeluarkan lebih dahulu sebelum perkecambahan dapat berlangsung. Di alam, bila terdapat cukup curah hujan yang dapat mencuci penghambat dari biji, tanah akan cucup basah bagi kecambah baru untuk bertahan hidup (Went, 1957). Hal ini khususnya penting di gurun, karena kelembapan lebih menentukan daripada faktor lain seperti suhu. Vest (1972) mendapatkan bahwa biji Atriplex mengandung cukup banyak natrium klorida untuk menghambat perkecambahan biji secara osmotik. biasanya senyawa penghambat lebih rumit daripada garam dapur dan penghambat mewakili berbagai macam kelompok senyawa organik. Beberapa di antaranya adalah kompleks pelepas-sianida (khususnya biji Rosaceae), sedangkan lainnya adalah senyawa pelepas-amonia (Salisbury dan Ross, 1995).

Zat pengahambat ini ada berbagai macam jenisnya. Zat-zat penghambat tersebut pada umumnya dikenal dengan nama inhibitor. Zat-zat penghambat ini akan menunda terjadinya perkecambahan, meskipun kondisi lingkungan sudah sangat mendukung untuk terjadinya suatu proses perkecambahan (Tjitrosoma, 1984).

Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Preatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio (Anonim, 2008).

Pemecahan kulit biji dinamakan skarifikasi atau penggoresan. Untuk itu digunakan pisau, kikir dan kertas amplas. Di alam, goresan tersebut mungikin terjadi akibat kerja mikroba, ketika biji melewati alat pencernaan pada burung atau hewan lain, biji terpajan pada suhu yang berubah-ubah, atau terbawa air melintasi pasir atau cadas. Di laboratorium dan bidang pertanian (bila perlu) digunakan alkohol atau pelarut lemak lain (yang menghilangkasn badan berliln yang kadang  menghalangi masuknya air) atau asam pekat. Sebagai contoh, perkecambahan biji kapas dari berbagai tanaman kacangan tropika dapat sangat dipacu dengan merendam biji terlebih dahulu dalam asam sulfat selama beberapa menit sampai satu jam, dan selanjutnya dibilas untuk menghilangkan asam itu (Salisbury dan Ross, 1995).

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk memetahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam. Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, melanis, maupun chemis (Anonim, 2008).

Skarifikasi secara ekologi sangat penting. Waktu yang diperlukan untuk menuntaskan skarifikasi secara alami dapat mencegah terjadinya perkecambahn dini pada musim gugur atau selama periode panas yang tidak lazim pada musim dingin. Skarifikasi dalam alat pecernaaan burung atau hewan lain menyebabkan perkecambahan biji setelah biji tersebar lebih luas. Biji yang tercuci selama terbawa aliran air di gurun tidak hanya di gurun tidak hanya mengalami skarifikasi, tetapi sering berakhir ditempat yang banyak mengandung air. Dean Vest (19720 memperlihatkan hubungan simbiosis dan mutualisme antara fungi dan biji Atriplez confertifolia yang tumbuh di kulit biji, merekahkan kuli tiu sehingga perkecambahan dapat berlangsung. Pertumbuhan fungi terjadi hanya bila kondisi suhu dan kelembapan sesuai baginya selama awal musim semi, yaitu waktu yang paling  tepat bagi kecambah untuk dapat bertahan hidup (Salisbury dan Ross, 1995).

Ahli fisiologi benih biasanya menetapkan perkecambahan sebagai suatu kejadian yang diawali dengan imbibisi dan diakhiri ketika radikula (akar lembaga) atau kotiledon atau hipokopotil memanjang atau muncul melewati kulit biji. Biji dapat tetap viabel (hidup), tetapi tak dapat berkecambah atau tumbuh karena beberapa penyebab, baik itu berasal dari luar maupun dari dalam biji itu sendiri. Peristiwa ini kemudian kita kenal dengan istilah dormansi biji. Dormansi pada biji merupakan suatu peristiwa dimana biji tertahan atau terhambat untuk berkecambah. Dormansi pada biji ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya biji yang belum matang dalam hal ini adalah embrio yang masih immature, kondisi lingkungan yang tidak mendukung untuk terjadinya suatu proses perkecambahan, dan lain-lain (Goldworthy, 1992).

Apakah yang menyebabkan biji pada buah tomat yang masak tidak berkecambah dalam buah? Padahal, suhunya biasanya sangat sesuai dan kelembapan serta oksigennya pun cukup. Bila biji dikeluarkan dari buah, dikeringkan, dan ditanam, biji itu segera berkecambah; ini menunjukkan bahwa biji itu segera berkecambah jika diambil langsung dan dibiarkan mengambang di atas permukaan air. Di dalam buah, potensial osmotik buah terlalu negatif untuk perkecambahan. Zat penghambat khusus mungkin juga ada, persis seperti ABA dalam endosperma yang sedang berkembang dari biji afalfa, yang berfungsi sebagai penghambat perkecambahan embrio. Buah lain menyaring panjang gelombang yang diperlukan untuk untuk perkecambahan (Salisbury dan Ross, 1995).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2008, Dormansi biji, http:// http://www.google.com/ elisa.ugm.ac.id/ diakses pada hari senin, tanggal 13 Oktober 2008, pukul 21.00 WITA.

 

Campbell, N., A., Reece, J., B., dan Mitchell, L., G. 2000, Biologi Edisi Kelima Jilid 2, Erlangga, jakarta.

 

Dwidjoseputro, D., 1994, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Goldsworthy, F.R., dan Fisher, 1992, Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik, UGM Press, Yogyakarta.

 

Salisbury, Frank B dan W. Ross, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 3, ITB, Bandung.

 

Tim Dosen, 2008, Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

Tjitrosoma, S.S., 1984, Botani Umum 3, Angkasa, Bandung.

 

BAB III

METODOLOGI

 

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah  amplas, botol selai (5 buah), polybag (5 buah).

III.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain biji Jarak pagar Jathropa curcas, larutan H2SO4, pupuk kandang, tanah, air panas, air dingin, air biasa, tissue, dan kertas label.

III.2 Cara Kerja

            Cara kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Membagi biji Jarak pagar Jathropa curcas menjadi 5 kelompok masing-masing 5 biji.
  2. Menghilangkan sebagian kulit biji pada bagian yang tidak ada lembaganya dengan alat gosok kemudian merendam biji dengan air dalam botol selama 10 menit pada kelompok I.
  3. Merendam biji dengan H2SO4 pekat selama 10 menit, kemudian mencuci biji dengan air pada kelompok II.
  4. Merendam biji dengan air panas dalam botol selama 10 menit pada kelompok III.
  5. Merendam biji dengan air dingin dalam botol selama 10 menit pada kelompok IV.
  6. Merendam biji dengan air biasa dalam botol selama 10 menit pada kelompok V.
  7. Mengisi polybag dengan tanah dan pupuk kandang dan menanam biji-biji tadi ke dalam polybag.
  8. Melakukan pengamatan setiap hari selama 4 minggu.
  9. Menyiram tanaman secara rutin dan melakukan pengukuran terhadap tinggi dan jumlah tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

IV.1 Hasil

Hasil pengamatan dormansi biji

Polibag/

Perlakuan

Tanaman Minggu
Awal I II III IV
I / Dikikir 1 0 cm 9 cm 23,5 cm 24,3 cm 25 cm
2 0 cm 10 cm 21 cm 23,5 cm 24 cm
II/ H2SO4 1 0 cm 11 cm 25 cm 26,5 cm 27,5 cm
2 0 cm 10 cm 25,5 cm 26,7 cm 27,4 cm
3 0 cm 12 cm 24 cm 26,5 cm 27,5 cm
III/ Air panas 1 0 cm 12 cm 26 cm 27 cm 27 cm
IV/ Air Dingin 1 0 cm 12 cm 24,2 cm 26 cm 26 cm
2 0 cm 10 cm 24,3 cm 25,3 cm 25,8 cm
3 0 cm 11 cm 25,6 cm 26 cm 26,3 cm
4 0 cm 13 cm 21,5 cm 21,8 cm 22 cm
5 0 cm 12,5 cm 22 cm 23 cm
V/ Air biasa 1 0 cm 2 cm 23 cm 25,5 cm 26 cm
2 0 cm 3 cm 22,5 cm 23,8 cm 24 cm
3 0 cm 2 cm 21,5 cm 22,5 cm 23,5 cm
4 0 cm 19,5 cm 21,5 cm 22 cm
5 0 cm 13 cm 15 cm

 

IV.2 Pembahasan

Dormansi dapat didefinisikan sebagai suatu pertumbuhan dan metabolisme yang terpendam, dapat disebabkan oleh lingkungan yang tidak baik atau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Seringkali jaringan dorman gagal tumbuh meskipun berada dalam kondisi yang ideal.

Setelah dilakukan percobaan ini selama 4 minggu, hasil yang didapat pada perlakuan I dengan cara dikikir, ternyata hanya 2 biji tanaman saja yang tumbuh dari 5 biji. Selain itu, pertumbuhan rata-ratanya pada minggu I adalah 9,5 cm, minggu ke II 22,25 cm, minggu III 23,9 cm, dan minggu IV 24,5 cm. Hal ini dapat terjadi karena pertumbuhannya mengalami dormansi yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi didalam organ biji itu sendiri(Imnate dormancy). Dimana biji yang telah dikikir kulitnya seharusnya akan mengalami pertumbuhan yang baik karena dengan mengupas bijinya, penyerapan air dan zat hara lain untuk perumbuhannya tidak terganggu sedangkan kondisi lingkungan disekitarpun ikut mendukung pertumbuhan biji jarak pagar Jatropha curcas. Tetapi yang terjadi dari perlakuan I, hanya 2 biji saja yang tumbuh dan pertumbuhannya kurang. Hal ini menandakan bahwa biji pada perlakuan I mengalami dormansi karena keadaan atau kondisi biji itu sendiri.

            Pada perlakuan II dengan perendaman H2SO4, hanya 3 biji saja yang dapat tumbuh dari 5 biji. Rata-rata pertumbuhannya pada minggu I adalah 11 cm, minggu II adalah 24, 83 cm, minggu III adalah 26, 57 cm, dan minggu terakhir adalah 27, 46 cm. Hal ini dapat terjadi karena biji mengalami dormansi oleh adanya zat kimia penghambat dari asam sulfat sehingga hanya 3 biji saja yang dapat tumbuh sedangkan yang lainnya tidak dapat tumbuh. Ketiga biji tersebut dapat bertahan untuk tumbuh karena mempunyai kulit biji yang keras sehingga dapat bertahan pada kondisi lingkunga yang tidak mendukung.

Pada perlakuan III dengan perendaman air panas, hanya 1 biji jarak pagar Jatropha curcas yang dapat tumbuh dengan pertmbuhan yang baik pada minggu I yakni 12 cm, minggu II adalah 26 cm, minggu III dan IV adalah 27 cm. Hal ini terjadi karena biji mengalami dormansi oleh suhu yang tinggi. Dimana pertumbuhan yang baik pada biji terjadi pada suhu normal dan rendah. Selain itu, pertumbuhan 1 biji ini baik karena kulit biji yang keras sehingga dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang tidak mendukung dan tidak terjadi kompetisi perebutan makanan.

Pada perlakuan V, biji dengan merendamkan pada air biasa cukup baik jika dibandingkan dengan ketiga perlakuan diatas. Hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan pada minggu I yang tinggi dengan rata-rata 2,5 cm, walaupun hanya 3 biji yang dapat tumbuh. Tetapi pada minggu II, hampir semua biji (4 biji) dapat tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan 21,62 cm, walaupun ada 1 biji yang mengalami pertumbuhan yang lambat dibandingkan dengan keempat biji lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena perebutan makanan dengan keempat biji yang lainnya. Tetapi, semua biji dapat tumbuh pada minggu III dan IV yaitu dengan rata-rata pertumbuhan 21,26 dan 22,1 cm. Dapat dilihat bahwa 1 biji pada minggu II dan III mengalami perlambatan pertumbuhan karena terjadi perebutan makanan. Dalam kondisi seperti ini, biji jarak pagar Jatropha curcas tidak mengalami dormansi.

Pada perlakuan IV, biji dengan merendamkan pada air dingin sangat baik jika dibandingkan dengan keempat perlakuan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat pada pertambahan pertumbuhan yang terus meningkat dari minggu ke minggu. Pada minggu I yang tinggi dengan rata-rata 11,5 cm, walaupun hanya 1 biji yang belum dapat tumbuh. Tetapi pada minggu II, semua biji dapat tumbuh sangat baik dengan rata-rata pertumbuhan 21,62 cm dibandingkan dengan keempat perlakuan diatas, walaupun ada 1 biji yang mengalami pertumbuhan yang lambat dibandingkan dengan keempat biji lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena perebutan makanan dengan keempat biji lainnya. Sedangkan pertumbuhan rata-rata pada minggu III adalah 24,22 cm dan minggu  IV adalah 24, 62 cm. Pada kondisi seperti ini juga, biji jarak pagar Jatropha curcas mengalami pertumbuhan yang baik, walaupun ada 1 biji yang mengalami perlambatan pertumbuhan karena terjadi kompetisi perebutan makanan. Dengam kata lain, biji jarak pagar Jatropha curcas pada kondisi seperti ini tidak mengalami dormansi.

Dari kelima perlakuan, hanya perlakuan IV dengan perendaman air dingin diikuti dengan perlakuan V yang pertumbuhannya tidak mengalami dormansi. Hal ini karena pada saat kondisi lingkungan yang seperti itulah yang dibutuhkan biji tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik sehingga pertumbuhan biji jarak pagar Jatropha curcas didukung oleh lingkungan, yakni suhu yang rendah. Selain itu, tidak adanya zat penghambat serta kondisi atau keadaan organ yang baik. Selain perlakuan IV dan V, perlakuan I dengan cara mangikir atau mengamplas kulit biji yang keras dapat mematahkan dormansi karena dengan cara itu biji dapat menyerap air dan zat hara dengan baik, hanya saja kondisi dari biji itu sendiri yang tidak mendukung pertumbuhan sehingga mengalami dormansi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

V.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pematahan  dormansi dapat dilakukan dengan cara perlakuan fisik dengan cara mengamplas atau mengikir dan perlakuan kimia dengan cara merendamkan dalam (H2SO4, air dingin dan air panas).

V.2 Saran

Sebaiknya asisten mendampingi praktikan ketika praktikum berlangsung sehingga praktikan dapat melaksanakan praktikum drngan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN

 

 

PERCOBAAN I

DORMANSI PADA BIJI

 

 

NAMA           : HARMIN ADIJAYA PUTRI

NIM                : H 411 10 251

KELOMPOK        :

ASISTEN       :

 

 

 

 

 

 

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: