kecepatan tumbuh

Published December 7, 2012 by harmin adijaya putri

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua istilah yang berbeda maknanya, tetapi sepintas lalu kita mengalami kesulitan untuk membedakannya. Kedua istilah tersebut merupakan dua peristiwa biologis yang terjadi pada makhluk hidup yang senantiasa berbarengan dan saling melengkapi. Pada kenyataannya, kedua istilah tersebut sulit untuk dipisahkan. Kedua proses tersebut terjadi pada semua makhluk hidup. Namun, pola pertumbuhan dan perkembangan pada berbagai makhluk hidup berbeda (Salisbury dan Ross, 1995).

Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran sel atau organisme. Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif terukur. Perkembangan adalah proses menuju kedewasaan pada organisme. Proses ini berlangsung secara kualitatif.Baik pertumbuhan atau perkembangan bersifat irreversible (Anonim, 2000).

Pertumbuhan menunjukkan suatu pertambahan dalam ukuran dengan menghilangkan konsep-konsep yang menyangkut perubahan kualitas seperti halnya pengertian mencapai ukutan penuh (full size) atau kedewasaan (maturity) yang tidak relevan dengan pengertian proses pertumbuhan. Pertumbuhan dapat diukur sebagai pertambahan panjang, lebar, atau luas, tetapi dapat diukur berdasarkan pertumbuhan volume, massa atau berat. Pola pertumbuhan dapat dibagi dalam tiga fase pertumbuhan yaitu fase logaritmik atau fase eksponensial, fase linier dan fase penurunan kadar cepat pertumbuhan yang disebut penuaan (Tim Dosen, 2008).

Untuk mengamati pertumbuhan daun ketika masih dalam kuncup embrio perlu dilakukan suatu percobaan. Hal inilah yang melatar belakangi sehingga percobaan ini dilakukan.

I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengamati pertumbuhan daun ketika masih dalam kuncup embrio pada kecambah kedelai Soja max yang direndam dalam larutan fungisida.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 28 Oktober 2008, pukul 14.00 – 17.00 WITA dan pengamatan dilakukan selama 10 hari di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Secara umum pertumbuhan dan pekembangan pada tumbuhan diawali untuk stadium zigot yang merupakan hasil pembuahan sel kelamin betina dengan jantan. Pembelahan zigot menghasilkan jaringan meristem yang akan terus membelah dan mengalami diferensiasi. Diferensiasi adalah perubahan yang terjadi dari keadaan sejumlah sel, membentuk organ-organ yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda (Anonim, 2000).

Dalam pertumbuhan suatu organisme, biasanya dapat dibedakan ke dalam beberapa periode. Periode pertama adalah: periode lamban dengan ciri adanya sedikit pertumbuhan, atau tidak ada pertumbuhan yang sebenarnya. Dalam periode ini, organisme sedang mempersiapkan diri untuk tumbuh. Misalnya, sebutir biji yang sedang menyerap air untuk persiapan perkecambahan, dan Eschercia coli yang sedang menyintesis enzim dengan cara merombak substratnya adalah periode lamban. Periode lamban diikuti dengan periode logaritma atau periode eksponen. Pada pertumbuhan ini, mulailah pertumbuhan yang mula-mula lambat tetapi kemudian cepat. Laju kecepatan yang berangsur-angsur pada pertumbuhan pada pertumbuhan dapat dipahami, bila kita ingat pada sebagian kasus, hasil pertumbuhan, benda hidup itu sendiri, mampu tumbuh lebih lanjut. Jadi, organisme membesar menurut progresi geometri, perlipatan dan perlipatan lagi dalam ukurannya. Progresi yang  demikian dinyatakan dalam aljabar dengan eksponen (logaritma), karena itu fase ini disebut fase eksponen. Organisme yang berbeda membutuhkan waktu yang sangat bervariasi untuk meningkatkan ukurannya menjadi dua kali lipat dan seterusnya. Periode tersebut tidak terjadi terus menerus hingga beberapa masa selanjutnya segera memasuki periode perlambatan. Sekarang pertumbuhan menjadi lebih lambat dan akhirnya berhenti sama sekali (Kimball, 1992).

Pertumbuhan merupakan proses pertambahan ukuran (volume, massa, tinggi atau panjang) yang bersifat kuantitatif artinya dapat dinyatakan dengan suatu bilangan. Petumbuhan hewan bersel satu ditandai dengan adanya pertambahan volume sel tubuhnya, sedangkan pada hewan bersel banyak ditandai dengan bertambahnya ukuran atau besar dan jumlah sel. Pertumbuhan pada tumbuhan dibedakan menjadi 2, yakni pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer, sedangkan pertumbuhan sekunder merupakan hasil aktivitas jaringan meristem sekunder (Soedjiran, 1987).

Terdapat 2 macam pertumbuhan, yaitu (Anonim, 2000):

1. Pertumbuhan Primer

Terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung dari tumbuhan seperti akar dan batang.

Embrio memiliki 3 bagian penting :
a. tunas embrionik yaitu calon batang dan daun
b. akar embrionik yaitu calon akar
c. kotiledon yaitu cadangan makanan

2. Pertumbuhan Sekunder

Merupakan aktivitas sel-sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil, gymnospermae dan menyebabkan membesarnya ukuran (diameter) tumubuhan. Mula-mula kambium hanya terdapat pada ikatan pembuluh, yang disebut kambium vasis atau kambium intravasikuler. Fungsinya adalah membentuk xilem dan floem primer. Selanjutnya parenkim akar/batang yang terletak di antara ikatan pembuluh, menjadi kambium yang disebut kambium intervasis. Kambium intravasis dan intervasis membentuk lingkaran tahun Þ bentuk konsentris. Kambium yang berada di sebelah dalam jaringan kulit yang berfungsi sebagai pelindung. Terbentuk akibat ketidakseimbangan antara permbentukan xilem dan floem yang lebih cepat dari pertumbuhan kulit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan terdiri atas faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh tumbuhan sendiri yang berpengaruh terhadap pertumbuhan. Faktor itu dibedakan menjadi 2 yakni faktor intrasel dan intersel. Faktor intrasel terdiri atas sifat menurun atau faktor hereditas, sedangkan yang termasuk faktor intersel adalah hormon. Faktor luar atau ekstern yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah air, tanah dan mineral, kelembaban udara, suhu udara, cahaya, dan lain-lain (Salisbury dan Ross, 1995).

Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan oleh beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah hormon sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan dan sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Rangsangan lingkungan akan memicu terbentuknya hormon tumbuhan dan bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi (Anonim, 2008).

Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Pada saat pembuahan tabung benang sari memasuki kantung embrio melalui mikropil dan menempatkan dua buah inti gamet jantan padanya. Satu diantaranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu dengan dua inti polar dan hasil penyatuannya, yakni inti sekunder, penyatuan gamet jantan yang lain dengan kedua inti polar menghasilkan inti sel endosperm yang pertama yang akan membelah menghasilkan jaringan endosperm, sedangkan penyatuan gamet jantan dengan sel telur akan menghasilkan zigot yang tumbuh menjadi embrio. Proses yang melibatkan kedua macam pembuahan (penyatuan) tersebut dinamakan pembuahan ganda. Biji masak terdiri dari tiga bagian embrio dan endosperm (keduanya hasil pembelahan ganda, serta kulit biji yang dibentuk oleh dinding bakal biji) termasuk kedua intergumennya (Dwidjoseputro, 1994).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat

             Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah  gelas piala 250 ml (1 buah), skalfel, dan kaca pembesar.

III.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah biji kedelai Soja max, pasir, air dan larutan fungisida.

III.2 Cara kerja

Cara kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Menempatkan 20 biji kedelai Soja max kedalam gelas piala.
  2. Menuangkan larutan fungisida sehingga semua biji terendam selama 2 menit.
  3. Mencuci  biji-biji kedela Soja max tersebut dengan air bersih.
  4. Mengisi gelas piala dengan air dan merendam biji-biji tersebut selama 24 jam.
  5. Membelah 5 biji kedelai dengan menggunakan scalpel, membuang kulit bijinya dan membuka bijinya.
    1. Mencari embrionya dengan kaca pembesar.
    2. Mengukur panjang embrio ketiga biji tersebut dan menghitung panjang rata-rata kelima biji tersebut.
    3. Menanam 15 biji kedelai Soja max yang sisa dengan jarak 5 cm dan dalamnya 1,5 cm dalam pasir kemudian menyiram sampai basah.
    4. Menempatkan pot tersebut pada tempat dengan cukup cahaya dan temperatur yang tepat.
    5. Mengukur panjang dua daun pertama yang tumbuh dari tiga tumbuhan. Melakukan pengukuran pada hari ke-3, 6, dan 10 dari tanaman yang sama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

IV.1 Hasil

Biji Panjang Hipokotil
I 0,6 cm
II 0,8 cm
III 0,8 cm

 

IV.2 Pembahasan

Percobaan kecepatan tumbuh dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan hipokotil dari biji kedelai Soja max dimana biji akan direndam selama 2 menit dalam larutan fungisida. Perendaman tersebut bertujuan agar dapat memacu pertumbuhan embrio dalam biji. Setelah itu dilakukan perendaman biji dengan menggunakan air selama 24 jam. Hal ini bertujuan agar embrio dalam biji cepat tumbuh. Setelah proses perendaman selesai, ketiga biji tersebut dibelah dengan menggunakan scalpel, kemudian embrio diukur panjang hipokotilnya.

Dari hasil percobaan dapat diperoleh hasil yaitu biji II dan III memiliki ukuran yaitu 0,8 cm lebih panjang dibanding dengan biji I yaitu 0,6 cm. Hal disebabkan karena kondisi biji II dan III lebih matang atau telah siap untuk melakukan pertumbuhan sedangkan biji I belum matang sehingga tidak mendukung pertumbuhannya sehingga terjadi dormansi (imnate dormansi).

Fugsi auksin (NASA) yaitu sebagai pengatur pembesaran sel dan memacu perpanjangan sel didaerah belakang meristem ujung, juga membantu dalam proses perkecambahan.

faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar berupa air dan mineral, kelembaban, suhu dan cahaya. Faktor dalam meliputi faktor hereditas dan hormon. Yang menyebabkan perbedaan panjang embrio yaitu karena masa dormansi biji yang berbeda-beda, selain perbedaan panjang embrio disebabkan karena keadaan embrio yang tidak matang.

Mekanisme kerja auksin yaitu auksin adalah zat  yang mempercepat pertumbuhan  suatu tanaman dimana dalam hal ini auksin  menyebabkan  sel penerima pada potongan koleoptil mengeluarkan  H+ ke dinding  sel primer yang mengelilinginya dan bahwa ion H+ ini kemudian menurunkan pH pada kacang kedelai soja max,  sehingga  terjadi pengenduran pada dinding sel tersebut, menyebabkan  kotiledonnya keluar dan akan berkembang menjadi individu baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

V.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan hipokotil terpanjang adalah terdapat pada biji kedelai Soja max II dan III dengan panjang 0,8 cm sedangkan hipokotil terpendek adalah pada biji kedelai Soja max I (0,6 cm). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan tumbuh dari tanaman antara lain pengaruh hormon, zat penghambat (inhibitor), suhu, intensitas cahaya, kelembaban dan faktor internal (hereditas) dari dalam tumbuhan itu sendiri.

V.2 Saran

Sebaiknya asisten mendampingi praktikan ketika praktikum berlangsung sehingga praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2000, Pertumbuhan pada tumbuhan, http://www.google.com/0054 Bio 2-3a.htm/ diakses pada hari senin, tanggal 27 Oktober 2008, pukul 19.00 WITA.

 

Anonim, 2008, Hormon tumbuhan, http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon_tumbuhan

Diakses pada hari senin, tanggal 20 Oktober 2008, pukul 18.30 WITA.

 

Dwidjoseputro, D., 1994, Pengantar Fisiologi TumbuhanPT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

 

Kimball, J.W., 1999. Biologi edisi ke lima jilid 2. Erlangga, Jakarta.

 

Salisbury, Frank B dan W. Ross, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 3, ITB, Bandung

Soedjiran, R, 1987. Pengantar Ekologi. Remaja Karya, Bandung.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: