hormon auksin

Published December 7, 2012 by harmin adijaya putri

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar belakang

Dalam suatu proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan telah diketahui bahwa pertumbuhan tanaman dapat dipengaruhi oleh hormon-hormon. Hormon mampu mempercepat pertumbuhan namun mampu pula menghambat pertumbuhan tanaman tersebut. Dalam pertumbuhan  dan perkembangan tanaman perlu adanya mekanisme kerja dalam tanaman untuk mengatur kadar hormon tanaman pada tingkat yang efektif pada jaringan-jaringan tertentu dari tanaman (Dwidjoseputro, 1988).

Auksin merupakan hormon terhadap tumbuhan yang mempunyai peranan luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Konsentrasi auksin tertinggi dijumpai pada meristem (akar, batang) yang aktif tumbuh dan daun muda. Auksin diangkut dari daerah meristem konsentrasinya semakin rendah, demikian juga pada jaringan yang telah dewasa dan telah berhenti memanjang. Sifat penting auksin adalah berdasarkan konsentrasinya, dapat merangsang dan menghambat pertumbuhan. Auksin berperan penting dalam perubahan dan pemanjangan sel. Pada permukaan akar, auksin akan mempengaruhi jaringan meristem primordial akar dalam jaringan batang (Tim Dosen, 2008).

Untuk melihat dan memahami lebih lanjut mengenai pengaruh hormon tumbuh (auksin) terhadap pemanjangan jaringan akar dan batang, maka percobaan ini perlu dilakukan.

I.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dilaksanakannya percobaan ini adalah untuk melihat pengaruh hormon tumbuh (auksin) terhadap pemanjangan jaringan akar dan batang pada kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa 21 Oktober 2008, pada pukul 14.00-17.00 WITA, pengamatan dilakukan selama dua hari dilaboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universutas Hasanuddin, Makassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan oleh beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah hormon sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan dan sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Rangsangan lingkungan akan memicu terbentuknya hormon tumbuhan dan bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi (Anonim, 2008).

Istilah auksin dari bahasa Yunani auxein yang artinya meningkatkan, pertama kali digunakan oleh Frits Went, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin menyebabkan pembengkokan koleoptil oat kearah cahaya. Fenomena pembengkokan ini yang disebut fototropisme. Senyawa yang ditemukan Went didapati cukup banyak di ujung koleoptil. Auksin yang ditemukan Went kini diketahui sebagai asam indolasetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakan IAA dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung tiga senyawa lain yang strukturnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA, ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai hormone auksin. Penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa urine manusia maupun hewan yang terutama habis makan zat-zat makanan yang berasal dari tumbuhan pun mengandung auksin, bahkan tiga macam yaitu auksin-a, auksin-b, dan suatu zat yang disebut hetero-auksin yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah asam indolasetat (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin yang ditemukan Went, kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakannya dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang struktrurnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa-senyawa tersebut adalah asam 4-kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA) (Dwidjoseputro, 1990).

Selain senyawa-senyawa tersebut diatas, ada tiga senyawa lainnya yang ditemukan pada banyak tumbuhan dan mempunyai aktivitas auksin yang tinggi. Ketiganya mudah teroksidasi menjadi IAA invivo dan barangkali hanya aktif setelah peralihan tersebut. Ketiga senyawa tersebut belum dikelompokkan sebagai auksin. Mereka adalah indolasetaldehid, indolsetonitril dan indoletanol. Masing-masing memiliki struktur serupa dengan auksin, hanya saja mereka tidak memiliki gugus karbonil (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin adalah hormon pertumbuhan yang pada umumnya berfungsi menambah panjang pada tanaman. Auksin merupakan hormon tumbuhan yang mempunyai peranan luas terhadap Pertumbuhan dan perkembangan jaringan tumbuhan. Konsentrasi auksin tertinggi dijumpai pada meristem akar, batang yang aktif tumbuh dan daun muda. Auksin diangkut dari tempat produksinya, semakin jauh auksin diangkut dari daerah meristem konsentrasinya semakin rendah, demikian juga terhadap jaringan yang telah dewasa dan telah berhenti memanjang (Dwidjoseputro, 1998).

Kerja hormon auksin sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberilin. Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat sehingga hal ini menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut fototropisme. Untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap, pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. Sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari (Anonim, 2008).

Cara pengangkutan auksin atau IAA ini memiliki beberapa keistimewaan yang berbeda dengan pengangkutan floem. Beberapa keistimewaan tersebut antara lain (Goldsworhty, 1992) :

  1. Pergerakan auksin itu lambat

Pergerakan auksin hanya sekitar 1 cm/jam di akar dan di batang tumbuhan.

  1. Pengangkutan berlangsung secara polar

Pada batang arahnya lebih sering batipetal (mencari dasar), tanpa menghiraukan dasar tersebut berada dalam posisi normal ataupun terbalik. Pengangkutan diakar juga berlangsung secara polar, tetapi arahnya akropetal (mencari apex atau ujung).

  1. Pengangkutan memerlukan energi hasil metabolisme

Pergerakan auksin ini memerlukan energi metabolisme berupa adenosine triphospat (ATP). Hal ini ditunjukkan dengan terhambatnya pergerakan auksin apabila ditemukan zat-zat penghambat sintesa ATP. Zat-zat penghambat tersebut antara lain adalah asam 2,3,5-triodobenzoat (TIBA) dan asam alfa naftilamat (NPA). Meskipun kedua senyawa tersebut tidak terlibat langsung dalam penghambatan pergerakan senyawa auksin, namun senyawa-senyawa tersebut sering disebut senyawa antiauksin.

Para ahli fisiologi telah meneliti pengaruh auksin dalam proses pembentukan akar lazim, yang membantu mengimbangkan pertumbuhan sistem akar dan system tajuk. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal pertumbuhan akar. Bila daun muda dan kuncup, yang mengandung banyak auksin, dipangkas maka jumlah pembentukan akar sampling akan berkurang. Bila hilangnya organ tersebut diganti dengan auksin, maka kemampan membentuk akar sering terjadi kembali. Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu, misalnya tanaman apel (Pyrus malus), telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh apabila dipacu dengan auksin (Salisbury dan Ross, 1995).

Tumbuhan bunga pada suatu tanaman itu tergantung kepada faktor-faktor dalam maupun faktor-faktor luar. Lebih dahulu tanaman harus mencapai kedewasaannya untuk dapat menghasilkan bunga. Di samping itu faktor luar seperti temperatur, panjang pendeknya hari mempunyai pengaruh besar. Apakah auksin juga mempunyai sangkut paut langsung di dalam pertumbuhan bunga, hal ini masih di dalam taraf penyelidikan. Gustafon (1936) menemukan suatu kejadian yang sangat mengasyikkan para pengasuh kebun buah-buahan. Untuk menimbulkan buah pada beberapa species tanaman tak perlu adanya penyerbukan, cukuplah kepala putik disemprotkan dengan larutan IAA atau ditempel dengan pasta yang berisi IAA. Bakal buah tumbuh dengan baik menjadi buah yang tidak berbiji. Dengan demikian diperolehlah buah tomat,apel, dan lain-lainnya yang tidak mengandung biji. Laibach (1933) menemukan khasiat auksin yang berupa kemampuan mencegah gugurnya daun dan buah, dengan cara menyemprotkan larutan IAA  (Dwidjoseputro, 1990).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2008, Hormon tumbuhan, http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon_tumbuhan

Diakses pada hari senin, tanggal 20 Oktober 2008, pukul 18.30 WITA.

Anonim, 2008, Auksin, http://id.wikipedia.org/wiki/Auksin Diakses pada hari senin,

Tanggal 20 Oktober 2008, pukul 18.30 WITA.

Dwidjoseputro, D., 1990, Pengantar Fisiologi TumbuhanPT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Goldsworthy, Frank R., dan Fisher, 1992, Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik, UGM Press, Yogyakarta.

 

Salisbury, Frank B., dan Ross, C.W., 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.

 

Tim Dosen, 2008, Penuntun praktikum Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi

Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

III.1.   Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

            Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi (20 buah), gelas ukur 100 ml (2 buah), gelas ukur 500 ml (1 buah), pipet tetes, mistar besi, silet, dan rak tabung (2 buah).

 

III.1.2   Bahan

            Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus, hormon auksin (NASA), aquadest, tissue dan kertas label.

 

III.3.   Cara kerja

Cara kerja dari percobaan ini, adalah :

  1. Menyediakan kecambah sebanyak 10 buah, yang telah dipilih dengan ukuran yang hampir sama.
  2. Membuat masing-masing 10 potongan hipokotil sepanjang 5 mm dimulai dari 2 mm dari kotiledon dan 2 mm setelah leher akar.
  3. Mengukur panjang potongan dengan tepat dengan menggunakan penggaris satuan millimeter.
  4. Membuat larutan auksin (NASA) dengan cara melakukan pengenceran dengan kadar 0.01 – 0.09 M.
  5. Merendam potongan-potongan tadi dalam larutan auksin pada kadar yang berbeda selam 48 jam. Sebagai kontrol potongan direndam dalam aquadest.
  6. Setelah 48 jam, mengambil potongan batang dan akar lalu mengukur panjangnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN PENGENCERAN

 

0.09 = 360 (0,1) + 40 aq

0,08 = 320 (0,09) + 40 aq

0,07 = 284 (0,08) + 36 aq

0,06 = 252 (0,07) + 32 aq

0,05 = 225 (0,06) + 28 aq

0,04 = 200 (0,05) + 25 aq

0,03 = 178 (0,04) + 22 aq

0,02 = 158 (0,03) + 20 aq

0,01 = 141 (0,02) + 18 aq

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

IV.1.   Hasil Pengamatan

            Tabel I hasil pengamatan untuk batang :

Konsentrasi (M) Pertambahan Panjang Batang (cm)
0,1 0,5
0.01 0,7
0,02 0,8
0,03 0,9
0,04 1,8
0,05 0,8
0,06 0,7
0,07 1,2
0,08 0,5
0,09 0,7
Kontrol 0,6

 

Tabel II Hasil Pengamatan untuk akar :

Konsentrasi Pertambahan Panjang akar (cm)
0,1 1,2
0.01 0,6
0,02 0,7
0,03 0,7
0,04 0,8
0,05 6,5
0,06 4,5
0,07 6
0,08 2,5
0,09 7
Kontrol 0,6

 

IV.2.   Pembahasan

            Percobaan ini dilakukan dengan merendam batang dan akar dari kacang hijau (Phaseolus radiatus) dalam berbagai konsentrasi auksin dan aquadest (kontrol) selama 48 jam.

Tabel I menunjukkan pertambahan panjang pada batang, yang mana terjadi pertambahan optimum pada batang yang direndam dalam auksin dengan konsentrasi 0,04 M dengan pertambahan panjang 1,8 cm dan konsentrasi 0,07 M dengan panjang 1,2 cm. Pertambahan panjang terendah terjadi pada konsentrasi auksin 0,1 M dan 0,08 M yaitu 0,5 cm. Pertambahan panjang batang yang sama juga terjadi pada konsentrasi 0,09 M dan 0,06 M yaitu 0,7 cm dan konsentrasi 0,05 M dan 0,02 M yaitu 0,8 cm. Sedangkan pada konsentrasi 0,03 M juga terjadi pertambahan panjang yaitu 0,9 cm. Pertambahan panjang  pada batang kacang hijau Phaseolus radiatus yang direndam pada auksin dengan berbagai konsentrasi menunjukkan pertumbuhan, namun pertumbuhannya tidak sama pada setiap konsentrasi.

Tabel II menunjukkan pertambahan panjang pada akar, yang mana terjadi pertambahan optimum pada akar yang direndam dalam auksin dengan konsentrasi 0,05 M, 0,07 M, dan 0,09 M dengan pertambahan panjang 6,5, 6, dan 7 cm. Pertambahan panjang terendah pada konsentrasi auksin 0,01 M yaitu 0,6 cm. Pertumbuhan panjang yang sama terjadi pada konsentrasi 0,02 dan 0,03 M yaitu 0,7 cm. Pertambahan panjang juga terjadi pada konsentrasi 0,1, 0,04, 0,06, dan 0,06 M dengan panjang akar yaitu 1,2, 0,8, 4,5, dan 2,5 cm.            Pertambahan panjang  akar pada batang kacang hijau Phaseolus radiatus yang direndam pada auksin dengan berbagai konsentrasi menunjukkan pertumbuhan, namun pertumbuhannya tidak sama pada setiap konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa auksin merupakan hormon pertumbuhan yang yang dapat memacu pertumbuhan akar dan batang karena mengandung IAA (Asam Indole Asetat) yang dapat memacu pembelahan moristematik bagian apical (ujung) namun harus dalam konsentrasi yang tepat, karena apabila konsentrasinya tidak tepat atau dalam hal ini kurang ataupun lebih, maka kerja auksin tidak optimum bahkan dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh kurang optimum, karena secara teori pertumbuhan jaringan pada akar dan batang akan lebih cepat jika konsentrasi auksin yang diberikan rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena telah terjadi kesalahan ketika proses pengenceran konsentrasi auksin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :

NASA (Auksin) merupakan hormon pertumbuhan yang dapat memacu pembelahan meristematik bagian apikal ujung pada koonsentrasi yang tepat tetapi berdasarkan percobaan yang telah dilakukan hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang ada.

V.2 Saran

Sebaiknya asisiten lebih memperhatikan praktikan ketika sedang melakukan pengenceran konsentrasi auksin sehingga kita dapat memperoleh hasil yang maksimal.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: